Logo Header Antaranews Jateng

Pakar: HPP dan HET beras perlu dievaluasi

Senin, 6 Agustus 2018 07:32 WIB
Image Print
Pakar tanaman pangan Unsoed Purwokerto, Prof. Totok Agung Dwi Haryanto. (Foto: Sumarwoto)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) harga eceran tertinggi (HET) perlu dievaluasi, kata pakar tanaman pangan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Prof. Totok Agung Dwi Haryanto.

"Menurut hemat saya, kebijakan HPP dan HET itu perlu ditinggal," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin.

Totok mengatakan hal itu kepada Antara terkait dengan harga beras di pasaran yang tetap tinggi dan cenderung fluktuatif meskipun panen masih berlangsung di beberapa daerah.

Akan tetapi jika HPP dan HET tetap diberlakukan, kata dia, hal itu sebaiknya untuk kelas beras paling bawah atau beras yang disubsidi.

Sementara untuk kelas beras lainnya, lanjut dia, sebaiknya dipersilakan untuk menjadi pilihan bagi rakyat.

"Pejabat atau orang-orang kaya tidak harus membeli beras dengan harga yang sama dengan yang dibeli masyarakat bawah. Seperti halnya PLN yang menerapkan tarif listrik untuk keluarga miskin tidak sama dengan tarif untuk keluarga kaya," ujarnya.

Menurut dia, perbedaan tarif listrik antara keluarga miskin dan kaya yang diterapkan oleh PLN itu dapat dijadikan contoh.

Selain itu, kata dia, subsidi untuk rakyat pun sudah banyak diberikan seperti terhadap bahan bakar minyak.

"Jadi, subsidi untuk beras bisa diberlakukan secara nasional tetapi khusus untuk kelas paling bawah. Sedangkan beras-beras untuk konsumsi orang menengah ke atas, sudah dibiarkan saja, sehingga itu menjadi kesempatan bagi petani-petani unggul yang memang memiliki spesifikasi produk untuk bisa memperoleh kesejahteraan dari nilai yang berbeda," katanya.

Akan tetapi, kata Totok, masyarakat banyak yang kemampuannya terbatas tidak dirugikan oleh kebijakan tersebut.

"Jadi, ada kebijakan HPP dan HET berstrata," katanya.

Dari pantauan di Pasar Manis, Purwokerto, harga beras kualitas bawah hingga saat ini masih bertahan pada kisaran Rp8.500-Rp9.500 per kilogram, sedangkan beras kualitas medium berkisar Rp10.000-Rp11.000/kg meskipun masa panen masih berlangsung di sejumlah wilayah Banyumas.



Pewarta:
Editor: Mugiyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026