Jateng ingin turunkan angka kematian akibat COVID-19 jadi 4 persen

id covid jawa tengah,kematian akibat covid,dampak covid

Jateng ingin turunkan angka kematian akibat COVID-19 jadi 4 persen

Petugas medis melakukan tes diagnostik cepat COVID-19 pada pedagang di Pasar Ikan Rejomulyo (Pasar Kobong) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (22/5/2020). Pemeriksaan massal dilakukan untuk menemukan sejak dini kasus COVID-19 dan menekan tingkat kematian akibat penyakit tersebut. (ANTARA)

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya menurunkan angka kematian akibat COVID-19 yang sekarang sekitar delapan persen menjadi empat persen, kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo.

"Kunci untuk menekan angka kematian akibat COVID-19 salah satunya penemuan dini kasus," katanya usai menyerahkan bantuan Jogo Tonggo Kit kepada Pemerintah Kabupaten Kudus di Pendopo Kabupaten Kudus, Jumat.

Kalau kasus penularan virus corona penyebab COVID-19 ditemukan sejak dini, saat penderitanya masih mengalami gejala ringan, maka penanganannya lebih mudah dilakukan.

Di samping itu, apabila kasus penularan pada warga lanjut usia atau warga dengan penyakit penyerta dideteksi dan ditangani sejak dini, maka kemungkinan sembuhnya lebih besar.

Guna mendeteksi kasus COVID-19 sejak dini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berupaya mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas laboratorium pemeriksaan COVID-19 yang ada.

Menurut Yulianto, saat ini ada 11 laboratorium pemeriksaan COVID-19 dan enam laboratorium milik rumah sakit yang bisa digunakan untuk pemeriksaan COVID-19.

"Semua rumah sakit daerah di Jateng memang diupayakan menuju ke sana. Hanya saja, langkah yang paling nyata saat ini dengan otomatisasi sehingga kapasitas pemeriksaan semakin bertambah," ujarnya.

Menurut data pemerintah provinsi, hingga Jumat pukul 10.15 WIB jumlah pasien COVID-19 di Jawa Tengah sebanyak 4.519 orang dengan perincian 1.903 pasien masih menjalani perawatan, 2.236 orang sudah dinyatakan sembuh, dan 380 orang meninggal dunia.

Yulianto mengemukakan bahwa masyarakat merupakan garda depan dan tenaga kesehatan merupakan garda belakang dalam penanggulangan COVID-19.

"Jika garda paling depan kuat, maka yang belakang juga kuat sehingga peran masyarakat penting sekali," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar