Telaah - Pasar Rejowinangun dengan ingatan cerita rakyat Kota Magelang

id pasar rejowinangun,cerita rakyat kota magelang

Telaah - Pasar Rejowinangun dengan ingatan cerita rakyat Kota Magelang

Sejumlah orang berdiri di salah satu tempat di Pasar Rejowinangun Kota Magelang saat rangkaian Festival Pasar Rakyat 2018. (ANTARA/HO/Muhammad Nafi)

Magelang (ANTARA) - Sekitar setahun lalu, 65 kelompok lintas sektoral membikin Festival Pasar Rejowinangun bertajuk "Terus Kumandang!" selama sebulan dengan kalangan seniman dan pegiat budaya Magelang sebagai basis penggeraknya.

Setahun sebelumnya itu, pasar tersebut mendapatkan anugerah Pancawarna karena pembenahan, pengembangan, dan inovasi pengelolaan pasar rakyat yang dinilai makin maju. Penghargaan itu diinisiasi Yayasan Danamon Peduli bekerja sama dengan Majalah Ekonomi SWA. 

Setahun setelah ajang penghargaan, yayasan itu kemudian menggandeng kelompok lintas sektoral di Kota Magelang membuat Festival Pasar Rejowinangun 2018 dengan berbagai agenda, seperti aksi bersih sungai dekat Pasar Rejowinangun, tur pasar, ruwat pasar, dan pasar apung.

Selain itu, berbagai pementasan kesenian, seperti pantomim, pameran lukisan dan foto, pembacaan puisi dan guritan, tarian tradisional dan kontemporer, performa gerak, dan pentas musik. Kalangan media massa Kota Magelang melakukan peliputan rangkaian agenda festival tersebut.

Tema festival "Terus Kumandang!" ternyata bukan sekadar supaya aktivitas di Pasar Rejowinangun yang pernah terbakar hebat pada pertengahan 2008 itu, makin ramai, dinamis, dan maju seiring dengan tantangan kebutuhan zaman.

Baca juga: Pasar Rejowinangun Berbenah, Kota Magelang Raih Anugerah Pancawarna

Setidaknya, dari festival itu memunculkan cerita-cerita rakyat terkait dengan pasar rakyat yang lahir secara natural. Pasar Rejowinangun muncul terkait dengan operasionial jalur kereta api di Magelang oleh perusahaan Nederlansch Indische Spoorweg Maatshappij (NIS) pada 1 Juli 1899.  

Sejumlah sumber zaman penjajahan Belanda menyebut terkait dengan operasional jalur kereta api dan Pasar Rejowinangun, antara lain Gedenboek der Staatsspoor en Tramwegen in Nederlandsch Indie (1875-1925), Buku Kenang-kenangan kereta api dan trem di Hindia Belanda untuk masa laporan tahun 1875-1925 oleh S.A. Reitsma (Redaktur), Dinas Informasi Topografi Hindia Belanda-Jatinegara 1925.

Kereta tersebut mengangkut hasil-hasil bumi, berupa tembakau, kopi, sayuran, jagung, beras, dan ubi-ubian ke kota-kota besar, seperti Yogyakarta dan Semarang. 

Berdirinya Pasar Rejowinangun berkaitan erat dengan keberadaan stasiun kereta di Kelurahan Rejowinangun. Saat itu, sambil menunggu "sepur kluthuk" atau kereta api berbahan bakar kayu datang, para penumpang yang membawa hasil bumi juga menjajakan dagangannya. 

Hal ini dilakukan, karena mereka khawatir dagangannya segera membusuk. Jual beli dilakukan baik dengan uang maupun barter. 

Lambat laun, transaksi semakin sering terjadi dan moda-moda transportasi pun bermunculan, membuat situasi di stasiun itu semakin ramai, dan mereka membutuhkan tempat yang lebih permanen untuk berdagang. 

Dari stasiun kereta pun berkembang menjadi pasar. Sekarang tinggal pasarnya saja. 

Kearifan lokal "menyantel" pada hari pasaran untuk Pasar Rejowinangun. Pahing (salah satu hari dalam kalender Jawa) menjadi hari utama keramaian Pasar Rejowinangun Kota Magelang, sebagaimana Kliwon untuk Pasar Muntilan dan Pon untuk Pasar Bandongan (Kabupaten Magelang).

Saat tiba hari pasaran, maka aktivitas di pasar tersebut akan lebih ramai pedagang dan pembeli dibandingkan dengan hari-hari lainnya.

Baca juga: Pemkot selenggarakan Festival Pasar Rakyat Magelang

Pasar Rejowinangun terletak di Kelurahan Rejowinangun Utara, di Kampung Karang Lor sekarang ini. Sebelum kampung ini menjadi Karang Lor, namanya Kampung Kliwonan.

Dalam buku "Toponomi Kota Magelang" yang dikeluarkan Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata "kliwon" menunjuk nama jabatan dari pengawal atau asisten di bawah demang.

Ada juga cerita yang turun-temurun terkait dengan penamaan Kampung Kliwonan. Cerita ini terdapat dalam buku stensilan "Inventarisasi Peninggalan Sejarah, Nilai Tradisional, dan Kepurbakalaan" cetakan 1986 yang tidak diterbitkan.

Alkisah, Ki Mangunrejo, seorang prajurit keraton yang menyingkir ke daerah Kedu dan tinggal di Desa Karang Punthuk, dekat Kebon Dalem (kebunnya raja-raja) waktu itu. 

Dia kemudian menjadi tokoh masyarakat yang mempunyai pedepokan, tempat mengajarkan pemuda desa olah "kanuragan". Di tempat itu, ia tinggal bersama istri dan putra-putrinya, Jokopati dan Roro Gading. Roro Gading bersuami Ki Selobranti. Ki Selobranti, prajurit kepercayaan Pangeran Diponegoro saat Perang Jawa (1825-1830).

Saat Pangeran Diponegoro ditipu dan kemudian ditangkap Belanda di Keresidenan Kedu, Selobranti melarikan diri dan bersembunyi di rumah mertuanya, Ki Mangunrejo. 

Perkiraan letak rumahnya, yakni tempat yang sekarang menjadi Rumah Persemayaman Dharma. Bangunan Dharma sekarang, dahulu berupa gumuk kecil Karang Punthuk. Gumuk pemakaman lama yang kemudian mengalami pemindahan dua kali sampai dekat tempat yang sekarang Sekolah Dasar, di perbatasan Kampung Malangan dan Karang Kidul. 

Kisah tentang mengapa dan siapa yang memindahkan pemakaman tersebut, barangkali butuh makin banyak referensi dan sumber lain yang bertutur.
 
Sejumlah orang berakvitasi jual-beli di Pasar Rejowinangun Kota Magelang. ANTARA/Hari Atmoko


Wilayah sekitar bekas pedepokan Ki Mangunrejo yang terbakar kemudian menjadi makamnya, dikenal sebagai Depok (berasal dari pedepokan) hingga sekarang.

Tempat persembunyian Ki Selobranti di rumah mertuanya itu, pada akhirnya ketahuan Belanda karena bantuan antek-anteknya. Rumah tersebut dikepung pasukan Belanda dipimpin Sersan Karen dan antek-anteknya yang dipimpin Ki Demang Sangkar dengan pengikutnya, antara lain Panewudirjo, Lengkoro, Banjut, dan Kliwon. 

Geger pun terjadi. Saat pengepungan, Lurah dan Carik Karang Punthuk (daerah sebelum bernama Rejowinangun) datang terlambat. Mereka tergopoh-gopoh mengikuti tempat-tempat kejadian dan memberi tetenger di daerah-daerah kejadian tersebut. 

Saat pengepungan, Ki Mangunrejo dan istrinya dibunuh Belanda. Rumahnya dibakar. Jenazahnya dimakamkan oleh warga dan pemuda desa di bekas rumahnya yang terbakar. 

Selobranti, Roro Gading, dan Jokopati melarikan diri ke arah barat sisi utara dan bersembunyi di "urung-urung" (selokan) Kali Lanang di timur benteng Belanda atau pasar sekarang ini. 

Di "urung-urung" ini terjadi pertarungan sengit antara Ki Selobranti dan Kliwon. 

Kliwon dapat dikalahkan dan terbunuh. Entah dengan alasan apa jenazahnya dibiarkan saja oleh warga sekitar di Kali Lanang sampai tertimbun tanah dengan sendirinya. 

Mungkin karena sudah menumpuk rasa kesal akan penjajahan Belanda dan kekejaman antek-anteknya yang sering disebut "Landa Ireng", maka warga membiarkan jenazah Kliwon. Oleh Lurah Karang Punthuk, atas kematian Kliwon ini, nama daerah tersebut dinamai Kliwonan. 

Baca juga: Pasar Rejowinangun berkumandang lagi

Oleh karena pengepungan dan jumlah lawan yang lebih banyak, mereka terpojok dan kemudian saling terpisah. Jokopati melarikan diri ke sisi timur dan terbunuh di tempat itu. Sekarang daerah tersebut dinamai Paten. 

Roro Gading dan Selobranti melarikan diri ke arah selatan. Oleh karena kekuatannya kurang berimbang, akhirnya mereka terpisah juga. Roro Gading gugur di selatan arah barat, sekarang daerah tersebut dinamai Karanggading.

Selobranti terdesak ke sisi timur dan gugur. Tempat gugurnya kemudian diberi nama Malangan, dari kata "malang" yang maknanya menyedihkan. 

Sebelum Ki Selobranti mengembuskan napas terakhir, dia berpesan kepada warga supaya memakamkan jenazahnya di dekat makam mertuanya.

Melihat kekejaman Belanda dan antek-anteknya, serta menyaksikan kemalangan keluarga Ki Mangunrejo, akhirnya semangat warga dan pemuda desa tergugah. 

Terjadi amuk masa yang mengakibatkan banyak pasukan Belanda dan antek-anteknya tewas. Beberapa yang tersisa, melarikan diri ke arah barat.

Setelah suasana reda dan untuk mengenang jasa-jasa Ki Mangunrejo bersama keluarganya, nama Desa Karang Punthuk oleh Ki Lurah diubah menjadi Rejowinangun. Nama itu, gabungan dari kata "rejo" yang artinya subur dan baik, serta kata "winangun" yang artinya dibangun menjadi lebih baik dan maju.

Dengan cerita tersebut, masyarakat bisa bercermin bahwa cerita rakyat merupakan bagian dari karya sastra lisan yang mengandung banyak pesan akan nilai-nilai sosial budaya. 

Dari cerita rakyat tentang Pasar Rejowinangun yang tetap tersimpan dalam ingatan sebagian masyarakat Kota Magelang itu, terlihat bertebarkan nilai-nilai pendidikan moral, budi pekerti, kepahlawanan, dan semangat perjuangan sebagaimana tergambar melalui para tokohnya.

Harapannya, semakin banyak cerita rakyat di kampung-kampung lainnya di Kota magelang terus bisa digali. Karena di situlah sebagian perpustakaan nilai-nilai sosial budaya daerah itu berada.

Bisa jadi, hawa sejuk segar, suasana indah dan nyaman yang membingkai Kota Magelang hingga saat ini, makin bermakna oleh taburan cerita-cerita rakyat dari sumber tradisi lisan yang dikumandangkan. (hms).


*) Muhammad Nafi, Koordinator Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang, Sekretaris Dewan Kesenian Kota Magelang (2010-2014), dan Ketua Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-Metra) Kota Magelang (2016-2019).

Baca juga: Inovasi Pengelolaan Pasar Rejowinangun Terus Dikembangkan
Baca juga: Pasar Rejowinangun Magelang Dikembangkan Jadi Tujuan Wisata

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar