Pengamat: Pasar tradisional bisa jadi destinasi digital

id pasar tradisional

Pengamat: Pasar tradisional bisa jadi destinasi digital

Pengamat Pariwisata dari Unsoed, Chusmeru (wury puspitasari)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - Pasar tradisional bisa dikemas dengan konsep kekinian dan menjadi destinasi wisata digital yang dapat menarik minat wisatawan khususnya generasi muda, kata Pengamat Pariwisata dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Chusmeru.

"Pasar tradisional bisa menjadi daya tarik wisatawan, jika dikemas dengan konsep wisata yang kekinian, yaitu sebuah pasar yang tradisional secara bentuk, namun secara tampilan bisa menjadi destinasi wisata digital," katanya di Purwokerto, Selasa.

Dia menjelaskan, destinasi digital merupakan destinasi yang menarik untuk dipamerkan melalui foto dan video yang diunggah ke media sosial.

Dia mengatakan destinasi digital bisa berupa objek wisata, atraksi budaya, dan kuliner, baik yang sudah ada maupun yang akan dikembangkan.

"Dan, jika diunggah ke media sosial, destinasi itu akan tampak kreatif dan menarik. Destinasi wisata yang memiliki banyak lokasi yang menarik untuk diunggah ke medsos, kian diincar oleh para generasi muda," katanya.

Kendati demikian, kata dia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pasar tradisional bisa menjadi destinasi digital.

Pertama, mengubah kesan pasar sebagai tempat yang kumuh menjadi tempat yang menarik, bersih, dan rapih.

Kedua, memiliki ciri khas yang bersifat tradisional, baik dari aspek tempat maupun ragam dagangan seperti sayur, buah, maupun kuliner.

Ketiga, memadukan unsur-unsur tradisonal dalam pasar, seperti transaksi jual beli dengan unsur-unsur tradisional lain, seperti atraksi seni budaya dan permainan tradisional. Dengan demikian pasar tradisional suatu daerah akan berbeda dengan daerah lain.

Keempat, dapat dikunjungi oleh semua kalangan, baik wanita maupun laki-laki, anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.

Kelima, memiliki latar belakang pemandangan yang indah, unik, dan menarik, seperti bentang alam pegunungan, sawah, sungai, danau, laut, maupun bangunan bersejarah.

Keenam, memadukan panorama pasar tradisional dengan tren wisata digital kekinian, yaitu dengan menyediakan spot menarik untuk berswafoto.

Ketujuh, dikelola secara profesional dengan mengutamakan pelayanan dan kepuasan pengunjung, serta dipromosikan secara masif melalui media sosial.

Selain itu, memiliki kalender even yang berkesinambungan, dan selalu menyuguhkan inovasi dalam atraksi seni budaya.

"Setiap daerah, sesungguhnya bisa mengembangkan pasar tradisional dengan konsep wisata, asalkan punya keunikan masing-masing, contohnya Pasar Karetan di Kendal, Pasar Baba Boentjit Palembang, Pasar Kaki Langit Yogyakarta dan lain sebagainya," katanya.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar