Kekeringan, petani bikin sumur bor berbiaya Rp5 juta

id Petani Boyolali atasi ,kekeringan buat sumur bor

Kekeringan, petani bikin sumur bor berbiaya Rp5 juta

Seorang petani saat menyirami lahan pertanian tanaman palawija di Desa Sobokerto Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, Selasa. ANTARA/Bambang Dwi Marwoto

Boyolali (ANTARA) - Sejumlah petani di Desa Sobokerto Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, mengatasi kekeringan lahan pertanian yang semakin meluas dengan membuat sumur bor di sekitar lahan.

 "Lahan pertanian di Desa Sobokerto Kecamatan Ngemplak Boyolali merupakan lahan tadah hujan, musim kemarau yang berkepanjangan saat ini,membuat para petani beralih tanaman jenis palawija," kata Suratno (46) salah satu petani di Dukuh Ngendan, Sonokerto, Boyolali, Selasa.

Menurut Suratno, cara mengatasi musim kemarau saat ini, dengan membuat sumur bor dengan kedalaman mencapai 30 meter, sehingga air dapat mencukupi kebutuhan lahan pertanian yang ditanami komoditas sayuran seperti jenis daun kenikir, kacang tanah, kangkung, dan lainnya.

Menurut dia, lahan pertanian di Desa Sobokerto ada ratusan hektare, semua tadah hujan, sehingga ada belasan tandon air dari sumur bor milik petani yang sudah ada di tegalan.

Baca juga: Produksi melimpah, harga sayuran di tingkat petani di Selo anjlok

Menurutnya, membuat sumur bor dengan kedalaman sekitar 30 meter biayanya mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta. Air keluar cukup lancar dan bisa mengairi lahan pertaniannya seluas 0,5 hektare.

"Lahannya ditanami sayuran daun kenikir dengan seluas 1.250 meter persegi, dan hasil panen mencapai Rp10 juta. Tanaman kenikir hanya butuh waktu sekitar 25 hari sudah panen," katanya.

Petani lainnyta, Wagiyen (55) warga Dukuh Ngendan Desa Sobokerta Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, mengatakan, sumur bor miliknya dibuat selama musim kemarau tahun ini, dan hasil airnya lancar.

Menurut Wagiyem selama musim hujan tiba lahan pertanian ditanami tanaman padi, sedangkan musim kemarau saat ini, beralih tanaman sayuran dengan memanfaatkan air sumur bor.

"Saya selama musim kemarau ini, menyirami lahan pertanian ini, setiap dua hari sekali. Lahan pertanian ditanami tanaman kangkung, bawang merah, bayam, dan kenikir," katanya.

Menurut dia, musim kemarau diperkirakan akan berlangsung lama kemungkinan hingga Oktober mendatang. Lahan di Desa Sobokerto tidak ada irigasi teknis, dan semuanya lahan tadah hujan. Meski dekat Waduk Cengklik, tetapi air tidak sampai ke daerah ini, karena lokasi lahannya lebih tinggi.

Sebelumnya, Dinas Pertanian Boyolali, Jawa Tengah, menyebutkan dampak musim kemarau yang berkepanjangan menyebabkan seribuan hektare lahan tanaman padi di wilayah ini, mengalami kekeringan.

Menurut Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Dispertan Boyolali, Marsini, ada sekitar 1.392 hektare lahan persawahan tanaman padi mengalami kekeringan dari total seluas 22.717 ha di wilayah ini.

Marsini mengatakan musim kemarau yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, menyebabkan lahan pertanian yang mengalami kekeringan yang semakin meluas, terutama lahan daerah tadah hujan bisa menyebabkan gagal panen.

Menurut dia, lahan sawah yang tanaman padi mengalami gagal panen tercatat sudah mencapai 177 hektare. Jumlah tersebut ada kemungkinan bisa bertambah luasannya karena melihat dari kondisi kekeringan yang melanda sebagian besar di Boyolali. 

Baca juga: Petani jamur tiram Boyolali kewalahan penuhi permintaan


 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar