
Meneladani pemikiran Nabi Muhammad SAW, mendidik generasi sebagai inti peradaban

Semarang (ANTARA) - Nabi Muhammad SAW bukan hanya seorang pemimpin spiritual, politik, dan sosial, tetapi juga seorang pendidik ulung yang menanamkan nilai-nilai fundamental bagi lahirnya sebuah peradaban besar.
Pendidikan bagi beliau bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan akhlak, penguatan iman, dan penanaman tanggung jawab sosial. Hal ini tercermin sejak ayat pertama yang diturunkan kepadanya: “Iqra’” (Bacalah), yang menegaskan bahwa inti dakwah Islam dimulai dari kesadaran akan pentingnya ilmu.
Rasulullah memahami betul bahwa kualitas manusia ditentukan oleh proses pendidikan yang menyeluruh, dari keluarga, lingkungan sosial, hingga institusi masyarakat. Maka tidak heran bila beliau begitu peduli dalam mendidik anak-anak, menata keluarga, serta membimbing masyarakat Madinah hingga menjadi contoh peradaban dunia.
Pendidikan Anak: Kasih Sayang sebagai Landasan
Salah satu keistimewaan Rasulullah adalah perhatiannya terhadap anak-anak. Beliau menekankan bahwa anak adalah amanah sekaligus anugerah. Dengan penuh kelembutan, beliau sering memangku, mencium, dan bercanda dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husain, sesuatu yang pada masa itu dianggap tidak lazim oleh sebagian orang Arab yang keras karakternya.
Hadis beliau yang masyhur, “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua,” menunjukkan bahwa pendidikan anak dimulai dari kasih sayang, bukan kekerasan.
Prinsip ini sangat relevan dengan konsep child-centered education dalam dunia pendidikan modern, di mana anak dipandang sebagai individu yang perlu didengar, dihargai, dan difasilitasi tumbuh sesuai fitrahnya.
Rasulullah juga menekankan pentingnya memberikan teladan. Beliau menanamkan nilai kejujuran, keberanian, dan kepedulian sosial melalui perilaku sehari-hari, bukan hanya nasihat verbal. Dari sini, kita belajar bahwa pendidikan karakter jauh lebih efektif melalui praktik nyata ketimbang sekadar instruksi.
Pendidikan Keluarga: Rumah sebagai Madrasah Pertama
Nabi Muhammad SAW menyadari bahwa keluarga adalah fondasi peradaban. Beliau menjalankan perannya sebagai suami dan ayah dengan keteladanan luar biasa. Bersikap adil, membantu pekerjaan rumah, berdialog dengan istrinya, serta melibatkan anak-anak dalam aktivitas keagamaan.
Sabda beliau, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku,” menegaskan bahwa pendidikan dalam keluarga bukan hanya urusan intelektual, melainkan juga keteladanan moral dan spiritual.
Prinsip ini sejalan dengan konsep pendidikan keluarga modern yang menempatkan orang tua sebagai role model. Dalam era krisis keteladanan saat ini, di mana anak lebih banyak belajar dari gawai ketimbang orang tuanya, teladan Nabi mengingatkan kita bahwa peran keluarga tidak tergantikan oleh teknologi.
Pendidikan Masyarakat: Membangun Madinah sebagai Sekolah Sosial
Ketika hijrah ke Madinah, Rasulullah mendidik masyarakat bukan dengan pendekatan koersif, melainkan dialogis dan inklusif. Beliau mendirikan Masjid Nabawi, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, diskusi, dan pengembangan masyarakat.
Beliau membentuk Suffah, sebuah lembaga sederhana di serambi masjid, sebagai asrama pendidikan bagi kaum miskin dan pencari ilmu. Dari Suffah inilah lahir para sahabat yang kelak menjadi ulama, pemimpin, dan penyebar Islam ke berbagai negeri.
Selain itu, Rasulullah menekankan pentingnya literasi. Beliau memerintahkan tawanan perang Badar yang bisa membaca untuk mengajar sepuluh orang Muslim sebagai syarat pembebasan. Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan adalah investasi strategis, bahkan di tengah keterbatasan dan situasi perang.
Model pendidikan sosial yang dibangun Rasulullah sangat relevan dengan pendidikan modern berbasis masyarakat (community-based education). Pendidikan tidak hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga ekosistem sosial yang harus mendukung terciptanya generasi berilmu dan berakhlak.
Relevansi ajaran pendidikan Rasulullah dengan masa kini sangatlah nyata. Sistem pendidikan yang beliau bangun memuat prinsip-prinsip penting yang sejalan dengan tantangan pendidikan modern.
Pendidikan yang beliau ajarkan bersifat humanis dan berakar pada kasih sayang, menolak segala bentuk kekerasan, sehingga mampu melahirkan generasi yang berkarakter kuat sekaligus berempati.
Nabi lebih banyak mendidik melalui teladan nyata dibanding sekadar ucapan, dan hal ini mengingatkan bahwa guru maupun orang tua masa kini dituntut untuk konsisten antara kata dan perbuatan.
Rasulullah juga menjadikan literasi sebagai pilar penting, sebagaimana tercermin dari perintah Iqra’ serta kebijakan beliau dalam memberantas buta huruf, yang hari ini dapat menjadi inspirasi bagi gerakan literasi global.
Selain itu, prinsip pendidikan beliau sangat inklusif; semua kalangan baik anak-anak, perempuan, kaum miskin, bahkan non Muslim, mendapat ruang belajar, menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah untuk semua.
Tak kalah penting, Rasulullah menekankan integrasi antara ilmu dan akhlak, sehingga pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter, hal yang sangat relevan di tengah krisis moral generasi digital saat ini.
Nabi Muhammad SAW adalah sosok pendidik sepanjang zaman. Beliau berhasil membangun generasi Madinah yang kokoh iman, luas ilmunya, dan luhur akhlaknya.
Prinsip pendidikan beliau yang berpijak pada kasih sayang, keteladanan, literasi, serta keterlibatan masyarakat masih sangat relevan untuk menjawab tantangan pendidikan hari ini.
Jika pendidikan modern sering terjebak pada orientasi kognitif semata, maka teladan Rasulullah menjadi pengingat untuk menyeimbangkan aspek intelektual, spiritual, dan moral.
Dengan keseimbangan itu, pendidikan akan melahirkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, yang mampu memimpin dunia dengan nilai kemanusiaan universal.
*Nika Dewi Indriati, Penulis pemerhati Pendidikan, Fasilitator Nasonal pada Program Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen
Oleh Nika Dewi Indriati*
COPYRIGHT © ANTARA 2026
