Semarang (ANTARA) - Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau yang biasa disebut dengan P5 menjadi bagian tidak terpisahkan dari Kurikulum Merdeka, sehingga bukan lagi sesuatu yang asing bagi satuan pendidikan. Apalagi berdasarkan Permendikbudristek No. 56/M/2022, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler berbasis proyek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan. 

Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila baru dimunculkan pada sekolah penggerak, namun pada tahun ajaran 2022/2023 Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila mulai diberlakukan pada sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka.

Salah satu dimensi profil pelajar Pancasila yang ditanamkan di sekolah adalah kreatif. Seorang siswa yang memiliki dimensi kreatif berarti mampu memodifikasi, menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak untuk mengatasi berbagai persoalan baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk lingkungan di sekitarnya.

Untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, diperlukan peran pendidik untuk menuntun, mengenali, sekaligus sebagai panutan. Ketika seorang pendidik menjalankannya, maka akan lebih mudah bagi siswa melihat, mempelajari, dan mengikutinya. 

"Kreativitas siswa di SMP Negeri 31 Semarang terasah melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila yang dijalankan di sekolah melalui lima tahapan, yaitu: pengenalan, kontekstual, aksi, refleksi dan tindak lanjut," kata Agung Nugroho, Kepala SMP Negeri 31 Semarang menceritakan prosesnya. 

Baca juga: Belajar dari Oky, anak inklusif pembawa inspirasi

Kepala sekolah Program Sekolah Penggerak (PSP) angkatan kedua ini menilai P5 merupakan salah satu bagian dari Kurikulum Merdeka yang memberikan dampak positif dalam pengembangan dan peningkatan kualitas siswa, sehingga menjadi hal yang baik bagi siswa dalam pembelajaran dan siswa akan lebih paham nilai-nilai luhur Pancasila.

Semangat Agung terhadap P5 direalisasikan dengan mengajak seluruh guru SMP Negeri 31 Semarang melakukan koordinasi membahas tentang hasil pendampingan dari fasilitator P5 terkait tema yang telah dilaksanakan dan bagaimana panen karya yang akan dilaksanakan. 

Untuk melaksanakan panen karya, diakui Agung yang telah menjadi kepala sekolah di SMP Negeri 31 Semarang sejak tahun 2019 ini tidak mudah. Semangat yang tumbuh, diskusi antarguru yang terus dilakukan, akhirnya membuahkan satu tema besar yang digelar di akhir semester ganjil, yaitu Extravagasa. 

"Extravagasa merupakan rangkaian kegiatan besar ekstra yang diadakan oleh SMP Negeri 31 Semarang Spegasa, sehingga jika dirangkai menjadi Extravagasa merupakan wujud kreativitas siswa setelah menyelesaikan tema tertentu dalam P5,” kata Agung yang menjadi pemimpin pembelajaran. 

Seluruh siswa dari tiga tingkat terlibat dalam kegiatan Extravagasa ini. Berawal dari kelas VII dengan panen karyanya, Profil Pelajar Pancasila yang muncul di sini adalah kreatif. Bagaimana siswa memunculkan gagasan serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinil, juga memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan, misalnya berhasil memanfaatkan lahan kosong di sekolah untuk ditanami cabai yang relatif singkat waktu tanamnya. Hasilnya dapat dimanfaatkan baik untuk kalangan sendiri atau dijual kepada pihak lain.

Kemudian profil berikutnya adalah gotong royong yang ditanamkan lebih pada elemen kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Siswa ketika sudah menentukan akan melakukan proyek apa, tidak serta merta dapat bekerja sendiri. Masing-masing siswa dalam kelompok bekerja sama untuk menyelesaikan proyek yang sudah ditentukan dengan didampingi oleh fasilitator proyek tersebut. 

Baca juga: Beragam program tuk perkuat karakter pelajar Pancasila

Sedangkan bagi kelas VIII dan IX yang mengadakan gelar karya hasil pembelajaran prakarya dan seni budaya selama satu semester, bagi mereka berani menampilkan hasil karya dan terbuka atas kritik serta masukan merupakan langkah awal untuk menjadi orang yang hebat. 

Gelar karya tersebut merupakan salah satu bentuk keterbukaan diri, karena untuk menghasilkan kerajinan atau produk tersebut melibatkan pikiran dan perasaan. Secara tidak langsung melalui gelar karya, siswa mengekspresikan perasaan, pikiran, ide/gagasannya.

Selanjutnya, hasil proyek P5 dikunjungi para guru dan seluruh siswa kelas VII s.d. IX SMP Negeri 31 Semarang. Antusiasme siswa kelas VII dan warga sekolah merebak ke seluruh penjuru sekolah. Selain merupakan hal baru baik bagi siswa maupun guru, tema dan subtema yang dipilih sangat dekat dengan permasalahan yang kerap muncul di kalangan masyarakat khususnya lingkungan sekolah.

Harapannya dapat meningkatkan kreativitas siswa agar lebih mencintai alam sekitar dengan cara mengelola lahan kosong agar berdaya guna bagi masyarakat sekitar. Selain itu, mereka dapat menumbuh kembangkan nilai-nilai karakter selama berproses antara lain berakhlak mulia dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, gotong royong, mandiri, dan kreatif.

Baca juga: Mencetak hero peduli lingkungan


*Penulis: Iin Sulistyowati
Guru Sekolah Mitra Program PINTAR
Tanoto Foundation

Pewarta : Iin Sulistyowati*/Nur Istibsaroh
Editor : Nur Istibsaroh
Copyright © ANTARA 2024