Pramuka Kwarcab Semarang diharapkan jadi panutan kaum milienal

id pramuka, kwarcab,panutan,milenial, semarang

Pramuka Kwarcab Semarang diharapkan jadi panutan kaum milienal

Majelis Pembimbing Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu (tengah) foto bersama dengan anggota Kwarcab Kota Semarang. (Foto: Nur Istibsaroh)

Semarang (ANTARA) - Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Semarang diharapkan dapat menjadi panutan bagi kaum milenial baik di sekolah, keluarga, serta di lingkungan sekitar, sehingga dapat menjadi harapan di masa depan.

"Harapannya mereka bisa menjadi panutan bagi yang lain, karena mereka diajarkan kedisiplinan dan memiliki dasar atau pondasi Pancasila dan UUD 1945," kata Majelis Pembimbing Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Hal tersebut disampaikan Ita, panggilan akrab Hevearita yang juga Wakil Wali Kota Semarang ini pada peringatan 58 tahun Gerakan Pramuka Kwarcab Kota Semarang Tahun 2019 dengan tema Bersama Seluruh Komponen Bangsa Siap Sedia Membangun Keutuhan NKRI di Bumi Perkemahan Desa Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Kamis.

Ita mengingatkan sesuai dengan tema, seluruh komponen termasuk Pramuka yang berasal dari beragam latar belakang yang berbeda, diharapkan bisa terus membangun keutuhan NKRI.

Untuk menjaga keutuhan NKRI, lanjut Ita, salah satunya dimulai dari pribadi Pramuka yang menerapkan Dasadarma, Trisatya, Dwidarma, dan Dwisatya Pramuka dalam aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Sejumlah warga Jepang meriahkan Jambore Pramuka di Batang

Dalam kesempatan tersebut, Ita juga menyerahkan tanda penghargaan Pramuka Melati kepada 4 orang, Darma Bakti kepada 1 orang, Lencana Teladan kepada 2 orang, Pancawarsa 10 kepada 2 orang, Pancawarsa 7 kepada 2 orang, Pancawarsa 6 kepada 1 orang, Pancawarsa 4 kepada 1 orang, Pancawarsa 3 kepada 4 orang, Pancawarsa 2 kepada 4 orang, dan penghargaan Pramuka Pancawarsa 1 kepada 5 orang.

Ketua Kwarcab Kota Semarang Adi Tri Hananto menambahkan bahwa dengan mengikuti kegiatan Pramuka, ada banyak ilmu serta ketrampilan yang diperoleh dan dapat diterapkan dalam kehidupan.

Sebelum upacara Pramuka, Adi juga melantik dan menyematkan tanda kecakapan Pramuka Garuda untuk golongan siaga, penggalang, penegak, dan pandega sebanyak 88 orang yang terdiri atas 37 golongan siaga, 38 golongan penggalang, 8 golongan penegak, dan 5 golongan pandega.

Sebanyak lima siswa dari SD Hj Isriati Baiturrahman 1 Semarang yang mendapatkan tanda kecakapan Pramuka Garuda golongan siaga yakni Puan Fatma Fawwazah, Elora Kalila Zyn, Permata Sakina N, Gerrard Azhar, dan Destiawan Aditya.

 
Pramuka Garuda golongan siaga SD Isriati Baiturrahman 1 Semarang (dari kanan) yakni Puan Fatma Fawwazah, Elora Kalila Zyn, Permata Sakina N, Gerrard Azhar, dan Destiawan Aditya foto bersama dengan Ketua Kwarcab Kota Semarang Adi Tri Hananto (tiga dari kiri) seusai upacara. (Foto: Nur Istibsaroh)
 
Seluruh golongan yang mendapatkan tanda kecakapan Pramuka Garuda, sebelumnya telah melewati sejumlah ujian/tes, wawancara, hingga praktik dan dinyatakan lolos, karena lebih dari separoh peserta yang dinyatakan gagal. 

Dawud Budiyatno, penerima tanda penghargaan Pramuka Melati mengaku dengan mengikuti Pramuka ada banyak yang diperoleh salah satunya melatih menjadi pemimpin (bisa memimpin) dan bisa dipimpin.

Baca juga: Pramuka Jateng diminta jadi garda terdepan penjaga keutuhan NKRI

"Pramuka memiliki banyak massa, tetapi bukan organisasi massa. Pramuka sebagian besar anggotanya anak muda, tetapi bukan organisasi kepemudaan. Akan tetapi Pramuka adalah gerakan pendidikan kepanduan praja muda karana. Mendidik putra-putri bangsa agar memiliki karakter, membangun jiwa agar mereka mandiri, peduli kepada sesama," katanya.

Dawud yang pernah menjadi anggota DPRD Kota Semarang ingi menilai bahwa pendidikan karakter dibutuhkan agar kaum milenial dapat bijaksana termasuk saat menghadapi era teknologi saat ini.

"Jangan salahkan alat, tetapi bagaimana karakter si pembawa alatnya. Arahkan anak bijak menggunakan teknologi, menggunakan gadget, sehingga dapat mengikis sisi negatif dari gadget dan memaksimalkan teknologi untuk hal positif. Begitu juga dengan tongkat, bisa digunakan untuk mengangkat korban, bisa untuk membuat tenda, tetapi juga bisa untuk 'ngepruk' (memukul, red.) kepala. Jadi karakter si pembawa alat yang harus dibangun," demikian Dawud Budiyanto.

Baca juga: Presiden lepas kontingen Pramuka ke Jambore Dunia di AS
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar