Antisipasi bencana, Pemkab Banyumas siagakan 700 personel

id siaga bencana,antisipasi bencana,Banyumas antisipasi bencana,banyumas siagakan personel bencana

Antisipasi bencana, Pemkab Banyumas siagakan 700 personel

Sekitar 700 personel gabungan yang berasal dari TNI/Polri, BPBD Kabupaten Banyumas, sukarelawan, organisasi kemasyarakatan, dan perwakilan sejumlah instansi mengikuti Gelar Pasukan Dalam Rangka Antisipasi Bencana Alam di Wilayah Kabupaten Banyumas Tahun 2019/2020 yang digelar di halaman Markas Komando Distrik Militer 0701/Banyumas, Rabu (20/11/2019). (ANTARA/Sumarwoto)

Purwokerto (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyiagakan sekitar 700 personel untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana selama musim hujan, kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Banyumas Didi Rudwiyanto.

"Sekitar 700 personel yang kita siagakan saat Apel Kesiapsiagaan ini, baik dari TNI/Polri, unsur pemerintah daerah, BPBD, organisasi sukarelawan, Perhutani, PLN, dan organisasi kemasyarakatan," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.

Didi mengatakan hal itu kepada wartawan usai Gelar Pasukan Dalam Rangka Antisipasi Bencana Alam di Wilayah Kabupaten Banyumas Tahun 2019/2020 yang digelar di halaman Markas Komando Distrik Militer 0701/Banyumas.

Menurut dia, seluruh personel tersebut berikut sarana-prasarananya siap melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi atau deteksi dini bencana.

"Insya Allah kita siap untuk melayani masyarakat dalam menghadapi bencana alam yang akan terjadi," katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan berdasarakan pendataan, dari 27 kecamatan se-Kabupaten Banyumas diketahui sebanyak 18 kecamatan di antaranya merupakan daerah rawan longsor atau gerakan tanah terutama di wilayah lereng Gunung Slamet maupun Pegunungan Serayu Selatan seperti Lumbir, Gumelar, dan Cilongok.

Baca juga: Pancaroba, warga Banyumas waspada angin kencang

Menurut dia, hal itu disebabkan formasi batuan atau geologi di wilayah tersebut memang rawan longsor.

Selain daerah rawan longsor, di Kabupaten Banyumas juga terdapat 11 kecamatan rawan bencana angin kencang, enam kecamatan rawan banjir, dan enam kecamatan rawan bencana erupsi Gunung Slamet.

"Kemarin (saat musim kemarau) wilayah rawan kekeringan meningkat jadi 17 kecamatan yang kita suplai bantuan air bersih," katanya.

Ia mengatakan Pemkab Banyumas juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit menular saat musim hujan seperti demam berdarah, cikungunya, diare, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kata dia, BPBD dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas dibantu TNI/Polri telah melakukan deteksi dini serta antisipasi terhadap bencana maupun penyebaran penyakit saat musim hujan.

"Apel ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita secara personel, sumber daya manusia TNI/Polri, jajaran pemerintah daerah, dan seluruh komponen masyarakat yang bergerak di bidang kemanusiaan dan sukarelawan bencana alam sudah siap melayani masyarakat," katanya.

Sementara itu, Komandan Kodim 0701/Banyumas Letkol Inf. Chandra mengatakan pihaknya menyiapkan 400 personel TNI untuk mengantisipasi bencana di wilayah Kabupaten Banyumas.

"Kegiatan ini adalah memberikan keyakinan bahwa Kabupaten Banyumas siap untuk antisipasi terhadap bencana, baik personel, kemudian perlengkapan dan peralatan yang kita gelar di sini maupun yang belum kita gelar. Ini sebelum kita gelar, sudah kita coba bahwa alat-alat ini bisa operasional termasuk sumber daya manusianya, orang per orang sudah tahu tugasnya," katanya.

Bahkan sebelum gelar pasukan, kata dia, pihaknya juga sudah menggelar rapat koordinasi terkait dengan antisipasi bencana alam di wilayah Banyumas.

Wakil Kepala Kepolisian Resor Banyumas Kompol Davis Busin Siswara mengatakan pihaknya menerjunkan tiga peleton personel Polri pada apel kesiapsiagaan tersebut.

"Tapi secara keseluruhan, seluruh personel Polres Banyumas sudah dalam kondisi siap siaga (menghadai bencana) karena sekarang sudah memasuki musim hujan," katanya.

Baca juga: Kekeringan meluas, Banyumas intensifkan penyaluran bantuan air
Pewarta :
Editor: Wisnu Adhi Nugroho
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar