Presiden perlu menambah jumlah menteri perempuan di kabinet

id menteri,calon menteri perempuan,jokowi,kabinet kerja jilid II

Presiden perlu menambah jumlah menteri perempuan di kabinet

Presiden RI Joko Widodo memberikan keterangan kepada awak media di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (22-8-2019). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/pras.

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Wiwik Novianti mengatakan presiden terpilih perlu menambah jumlah perempuan sebagai menteri dalam susunan kabinet mendatang.

"Presiden perlu menambah jumlah perempuan dalam kabinet mendatang guna mendukung program kesetaraan gender," katanya di Purwokerto, Jumat.

Wiwik yang merupakan dosen Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed mengatakan, penambahan jumlah perempuan sebagai menteri akan sejalan dengan program pemberdayaan perempuan.

Baca juga: Menteri BUMN paparkan kiprah perempuan Indonesia di Sidang ICW

"Selain itu, penambahan jumlah perempuan sebagai menteri diperlukan mengingat banyak perempuan Indonesia yang cerdas, cakap dan mempunyai jiwa kepemimpinan yang mumpuni," katanya.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Jenderal Soedirman Ahmad Sabiq menambahkan presiden terpilih juga diharapkan membentuk kabinet yang proporsional.

"Presiden Joko Widodo jangan membentuk kabinet yang gemuk pada kabinet mendatang," katanya.

Dia mengatakan bahwa penyusunan kabinet harus wajar dan proporsional.

"Partai pendukung tentu harus diakomodasi tetapi tetap harus wajar dan proporsional. Jangan sampai malah menjadi tidak efisien," katanya.

Selain itu, dia juga berharap calon presiden terpilih untuk memilih menteri yang cakap dan profesional.

Baca juga: Menteri Susi Masuk 100 Perempuan Inspirasional BBC 2017

Sebelumnya, dia juga berharap calon presiden terpilih Joko Widodo selektif memilih menteri di kabinet mendatang.

Dia juga mengingatkan bahwa pemilihan menteri akan lebih optimal dengan melibatkan KPK dan PPATK.

"Dengan demikian diharapkan tidak ada calon menteri yang memiliki jejak korupsi," katanya.

Pewarta :
Editor: D.Dj. Kliwantoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar