Kebakaran hutan di Gunung Sumbing meluas

id kebakaran sumbing meluas

Kebakaran hutan di Gunung Sumbing meluas

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Sumbing di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus meluas dengan total luasan 490,9 hektare. (Foto: Heru Suyitno)

Temanggung (Antaranews Jateng) - Kebakaran hutan di kawasan Gunung Sumbing di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, terus meluas, kata pelaksana tugas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Temanggung, Gito Walngadi.
 
Gito di Temanggung, Minggu, mengatakan pada pagi hari kebakaran di Gunung Sumbing hanya terjadi di empat titik, namun pada siang hari menjadi lima titik.

"Sebelumnya memang sempat mereda, namun pada Minggu siang kebakaran bertambah satu titik," katanya.
 
Ia menyebutkan kebakaran tersebut terjadi di petak 27-1, petak 27-2, petak 27-3, dan petak 20-1. Total luasan yang terbakar hingga Minggu sore mencapai 490,9 hektare.

Ia mengatakan upaya pemadaman terus dilakukan secara manual dengan penyekatan, "gepyokan", dan menaburkan tanah di titik api.

"Medan yang terjal dan curam mengakibatkan proses pemadaman terhambat, karena titik api sulit dijangkau petugas," katanya.  

 Ia menuturkan sebanyak 168 personel dari berbagai unsur diterjunkan dalam pemadaman api di Gunung Sumbing.

 Ia mengatakan seluruh personel hari ini dikerahkan untuk pemadaman kawasan Gunung Sumbing, karena kebakaran di wilayah Gunung Sindoro telah padam.

 Ia menuturkan pada Senin (17/9) rencananya akan dilakukan pemadaman api di kawasan Sumbing dengan menggunakan helikopter Kamov milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
 
Ia menyampaikan untuk pemadaman menggunakan helikopter tersebut, pengambilan air akan dilakukan di Waduk Wadaslintang di perbatasan Kabupaten Wonosobo dengan Kabupaten Kebumen.

"Karena pesawat heli ini lebih besar dari yang dikirim sebelumnya, maka kalau mengambil air dari Embung Kledung atau Telaga Menjer tidak memungkinkan," katanya. 

Rencana melakukan pengeboman air pakai helikopter di titik-titik kebakaran pada Jumat lalu tidak bisa dilakukan akibat angin kencang dan mentah yang sulit.
 
Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar