Sosialisasi waspada Merapi lewat buka puasa

id Aloysius Jarot Nugroho,Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan,Merapi,BPPTKG

Sosialisasi waspada Merapi lewat buka puasa

Ilustrasi - Relawan berjaga-jaga di pedesaan lereng Gunung Merapi, Stabelan, Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (25/5) dini hari. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/tom/18.

Magelang (Antaranews Jateng) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menyampaikan sosialisasi tentang status "waspada" atas aktivitas Gunung Merapi dilakukan melalui buka bersama yang diselenggarakan Komunitas Lima Gunung kabupaten setempat.
Sosialisasi disampaikan Kepala BPBD Magelang, Edy Susanto di panggung terbuka Studio Mendut, pusat kegiatan seni, budaya, dan sosial kemasyarakatan Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, Menoreh), Minggu petang, antara lain dihadiri budayawan Magelang Sutanto Mendut dan para pegiat komunitas tersebut.

Pada kesempatan itu, Edy menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Merapi yang ditandai dengan beberapa kali letusan akhir-akhir ini, berdasarkan data dan informasi dari Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi Yogyakarta yang diterima BPBD setempat.

Berbagai perangkat dipasang di kawasan puncak Merapi dan pos-pos pengamatan Gunung Merapi untuk memantau perkembangan aktivitas gunung berapi itu selama 24 jam.

Selain itu, ia juga mengingatkan tentang pentingnya masyarakat di berbagai desa di sekitar Merapi untuk tetap tenang dan beraktivitas sehari-hari seperti biasanya, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan bencana gunung berapi tersebut.

Ia menyebutkan 19 desa di kawasan Gunung Merapi yang terancam bencana, namun pemkab setempat telah memfasilitasi penerapan konsep "desa bersaudara" guna menangani kemungkinan terjadi kondisi bencana.

"BPBD membuat skema `sister village` atau desa bersaudara. Sebanyak 19 desa terancam Merapi, masing-masing sudah punya pasangan desa bersaudara, sudah ada data tentang jumlah angkutan di desa untuk membawa ke pengungsian," jelas dia.

Ia mengemukakan tentang pengalaman penanganan pengungsian warga Merapi saat menghadapi fase letusan dahsyat pada 2010.

"Kita banyak belajar dari letusan 2010 Merapi, dulu masyarakat diungsikan, sekarang masyarakat melakukan pengungsian mandiri, pemerintah lalu memberikan pelayanan dan fasilitasi kebutuhan logistik mereka," kata dia.

Ia juga mencontohan tentang pengungsian malam hari oleh ratusan warga Dusun Babadan 2 Desa Krinjing, Kecamatan Dukun ke Desa Paten saat terjadi letusan ketiga sepanjang Jumat (1/6) sejak pagi hingga malam hari.

"Kami dari BPBD kemudian datang memberikan pelayanan dasar," katanya. Pada Sabtu (2/6) dini hari, mereka kemudian kembali ke desanya.

Berbagai pelatihan menghadapi kemungkinan bencana Merapi telah dilakukan beberapa kali untuk masyatakat guna pengurangan atas risiko jatuhnya korban saat terjadi bencana alam.

"Mari kita tingkatkan kewaspadaan, pahami mitigasi bencana untuk pengurangan risiko bencana," ujarnya.

Masyarakat juga diminta menyimak informasi perkembangan aktivitas Gunung Merapi dari sumber yang resmi, seperti BPPTKG dan BPBD.

"Selalu ada informasi dari sumber yang benar, jangan percaya dengan berita hoaks karena bisa meresahkan," ucapnya.

Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar