Cilacap (ANTARA) - Pagi itu angin laut bertiup lembut dari Segara Anakan, membawa aroma asin bercampur lumpur basah yang khas dari pesisir Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Kawanan burung beterbangan rendah di atas permukaan air, sesekali hinggap di cabang pohon mangrove yang rimbun. Di antara kicauan burung dan desir ombak, seorang lelaki berkaus biru tua berjalan santai menyusuri jembatan bambu. Dialah Naswan (56), Ketua Kelompok Sida Asih, yang selama bertahun-tahun menjadi garda terdepan menjaga hutan mangrove di daerah ini.
“Dulu di sini gundul. Tanah habis digerus abrasi, tiap tahun makin dekat ke rumah warga,” kenangnya, sambil menunjuk ke arah lahan yang kini tertutup vegetasi mangrove.
Cerita Naswan berawal dari mendiang ayahnya, Kartosaryan, yang pada 1990-an mulai menanam mangrove di lahan seluas 2 hektare dan saat itu, tujuan utamanya sederhana: menahan abrasi agar tanah kampung tidak hilang ke laut. Bibit ditanam dengan peralatan seadanya, perawatan dilakukan secara manual, bahkan pembibitan dilakukan di halaman rumah.
Kerja keras itu perlahan membuahkan hasil. Dinas Kelautan kemudian turut membantu memasarkan bibit ke berbagai daerah, seperti Pekalongan, Semarang, dan Yogyakarta.
Meski begitu, baru pada 2016 upaya konservasi ini terorganisasi dalam kelompok formal bernama Sida Asih, beranggotakan sembilan orang. Kini, jumlah anggota meningkat menjadi 32 orang, terdiri atas 15 laki-laki dan 17 perempuan.
Kelompok Sida Asih mengelola kawasan yang kini dikenal sebagai Wisata Mangrove Simanja (Konservasi Mangrove Jagapati). Meski area wisata hanya 2 hektare, program konservasi mereka mencakup total 45 hektare hutan mangrove di Kelurahan Kutawaru.
Jenis mangrove yang tumbuh di sini beragam, mulai dari Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera, hingga Ceriops. Vegetasi ini menjadi habitat alami bagi berbagai satwa, dari kepiting bakau, ikan-ikan kecil, hingga burung migran.
"Dulu jangankan burung, kepiting pun sulit ditemukan. Sekarang burungnya bukan hanya datang, juga berkembang biak di sini," ujar Naswan sambil tersenyum.
Selain konservasi, kawasan ini berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan. Anak-anak PAUD hingga mahasiswa perguruan tinggi seperti IPB dan Universitas Jenderal Soedirman pernah belajar langsung mengenai ekosistem mangrove di sini.
Bagi warga Kutawaru yang mayoritas nelayan dan petani musiman, konservasi mangrove membawa manfaat ekonomi nyata. Melalui pembibitan, pada tahun 2020 saja mereka berhasil menjual sekitar 200 ribu bibit ke luar daerah.
Selain itu, lahir berbagai unit usaha berbasis kelompok, seperti Kelompok Wanita Tani (KWT), bank sampah, hingga kelompok nelayan "Pepes Sega Kecap" yang mengolah hasil laut. Wisatawan yang datang dikenakan tiket masuk Rp5.000 per orang, dan hasilnya digunakan untuk kas kelompok serta biaya perawatan.
"Yang dulu nganggur jadi punya kegiatan. Yang dulu tidak peduli lingkungan, sekarang ikut menjaga. Pendapatan ada, kesadaran juga tumbuh,” kata Naswan.
Hutan mangrove di Kutawaru tidak hanya bermanfaat bagi warga setempat, tetapi juga bagi ekosistem pesisir secara keseluruhan. Vegetasi ini menjadi benteng alami yang melindungi daratan dari abrasi dan gelombang tinggi, rumah bagi keanekaragaman hayati, sekaligus penyerap karbon yang signifikan.
Menurut Naswan, satu pohon mangrove bisa menopang hingga 10 spesies hewan, dan 1 hektare mangrove mampu menyerap sekitar 4.500 ton karbondioksida.
Data ini sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah "Magari Segoro", yang mendorong penanaman mangrove secara masif untuk mitigasi perubahan iklim.
Meskipun keberhasilan Kelompok Sida Asih patut diapresiasi, tantangan tetap ada, dan regenerasi menjadi salah satu masalah utama, sebab seluruh anggota kelompok saat ini sudah berusia lanjut. Anak-anak muda di Kutawaru cenderung merantau ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, seperti Jepang dan Korea.
“Saya khawatir nanti tidak ada penerus. Karena itu, sejak sekarang kami mengajak anak-anak sekolah untuk ikut menanam dan merawat mangrove,” ujar Naswan.
Transparansi dan kebersamaan
Prinsip transparansi menjadi fondasi utama kelompok ini. Setiap rupiah pemasukan dan pengeluaran dibahas terbuka dalam pertemuan rutin anggota.
“Uang itu sensitif. Jadi semua harus tahu, supaya tidak ada kecurigaan,” tegasnya.
Selain transparansi, kebersamaan juga menjadi kunci. Setiap program dijalankan secara gotong royong, mulai dari penanaman hingga memastikan pohon yang ditanam benar-benar bertahan hidup.
Bagi Naswan, mangrove adalah warisan yang nilainya jauh melampaui keuntungan ekonomi. "Kalau kita menanam satu pohon, kita sedang memberi kehidupan untuk anak cucu, bahkan yang belum lahir," katanya.

Upaya Sida Asih mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, salah satunya PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah khususnya Integrated Terminal Cilacap, melalui program konservasi berkelanjutan Simanja (Konservasi Mangrove Jagapati).
Area Manager Communication and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Taufik Kurniawan mengatakan program ini telah berjalan sejak beberapa tahun lalu dan resmi dinyatakan exit program pada 2024. Meski demikian, Pertamina tetap mendorong kemandirian kelompok binaan untuk mereplikasi keterampilan ke kelompok lain.
“Prinsip kami, maksimal lima tahun masyarakat sudah mandiri. Kalau sudah mandiri, mereka bisa mengembangkan sendiri dan membagikan ilmunya,” ujarnya.
Program Simanja meliputi pembibitan, budidaya kepiting, hingga pengolahan mangrove menjadi produk seperti sirup dan makanan ringan. Kelompok binaan bahkan sudah mampu menjalin kerja sama dengan pihak swasta, seperti dengan salah satu Hotel di Cilacap, untuk memasarkan paket wisata edukasi.
Pertamina menginvestasikan sekitar Rp1,2 miliar untuk program ini, dengan social return on investment (SROI) mencapai 1,27 kali lipat atau sekitar Rp1,6 miliar.
Pada 2024, Simanja meluncurkan inovasi digital simanja.id, yang memungkinkan masyarakat menanam mangrove secara virtual melalui teknologi virtual reality (VR) dan augmented reality (AR).
“Pengguna memilih lokasi, membeli bibit, lalu mendapat geotagging di koordinat tertentu. Penanaman dilakukan petani mangrove sesuai lokasi yang dipilih,” jelas Taufik.
Sore itu, cahaya matahari menembus sela-sela daun mangrove, memantulkan warna keemasan di permukaan air. Burung-burung kembali ke sarang, kepiting-kepiting kecil bergerak di antara akar-akar yang kokoh. Pemandangan itu menjadi bukti nyata bahwa kerja keras puluhan tahun tidak sia-sia.
Bagi Kelompok Sida Asih, setiap bibit yang ditanam adalah janji. Janji untuk menjaga bumi, satu pohon, satu ekosistem, satu masa depan.

