HIMKI: Dorong produksi, perlu penerapan teknologi

id Himki, peremajaan mesin

HIMKI: Dorong produksi, perlu penerapan teknologi

Ilustrasi - Obral mebel di Rumah Kriya Banjarsari Solo beberapa waktu lalu. Saat ini pemerintah tengah mendorong penjualan mebel dengan melakukan peremajaan mesin (ANTARA/Aris Wasita)

Dalam kurun waktu tiga tahun ini peremajaan mesin sudah dilakukan meski masih harus berkelompok
Solo (ANTARA) - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyatakan perlu penerapan teknologi untuk mendorong produksi industri mebel dalam negeri.

"Tanpa teknologi canggih yang dimiliki, kita tidak akan bisa mengejar pasar yang makin berkembang," kata Sekretaris Jendral DPP HIMKI Abdul Sobur di Solo, Kamis.

Ia mengatakan secara global industri mebel telah mengalami transformasi cukup cepat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Bahkan, kata dia, konsep industri dituntut makin canggih, salah satunya pelaku industri mebel harus melakukan peremajaan mesin.

"Proses produksi harus lebih modern dengan teknologi canggih dan ramah lingkungan," katanya.

Ia menyebut beberapa negara dengan industri mebel yang sudah maju, di antaranya Tiongkok, Malaysia, dan Vietnam

Indonesia, katanya, di tingkat ASEAN menempati posisi ketiga untuk realisasi ekspor tertinggi setelah Malaysia dan Vietnam dengan nilai 1,7 miliar dolar AS.

"Ranking realisasi ekspor industri mebel ini per tahun 2018. Untuk pasar yang paling besar adalah ke Amerika dengan kontribusi sebesar 40 persen," katanya.

Baca juga: Meningkat, ekspor mebel Soloraya tak terpengaruh perang dagang

Pada kesempatan yang sama, Ketua DPD HIMKI Soloraya Adi Darma Santoso mengatakan sejauh ini ada beberapa pengusaha mebel di wilayah tersebut yang sudah melakukan peremajaan mesin.

Ia mengatakan dari 100 anggota HIMKI Soloraya, 10 persennya sudah melakukan peremajaan mesin.

"Dalam kurun waktu tiga tahun ini peremajaan mesin sudah dilakukan meski masih harus berkelompok, tetapi setidaknya sudah mampu meningkatkan kapasitas maupun kualitas," katanya.

Terkait dengan peremajaan mesin tersebut, ia berharap, pemerintah dapat meningkatkan besaran subsidi program revitalisasi teknologi modern.

"Ini penting, paling tidak agar Indonesia bisa mengimbangi industri mebel di negara lain yang saat ini masih menjadi produsen terbesar komoditas tersebut," katanya.

Baca juga: HIMKI minta pembatasan bahan baku untuk produk ekspor dikaji ulang
Baca juga: 60 anggota Himko Soloraya bakal ikuti gelaran IFEX 2019
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar