Rekam KTP-E, Disdukcapil Temanggung jemput bola ke desa-desa

id jemput bola ktpe

Rekam KTP-E, Disdukcapil Temanggung jemput bola ke desa-desa

Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Temanggung melakukan upaya jemput bola ke desa-desa untuk menyelesaikan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTPE) sebelum Pemilu 2019. (dok. Disdukcapil Kabupaten Temanggung)

Temanggung (Antaranews Jateng) - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus melakukan jemput bola perekaman kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E) ke desa-desa untuk mengejar target menyelesaikan perekaman sebelum Pemilu 2019.

Pelaksana Tugas Kepala Disdukcapil Temanggung, Widiatmoko di Temanggung, Kamis, mengatakan perekaman KTP-E berjalan terus, termasuk upaya jemput bola ke desa-desa.

Ia menambahkan hingga saat ini masih ada sekitar 4.000an warga Temanggung yang belum melakukan perekaman KTP-E.

"Data pada kami yang belum melakukan perekaman sekitar 4.000an itu, tetapi kami selalu perekaman ke desa kemungkinan bisa bertambah," ujarnya.

Ia menargetkan perekaman KTP-E di Kabupaten Temanggung sudah selesai bulan Maret 2019 sehingga asumsinya saat Pemilu 2019 sudah beres semua.

Sekretaris Disdukcapil Kabupaten Temanggung, M. Nasir mengemukakan upaya jemput bola pembuatan KTP-E dari ke desa-desa bagi warga yang sakit, tua, dan jompo.

"Petugas kami mendatangi mereka dari rumah ke rumah untuk melakukan perekaman KTP-E," katanya.

Ia menyebutkan sebelum petugas meluncur ke desa sasaran, sebelumnya memang sudah ada laporan dari pihak desa.

Menurut dia dalam satu hari tim Disdukcapil bisa mengunjungi dua hingga tiga desa, kalau hanya satu desa dikhawatirkan target tidak akan tercapai.

"Selama ini tim jalan dengan sasaran dua hingga tiga desa, bahkan mereka kadang pulang hingga pukul 20.00 WIB dari lapangan," katanya.

Ia mengimbau bagi warga yang belum melakukan perekaman KTP-E tetapi dalam kondisi sehat sebaiknya tetap melakukan perekaman di Kantor Kecamatan atau Disdukcapil.

Ia menyampaikan dalam satu hari upaya jemput bola bisa melakukan perekaman 40 hingga 80 jiwa, tergantung dari jarak lokasi rumah penduduk.

"Kendala dalam upaya jemput bola, antara lain medan yang sulit karena lokasinya di daerah perbukitan, dan bahkan kadang petugas harus diantar pamong desa setempat menggunakan sepeda motor untuk menuju ke lokasi karena jalan tidak bisa dilalui mobil," jelasnya. 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar