Teater metafora cukup efektif meraih simpati calon pemilih

id gunawan, stikom

Teater metafora  cukup efektif meraih simpati calon pemilih

Ketua STIKOM Semarang Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si. (Foto: Kliwon)

Peserta Pemilu 2019 akan bermain drama.
Semarang (Antaranews Jateng) - Pakar komunikasi dari STIKOM Semarang Gunawan Witjaksana menilai permainan drama dengan memanfaatkan teater metafora merupakan salah satu cara yang cukup efektif meraih simpati calon pemilih.

"Dari sisi komunikasi, permainan drama dengan memanfaatkan metafora theatrical tidak bisa dilakukan secara sembarangan," kata Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si. kepada Antara di Semarang, Sabtu pagi.

Gunawan mengemukakan bahwa berkampanye untuk memperoleh dan meningkatkan citra guna meraih simpati calon pemilih setiap kontestan, tentu mereka akan bermain drama. Permainan mereka sebaiknya dikaitkan dengan kebutuhan aktual/riil dari calon pemilihnya.

Melihat kenyataan ini, lanjut Gunawan, metafora theatrical/acting yang dilakukan capres dan cawapres tentu sangat berbeda dengan para calon anggota legislatif (caleg) di setiap tingkatan.

Menurut Gunawan, kenyataan riil bahwa Pilpres 2019 memperoleh perhatian media beserta timses pendukungnya masing-masing tidak bisa serta-merta membawa dampak positif, terutama bagi para caleg masing-masing parpol pendukung.

Bagi parpol, kata Gunawan, mungkin bisa mencapai ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 4 persen. Meski sangat berat, terutama yang tidak terbantu efek ekor jas.

Namun, bagi para caleg, kompetisi bukan hanya terjadi antarparpol, melainkan juga antarcaleg satu parpol dalam satu daerah pemilihan (dapil) yang sama.

Di lain pihak, Gunawan menyinggung pula iklan melalui media massa yang terbatas meski bisa dikreasi melalui media sosial. Akan tetapi, karena medsos ini jangkauannya bagi masyarakat awam terbatas, para caleg mulai marak memasang bahan kampanye dan alat peraga kampanye, mulai dari ukuran kecil hingga sangat besar.

Selain biayanya mahal dan jangkauannya terbatas, kata Ketua STIKOM Semarang ini, juga sangat tidak sesuai dengan realitas yang tercantum dalam kartu suara pada tanggal 17 April 2019. Pasalnya, dalam surat suara itu, hanya berupa teks/tulisan nama.

Model semacam ini, menurut dia, tentu menyulitkan calon pemilih, terutama yang telah cukup umur, sekaligus juga menyulitkan para caleg untuk memahamkan dirinya sehingga tertanam di hati calon pemilihnya.
Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar