Produksi melimpah, harga sayuran di tingkat petani di Selo anjlok

id Musim panen harag saturan, di Selo Boyolali turun

Produksi melimpah, harga sayuran di tingkat petani di Selo anjlok

Seorang petani saat mengolah lahan tanaman cabai di Dukuh Jarak Desa Jrakah Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Kamis (20/6). (Foto:Bambang Dwi Marwoto)

Boyolali (ANTARA) - Harga sayuran di tingkat petani di lereng Gunung Merapi dan Merbabu Desa Jrakah Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, anjlok karena produksinya melimpah.

Sukarti (40) seorang petani di Dukuh Jarak Desa Jrakah Kecamatan Selo Boyolali, Jumat, mengatakan memasuki musim kemarau saat ini, bersamaan musim panen, persediaan beberapa jenis sayuran di Selo cukup melimpah.

Menurut dia, pada musim kemarau kualitas sayuran rata-rata lebih baik seperti wortel, kubis, cabai, kembang kol, brokoli,  loncang, dan sawi. Namun harganya justru mulai turun karena permintaan tidak sebanyak saat Lebaran beberapa waktu lalu.

Sukarti menjelaskan harga wortel di tingkat petani hanya dijual Rp4.000/kg, padahal sepekan sebelumnya Rp8.000/kg, begitu juga kubis sebelumnya Rp7.000/kg menjadi Rp5.000/kg, brokoli dari Rp5.000/kg menjadi Rp3.500/kg hingga Rp4.000/kg, loncang dari Rp7.000/kg menjadi Rp4.000/kg, dan sawi dari Rp3.000/kg menjadi Rp2.000/kg.

Menurut dia, turunnya harga sayuran di Selo diduga karena permintaan pasar menurun, sehingga stok di petani melimpah. Sayuran asal Selo dibawa ke berbagai daerah salah satunya dikirim para pedagang di Pasar Cepogo Boyolali, Solo, Klaten, Semarang, dan Magelang hingga Yogyakarta.

Baca juga: Ini manfaat sayuran dan buah berwarna hijau

Wiyono (37) petani asal Desa Jrakah lainnya mengatakan memasuki musim kemarau, para petani mengalami kesulitan air untuk tanaman sayurannya, tapi kualiasnya lebih bagus.

Menurut Wiyono, produksi sayurannya banyak diambil pedagang untuk memenuhi kebutuhan pasar modern seperti mal-mal di kota. Hasil panen pekan ini, kualitasnya baik sehingga banyak laku dijual untuk kebutuhan toko-toko modern.

Wiyono yang memiliki lahan seluas 4.000 meter persegi dan 1.000 meter persegi di antaranya ditanami tanaman wortel dengan produksi mencapai sekitar 1,2 ton, sehingga harga rata-rata jika harganya Rp4.000/kg bisa menghasilkan omzet sekitar Rp4,8 juta.

Wiyono mengatakan harga cabai keriting di tingkat petani mencapai Rp35.000/kg hingga Rp36.000/kg. Di Selo hanya banyak ditaman cabai keriting, sedangkan bawang merah dijual Rp15.000/kg, padahal biasanya mencapai Rp20.000/kg.

"Jenis bawang putih petani di kawasan Selo jarang yang menanam, karena banyak yang gagal panen diserang penyakit sehingga hasilnya tidak memuaskan," katanya.

Para petani di lereng Merapi Merbabu rata-rata banyak yang menanam jenis sayuran dan tidak pernah putus. Tanaman sayuran hanya membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan langsung bisa panen. Kendala yang sering dihadapi petani hanya air untuk tanaman.

Dia mengatakan memasuki musim kemarau di lerang Merapi Merbabu biasanya sebagian lahan dialihkan untuk menanam tanaman tembakau. Misalnya dari lahan petani seluas 2.000 meter persegi, sekitar 40 persen ditanami tembakau, karena tanaman tembakau lebih tahan kondisi lahan kering.

Baca juga: Sayuran hijau dan jus jeruk turunkan risiko kehilangan memori





 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar