Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi terjebak keluhan

id kbm daring, pjj

Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi terjebak keluhan

Sejumlah anak memakai telepon pintar saat KBM daring di salah satu masjid di Borobudur, Kabupaten Magelang. ANTARA/Anis Efizudin

Magelang (ANTARA) - Tidak mudah mengelola kegiatan belajar mengajar secara dalam jaringan atau pembelajaran jarak jauh guna menyiasati pandemi virus corona jenis baru (COVID-19) yang telah menerpa kita selama enam bulan terakhir.

Terlebih kalau cara berpikir pemangku kepentingan dalam pengelolaan pendidikan, termasuk tentu saja anak didik, belum dalam kerangka pandemi. Hal itu makin sulit karena seakan memindahkan sekolah tatap muka ke daring dengan segala media, sarana dan prasarananya.

Pandemi sebagai kondisi kedaruratan karena bencana nonalami, mestinya kegiatan belajar mengajar pun dikemas dalam keadaan tersebut.

Baca juga: Batang bakal perkuat jaringan internet dukung pembelajaran daring

Kalau tidak demikian, yang terjadi berupa serba keluhan yang hadir seakan tiada berkesudahan, dari soal borosnya kuota internet, ketersediaan gawai, komputer personal, dan komputer jinjing yang terbatas di setiap rumah tangga, kemampuan orang tua mendampingi anak-anak belajar daring, ketiadaan sinyal internet di suatu kawasan.

Belum lagi kerepotan guru menyiapkan bahan ajar untuk KBM daring, tingkat pengawasan kedisiplinan siswa mengerjakan tugas-tugas belajar, layanan KBM untuk daerah-daerah tempat tinggal siswa yang tak terjangkau sinyal internet.

Kalau soal bantuan kuota internet, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengalokasikan Rp7,2 triliun. Kalau soal lokasi tanpa sinyal internet, selain perusahaan telekomunikasi segera memperluas jangkauan sinyal, juga instansi pemerintahan di tingkat bawah menyediakan tempat untuk para siswa menjalani KBM daring menggunakan layanan internet di kantor-kantor itu.

Kalau mau diterus-teruskan keluhan, tentu masih ditemukan keluhan KBM daring, termasuk soal kurikulum darurat dan modul pembelajaran yang telah dikeluarkan Kemendikbud, Agustus 2020. Setiap jalan keluar atas satu keluhan KBM daring di tengah pandemi, boleh jadi melahirkan keluhan-keluhan lain.

Lebih baik keluar dari jebakan keluhan serba sulit di sana sini melakukan KBM daring di tengah pandemi. Bukankah pandemi juga melahirkan keluhan di bidang-bidang kehidupan lainnya, demikian juga bidang lainnya itu berupaya mengatasi persoalannya.

Pendidikan anak-anak pun terus diupayakan diselenggarakan meskipun di tengah bencana, karena merekalah yang bakal menjalani masa depan.

Pembelajaran bermakna yang mengasah kemampuan berpikir, keterampilan, sikap hidup anak didik menjadi bagian yang mesti dijalankan sebagai bagian dari KBM di tengah pandemi.

Nampaknya kekuatan dasar pembelajaran bermakna di tengah pandemi berada ada di keluarga dan lingkungan. Mungkin juga, pembelajaran bermakna tak begitu direpotkan dengan persoalan kuota internet atau telepon pintar.

Namun, boleh jadi memang dibutuhkan relawan pembelajaran bermakna yang bisa dihadirkan dari lingkungan sekitar tempat tinggal anak-anak. Termasuk para guru itu sendiri bisa hadir dalam pembelajaran bermakna bagi anak-anak di sektiarnya. Mereka bisa mengajak anak-anak berlatih kesenian, bisa menyanyi, menari, teater, deklamasi, mengarang, dan melukis.

Dengan pendampingan mereka, anak-anak bisa diajak untuk pembelajaran mengolah bahan-bahan sederhana atau seadanya yang dijumpai di sekitarnya menjadi karya kreatif atau belajar mengolah bahan-bahan di lingkungan untuk menjadi karya kuliner, bercocok tanam, atau budi daya perikanan.

Tentu saja sebagai kegiatan belajar mengajar, pembelajaran bermakna mesti dikelola secara berkelanjutan dan konsisten dalam pendampingan selama berlangsung pandemi.

Kualitas hasil pendidikan anak-anak pun tidak lagi dilihat dengan ukuran-ukuran sebelum terjadi pandemi. Kegiatan belajar mengajar di tengah pandemi mesti menempatkan capaian kualitas pendidikan di tengah pandemi pula.

Kalau masih dengan ukuran capaian tujuan pendidikan sebelum pandemi, artinya masih berada dalam jebakan dan yang terjadi berupa keluhan lainnya.

Ungkapan bijak lebih baik menyalakan lilin di tengah kegelapan ketimbang meratapi kegelapan, mungkin mendapatkan tempat tepat untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak kita di tengah pandemi.

Baca juga: Pimpinan DPRD Temanggung fasilitasi sanggar belajar secara daring
Baca juga: Batang bakal perkuat jaringan internet dukung pembelajaran daring
Baca juga: Asyik, siswa SMP di Semarang peroleh kuota internet gratis 4 GB per bulan

 
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar