Puluhan anak difabel dilatih mengolah sampah plastik

id difabel, olah sampah

Puluhan anak difabel dilatih mengolah sampah plastik

Semarang - Sejumlah anak-anak berkebutuhan khusus berlatih pembuatan "ecobricks", batu bata ramah lingkungan dari limbah sampah plastik, di Roemah Difabel Semarang, Senin (12/11). (Foto: Dok Cakrawala)

Semarang (Antaranews Jateng) - Puluhan anak berkebutuhan khusus dari Roemah Difabel Semarang dilatih mengolah sampah plastik menjadi "ecobricks" atau batu bata ramah lingkungan.

Pelatihan yang berlangsung di Roemah Difabel Semarang, Senin, itu dilakukan kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip menggandeng Komunitas Bank Sampah Lestari Magenta.

Sekitar 25 anak difabel terlihat antusias mengikuti pelatihan bertajuk "Kreatif Bersama Herborist", didampingi oleh para mahasiswa dan pegiat bank sampah untuk membuat "ecobricks".

Merekamelakukan proses pembuatan "ecobricks" dengan memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam botol bekas air mineral kemudian menempelkan dan memadatkannya.

Koordinator Bank Sampah Lestari Magenta Gusty Satrio menjelaskan "ecobricks" merupakan salah satu solusi mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah plastik.

"Selama ini, sampah plastik kan paling riskan pengelolaannya karena susah diurai. Makanya, sangat berbahaya bagi lingkungan, salah satu solusinya dengan menjadikannya 'ecobricks'," katanya.

"Ecobricks", kata dia, bisa dijadikan berbagai macam perabot, seperti kursi, meja, dan sebagainya sehingga lebih bermanfaat ketimbang sampah plastik dibiarkan mencemari lingkungan.

Untuk pelatihan kali itu, Gusty mengaku menggunakan sampah yang berasal dari produk Herborist yang diajarkannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus di Roemah Difabel.

"Baru kali ini saya melatih temen-temen difabel, biasanya anak-anak pelajar dan masyarakat. Siapapun berhak mendapatkan pelatihan dan pendidikan tentang lingkungan," katanya.

Sementara itu, Nadya Rahma Aulia, koordinator dari mahasiswi Ilmu Komunikasi Undip menjelaskan sebenarnya kegiatan itu merupakan tugas mata kuliah Kampanye Public Relation.

Bersama enam kawannya sekampus, mahasiswi berhijab angkatan 2016 itu bersama-sama membentuk semacam agensi bernama Cakrawala sebagaimana ditugaskan kampus untuk menggelar kegiatan tersebut.

"Pesertanya disepakati dari kelompok rentan, tetapi kami sempat bingung. Awalnya, ada usulan ibu-ibu yang ada di lembaga pemasyarakatan, ibu rumah tangga, atau penyandang difabel," katanya.

Akhirnya, kata Program Planner Cakrawala itu, dipilihlah peserta dari kalangan difabel, sekaligus menggandeng Herborist yang selama ini dikenal sebagai produsen berbagai produk kecantikan.

"Kami ingin memberdayakan temen-temen penyandang difabel untuk mengolah sampah jadi 'ecobricks. Siapapun bisa berkontribusi terhadap lingkungan, apalagi 'ecobricks' juga bernilai jual," pungkas Nadya.
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar