Pameran "Game of Imagination" bicarakan masa depan demokrasi

id pameran seni rupa,keuskupan agung semarang

Pameran

Sejumlah orang menyaksikan lukisan dalam pameran "Game of Imagination" di Rumah Tambo Jentera Muda Wisma Salam Kabupaten Magelang, Kamis petang (11/7). (ANTARA/Hari Atmoko)

Magelang (ANTARA) - Ketua Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Semarang (KAS) Romo Budi Purwantoro mengatakan pameran seni rupa dan foto berjudul "Game of Imagination" menjadi suguhan para perupa kepada kalangan muda untuk membicarakan masa depan demokrasi Indonesia.

"Ada 47 karya lukis, patung, dan 20-an foto yang dipamerkan mulai hari ini, Kamis (ii/7) selama 10 hari, sampai tanggal 21 Juli nanti," ujar dia di Magelang, Kamis petang sebelum pembukaan pameran tersebut.

Pameran oleh para seniman dari beberapa daerah, seperti Yogayakarta, Magelang, Tasikmalaya, dan Pati itu berlangsung di Kompleks Wisma Salam diselenggarakan oleh Rumah Tambo Jentera Muda Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah yang dikelola Komisi Kepemudaan KAS.

Staf Ahli Komisi Kepemudaan KAS yang juga pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Romo Robertus Inu Nugroho Budisantoso membuka pameran sekaligus sebagai narasumber "ngobrol" kaum muda dan pelajar Magelang dan Yogyakarta tentang tema pameran itu.

Romo Budi menyebut pameran tersebut merespons perkembangan kehidupan demokrasi di Indonesia akhir-akhir ini, termasuk terkait dengan pesta demokrasi belum lama ini. baik pemilu Presiden maupun pemilu anggota legislatif.

"Tentang bagaimana orang-orang muda berperan dalam kehidupan demokrasi. Demokrasi saat ini semacam tontonan demorkarsi. Mestinya demokrasi menjadi hal yang mudah berembuk, tetapi sekarang ini siapa yang kuat yang berkuasa," katanya.

Ia mengemukakan bahwa demokrasi juga tidak lepas dari imajinasi di mana seni memiliki peranan pentingnya.

Ia menilai praktik demokrasi di Indonesia akhir-akhir ini lebih memunculkan kepentingan diri sendiri ketimbang memahami orang atau pihak lain. Padahal demokrasi membuka ruang alternatif bagi pembicaraan dan perjumpaan untuk kepentingan bersama.

"Imajinasi ada ruang terbuka, berembuk bersama. Dalam imajinasi itu autentik, seperti seni yang jujur dan berbagai sudut pandang," katanya.

Ia mengemukakan bahwa masa depan perkembangan demokrasi Indonesia berada di tangan kalangan muda.

"Pameran dan diskusi ini menjadi pelecut kita ke arah demokrasi yang lebih baik," katanya

Romo Inu mengemukakan bahwa Indonesia dibangun sebagai bangsa karena ada perjumpaan atas berbagai keragaman, di mana masing-masing menumpahkan imajinasi tentang keindonesiaan.

"Siapa yang membangun Indonesia menjadi 'nation', orang membangun 'nation' sejak orang bertemu. Perjumpaan melahirkan penciptaan, kalau tidak bertemu tidak melahirkan penciptaan," katanya.

Ia juga mengemukakan bahwa Indonesia bukan hanya masa lalu akan tetapi juga saat ini.

Akan tetapi, katanya, ada kecenderungan ingin sendiri, kelihatannya bersama akan tetapi susah bertemu, dan orang merasa sepi dalam kebersamaan karena hidup dengan dunia sendiri.

"Jangan-jangan kebersamaan sedang retak. Jangan-jangan seni mulai ditinggalkan sedikit demi sedikit. Seni yang lepas batas itu jangan-jangan dipinggirkan karena dipandang tidak ada artinya," ucapnya.

Ia mengemukakan bahwa seni mempunyai kekuatan yang bisa membuat orang melihat sesuatu dengan cara berbeda karena adanya imajinasi.

Imajinasi tentang kebangsaan atau "nation", katanya, juga bisa dilihat dengan cara berbeda.
 
Pewarta :
Editor: Immanuel Citra Senjaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar