Kejari Banyumas siap hadapi banding terdakwa mutilasi pegawai Kemenag

id kasus mutilasi,terdakwa ajukan banding

Kejari Banyumas siap hadapi banding terdakwa mutilasi pegawai Kemenag

Terdakwa Deni Priyanto saat dibawa petugas usai mengikuti sidang dengan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (2-1-2020). ANTARA/Sumarwoto

Banyumas (ANTARA) - Kejaksaan Negeri Banyumas siap menghadapi banding yang diajukan oleh terdakwa kasus mutilasi, Deni Priyanto alias Goparin (37), atas vonis mati yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Banyumas, Jawa Tengah.

"Itu hak mereka, nanti kami pelajari memori bandingnya, nanti disiapkan kontra memori banding. Berkas putusan nanti diperiksa hakim di Pengadilan Tinggi," kata Kepala Kejari Banyumas Eko Bambang Marsudi di Banyumas, Selasa.

Menurut dia, upaya yang dilakukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Banyumas sudah maksimal dan putusan atau vonis yang dijatuhkan Majelis Hakim PN Banyumas pun sesuai dengan tuntutan JPU.

Baca juga: Terdakwa kasus mutilasi pegawai Kemenag ajukan banding

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa pihaknya hingga Selasa (7/1) siang belum menerima pemberitahuan resmi dari PN Banyumas terkait dengan banding yang diajukan oleh terdakwa kasus mutilasi tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, penasihat hukum yang ditunjuk PN Banyumas untuk mendampingi Deni Priyanto selama menjalani persidangan, Waslam Makhsid mengatakan bahwa pihaknya hanya bertugas mendampingi terdakwa kasus mutilasi tersebut selama menjalani sidang di pengadilan tingkat pertama.

"Hingga saat ini, kami secara pribadi maupun secara lembaga belum menerima surat kuasa sebagai penasihat hukum dari Deni. Kami pun belum tahu apakah Deni sudah menunjuk pengacara atau belum," kata dia yang berasal dari Lembaga Bantuan Hukum Perisai Kebenaran, Banyumas.

Baca juga: Mutilasi pegawai Kemenag, Goparin divonis mati di PN Banyumas

Seperti diwartakan, Pengadilan Negeri Banyumas menerima surat pengajuan banding dari Deni Priyanto alias Goparin pada hari Senin (6/1) atas vonis mati yang dijatuhkan majelis hakim PN Banyumas kepadanya dalam kasus mutilasi yang dia lakukan terhadap seorang pegawai Kementerian Agama bernama Komsatun Wachidah (51).

Juru Bicara PN Banyumas Tri Wahyudi mengatakan bahwa surat pengajuan banding tersebut diantarkan langsung oleh ibunda terdakwa, Tini (66), warga Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara ke PN Banyumas.

"Tadi bersurat sendiri. Surat diantarkan ibunya terdakwa Deni. Pada intinya mengajukan banding," katanya.

Majelis hakim PN Banyumas pada tanggal 2 Januari 2020 menjatuhkan vonis mati terhadap Deni Priyanto alias Goparin (37) yang merupakan terdakwa kasus mutilasi terhadap pegawai Kementerian Agama Komsatun Wachidah (51).

Majelis hakim yang diketuai Abdullah Mahrus serta beranggotakan Tri Wahyudi dan Randi Jastian Afandi menyatakan terdakwa Deni Priyanto bersalah sesuai dengan dakwaan kesatu primer sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHP, dakwaan kedua Pasal 181 KUHP, dan dakwaan ketiga Pasal 362 KUHP.

"Mengadili, satu, menyatakan terdakwa Deni Priyanto alias Goparin bin Yanwili Mewengkang telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana, membawa dan menghilangkan mayat untuk disembunyikan kematiannya, dan pencurian. Dua, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Deni Priyanto alias Goparin bin Yanwili Mewengkang dengan pidana mati," kata Hakim Ketua Abdullah Mahrus saat membacakan amar putusan.

Baca juga: Polres Banyumas rekonstruksi kasus mutilasi PNS
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar