Bupati minta perpustakaan sekolah dikembangkan agar jadi rujukan utama
Selasa, 23 April 2024 8:55 WIB
Dua pelajar SMP Negeri 1 Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tengah memilih koleksi buku yang tersedia di perpustakaan sekolah, Senin (22/4/2024). (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
Kudus (ANTARA) - Penjabat Bupati Kudus M. Hasan Chabibie meminta sekolah tingkat SD dan SMP di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk mengembangkan perpustakaannya agar menjadi daya tarik siswa meningkatkan minat baca karena dianggap menjadi rujukan sumber informasi utama.
"Selain sarana dan prasarana yang memadai, tentu koleksi bukunya juga perlu diperbanyak, termasuk kekayaan kontennya juga demikian," ujarnya ditemui di sela-sela mengunjungi Perpustakaan SMP Negeri 1 Jati Kudus, Senin.
Apalagi, kata dia, saat ini bersaing dengan derasnya informasi yang diperoleh para siswa dari gawai yang mereka miliki. Sehingga perpustakaan harus berbenah agar bisa menjadi rujukan utama di luar sumber-sumber informasi lain, seperti dari internet maupun media lainnya.
Ia juga mengapresiasi perpustakaan milik SMPN 1 Jati karena mendapatkan akreditasi A dari Perpustakaan Nasional.
Tentunya, kata dia, perpustakaan SMPN 1 Jati tersebut bisa menjadi rujukan untuk sekolah yang lain agar memiliki kualitas yang sama, demi tujuan meningkatkan literasi anak didik karena sebagai generasi masa depan bangsa.
"Selain harus menjadi sumber rujukan utama dari para pelajar, tentunya untuk memperoleh literasi dan informasi yang baik juga dibimbing guru dan ada projek yang bisa dilakukan," ujarnya.
Tentunya, imbuh dia, proses belajar mengajarnya juga terukur, sehingga dengan itu fungsi dari perpustakaan akan menjadi lebih efektif.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Jati Kudus Sumaryatun membenarkan bahwa perpustakaan SMPN 1 Jati memang mendapatkan akreditasi A per Desember 2023.
"Untuk bisa mendapatkan akreditasi A memang sulit karena harus memenuhi sembilan komponen. Tetapi, berkat kerja keras semua pihak, termasuk komite sekolah akhirnya bangunan, fasilitas pendukung, serta koleksi bukunya bisa ditingkatkan," ujarnya.
Koleksi buku yang dipersyaratkan, kata dia, minimal 5.000 koleksi, sehingga pihaknya juga bisa membuat pojok perpustakaan yang dilabeli lobi literasi (Lobster), permainan tradisional atau jaman dahulu, serta ruang dongeng.
Bahkan, imbuh dia, perpustakaan tersebut juga menjadi kunjungan para siswa sekolah taman kanak-kanak.
Dalam rangka meningkatkan kunjungan siswa, maka setiap pekan dijadwalkan untuk mewajibkan siswa berkunjung ke perpustakaan, sehingga ada ketertarikan untuk membaca buku koleksi yang tersedia.
Baca juga: Perpustakaan UMP edukasi mahasiswa tentang AI dalam penyusunan tugas akhir
"Selain sarana dan prasarana yang memadai, tentu koleksi bukunya juga perlu diperbanyak, termasuk kekayaan kontennya juga demikian," ujarnya ditemui di sela-sela mengunjungi Perpustakaan SMP Negeri 1 Jati Kudus, Senin.
Apalagi, kata dia, saat ini bersaing dengan derasnya informasi yang diperoleh para siswa dari gawai yang mereka miliki. Sehingga perpustakaan harus berbenah agar bisa menjadi rujukan utama di luar sumber-sumber informasi lain, seperti dari internet maupun media lainnya.
Ia juga mengapresiasi perpustakaan milik SMPN 1 Jati karena mendapatkan akreditasi A dari Perpustakaan Nasional.
Tentunya, kata dia, perpustakaan SMPN 1 Jati tersebut bisa menjadi rujukan untuk sekolah yang lain agar memiliki kualitas yang sama, demi tujuan meningkatkan literasi anak didik karena sebagai generasi masa depan bangsa.
"Selain harus menjadi sumber rujukan utama dari para pelajar, tentunya untuk memperoleh literasi dan informasi yang baik juga dibimbing guru dan ada projek yang bisa dilakukan," ujarnya.
Tentunya, imbuh dia, proses belajar mengajarnya juga terukur, sehingga dengan itu fungsi dari perpustakaan akan menjadi lebih efektif.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Jati Kudus Sumaryatun membenarkan bahwa perpustakaan SMPN 1 Jati memang mendapatkan akreditasi A per Desember 2023.
"Untuk bisa mendapatkan akreditasi A memang sulit karena harus memenuhi sembilan komponen. Tetapi, berkat kerja keras semua pihak, termasuk komite sekolah akhirnya bangunan, fasilitas pendukung, serta koleksi bukunya bisa ditingkatkan," ujarnya.
Koleksi buku yang dipersyaratkan, kata dia, minimal 5.000 koleksi, sehingga pihaknya juga bisa membuat pojok perpustakaan yang dilabeli lobi literasi (Lobster), permainan tradisional atau jaman dahulu, serta ruang dongeng.
Bahkan, imbuh dia, perpustakaan tersebut juga menjadi kunjungan para siswa sekolah taman kanak-kanak.
Dalam rangka meningkatkan kunjungan siswa, maka setiap pekan dijadwalkan untuk mewajibkan siswa berkunjung ke perpustakaan, sehingga ada ketertarikan untuk membaca buku koleksi yang tersedia.
Baca juga: Perpustakaan UMP edukasi mahasiswa tentang AI dalam penyusunan tugas akhir
Pewarta : Akhmad Nazaruddin
Editor : Edhy Susilo
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
ADP luncurkan dua buku strategis di UIN Walisongo, angkat Islam Cinta dan Transformasi Sosial
27 April 2026 14:03 WIB
BPJS Kesehatan Surakarta gelar sosialisasi Program JKN kepada tokoh agama dan masyarakat
23 April 2026 18:49 WIB
Pemkab Batang gencarkan Satu Minggu Satu Buku untuk menunjang minat baca anak
27 March 2026 9:34 WIB
UMS tambah Doktor Ilmu Pendidikan, kembangkan buku Pancasila berorientasi Multiple Sources Learning
12 February 2026 14:46 WIB
Menggali kearifan lokal Semarang melalui Buku Pop Up Interaktif dan Praktik Pembuatan Jamu Jun
23 November 2025 19:57 WIB