Pertanian perkotaan terpadu perkuat agribisnis Kota Magelang (2)

id disperpa kota magelang

Pertanian perkotaan terpadu perkuat agribisnis Kota Magelang (2)

Salah satu bagian dari Kebun Bibit Senopati Kota Magelang. (ANTARA/Dok. Disperpa Kota Magelang)

Anak usia dini juga kami ajak untuk belajar menanam tanaman dan cara merawatnya, agar mereka gemar bercocok tanam
Magelang (ANTARA) - Melalui Dinas Pertanian dan Pangan, Pemerintah Kota Magelang memperkuat wujud daerah yang disebut juga sebagai "Kota Sejuta Bunga" itu, dengan membangun Kebun Bibit Senopati.

Pembangunan kebun bibit yang manfaatnya juga untuk kepentingan kekinian itu, menjadi bagian dari program pertanian perkotaan terpadu yang dilakukan Pemkot Magelang.

Sejumlah lainnya dalam pelaksanaan program itu, seperti pemanfaatan lahan pekarangan untuk produksi pangan, diversifikasi pangan lokal, pendampingan kelompok wanita tani, dan pengembangan budi daya tanaman hias.

Lahan seluas 4.000 meter persegi di Jalan Panembahan Senopati, Kelurahan Jurangombo Utara, Kecamatan Magelang Selatan, Kota Magelang dikembangkan untuk Kebun Bibit Senopati tersebut.

Sejak diresmikan pada 30 Maret 2015, kebun ini menjadi pusat pembibitan beragam tanaman hias. Setiap hari wisatawan juga dapat mengunjungi kebun bibit itu secara gratis.
 
Sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, komunitas pecinta tanaman hias pun diajak mengisi kios di kebun ini. Berbagai pelatihan budi daya tanaman hias juga kerap diselenggarakan di tempat itu.

Ke depan, selain tampil lebih segar, atraktif, dan dekoratif, metamorfosa Kebun Bibit Senopati diarahkan tak hanya menyuguhkan tanaman berbunga, namun juga tanaman buah-buahan.
 
Kasi Sarana dan Prasarana Disperpa Kota Magelang Yhan Noercahyo Wibowo didampingi pengelola kebun, Muatip, mengatakan setiap hari ratusan pengunjung datang ke kebun ini.

Jumlah pengunjung Kebun Bibit Senopati bisa mencapai 700 orang per hari, sedangkan pada hari libur bisa mencapai 1.200 orang.

“Kebun bibit ini tidak hanya untuk tempat pembibitan, tapi juga difungsikan sebagai sarana edukasi dan rekreasi,” ujarnya.
 
Kegiatan edukasi, meliputi pelatihan budi daya tanaman hias bagi masyarakat umum.

Beragam metode memperbanyak tanaman juga dipraktikkan di tempat itu, seperti teknik okulasi dan setek.

“Anak usia dini juga kami ajak untuk belajar menanam tanaman dan cara merawatnya, agar mereka gemar bercocok tanam,” ucap dia.
 
Di areal itu juga ada 250 jenis tanaman yang dikembangkan dengan ditampung di Green House Kebun Bibit Senopati.

Adapun tanaman langka yang menjadi koleksi kebun tersebut, di antaranya cakar macan, ketapang kencana, dan begonia.

“Setiap empat bulan sekali, ada penggantian tanaman dan pola tanamnya. Supaya pengunjung tidak bosan, dan setiap datang ke sini ada yang baru,” kata dia.
 
  Tak Luput
Sektor peternakan tak luput menjadi perhatian Disperpa untuk mewujudkan program pertanian perkotaan terpadu, dengan fokus pada upaya peningkatan konsumsi protein hewani masyarakat,

Kebijakan sektor peternakan mengarah pada peningkatan pelayanan dan kesehatan masyarakat veteriner melalui Unit Pelaksana Teknis Rumah Pemotongan Hewan dan peningkatan pelayanan kesehatan hewan dengan optimalisasi UPT Klinik Hewan dan Laboratorium Kesehatan Hewan atau Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).
 
Sejumlah kontes hewan peliharaan juga digelar setiap tahun, seperti kontes reptil, kelinci, dan kucing.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam urusan peternakan juga terus digiatkan. Prinsipnya, peternakan di Kota Magelang tidak boleh mengganggu kenyamanan dan berdampak pencemaran lingkungan sekitar.
 
Usaha jasa, seperti "pet shop" tumbuh sumbur di mana-mana dan jumlahnya mencapai puluhan unit. Mereka tidak hanya melayani pelanggan dalam kota, namun juga luar Kota Magelang.

Ditambah lagi munculnya peternak-peternak baru untuk anjing, kucing, dan kelinci.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang budi daya hewan ternak hingga pengolahan hasil ternak pascapanen, Disperpa kerap mengadakan pelatihan.
 
Kasi Peternakan Disperpa Sugiyanto menambahkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang gencar itu memang menunjukkan hasil yang signifikan.

Kini, sudah ada 20 peternak kelinci binaan Disperpa. Mereka juga diberikan pelatihan memanfaatkan urine dan kotoran kelinci menjadi obat penyubur tanaman.

Masyarakat di tingkat kelurahan juga dilatih pengelolahan makanan berbahan dasar daging kelinci, seperti abon kelinci, nugat, dan bakso.

                                                                 Membanggakan
Hal membanggakan lainnya di bidang peternakan, Kota Magelang memiliki UPTD Klinik Hewan dan Laboratorium Kesehatan Hewan (Lab Keswan) sejak 2008.

Dahulu, unit itu hanya bertempat di kantor dinas setempat, namun sekarang telah memiliki gedung sendiri di Jalan Pahlawan Nomor 6 Kota Magelang.

Gedung itu meliputi satu ruang pemeriksaan, satu ruang bedah, lima ruang untuk penitipan hewan sehat, dan tiga ruang rawat inap.

Kini, klinik tersebut menuju fungsi yang lebih luas sebagai puskeswan. Di klinik ini, 10 pelayanan tersedia, di antaranya penitipan hewan sakit, penitipan hewan sehat, pelayanan kesehawan hewan, laboratorium kesehatan hewan, bedah, inseminasi buatan, salon hewan (grooming), vaksinasi, ultrasonografi (USG), dan elektrokardiografi (EKG). Ke depan, jumlah pelayanan akan ditambah.

Di tempat itu, pelayanan khusus vaksinasi rabies secara gratis, sedangkan tarif pelayanan lain diatur oleh peraturan daerah (perda).
Pelaksanaan tebar benih ikan oleh masyarakat diselenggarakan Disperpa Kota Magelang (ANTARA/Dok. Disperpa Kota Magelang)

 
Kepala UPTD Klinik Hewan dan Lab Keswan Heru Trisusila menyatakan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan hewan sudah meningkat seiring bertambahnya jumlah kunjungan pasien.

“Pasien di sini tidak hanya kucing dan anjing saja, tapi ada tupai, burung, kelinci, dan sebagainya,” ungkapnya.
 
Selain menjalankan fungsi pemeriksaan kesehatan hewan, klinik itu juga melaksanakan pengawasan perdagangan hewan antardaerah.

Pihaknya menerbitkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) saat ada aktivitas keluar masuk hewan ternak di Kota Magelang. Satu SKKH bisa untuk enam ekor hewan.
 
Surat itu untuk mengendalikan penularan penyakit antarhewan atau hewan ke manusia.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan sosialisasi dengan mengandeng komunitas pecinta hewan.  

  Masih Rendah
Potensi sektor perikanan di Kota Magelang yang saat ini mencapai 6,5 hektare, di sisi lain tingkat konsumsi ikan relatif masih rendah.

Pada 2018, total produksi 152,44 ton dengan angka konsumsi ikan mencapai 23,25 kilogram per kapita per tahun.

Bersama Forum Peningkatan Komunikasi Ikan dan warga setempat, Disperpa terus mengampanyekan gerakan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).
 
Kasi Perikanan Disperpa Windo Atmoko menjelaskan pihaknya memiliki agenda rutin untuk memasyarakatkan Gemarikan dengan sasaran anak usia dini.

Bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia, pihaknya juga melakukan pelepasan benih ikan ke sungai untuk menjaga ekosistem setempat.

Selain itu, untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia perikanan, Disperpa rutin menggelar Lomba Lantip Terampil dan Trengginas (LTT) bagi pembudidaya dan pemasaran ikan.

Khusus untuk ibu-ibu, pihaknya juga mengadakan pelatihan inovasi makanan dari pengolahan ikan agar menu lebih bervariasi dan masyarakat, khususnya anak-anak, menyukai ikan.
 
Terkait dengan produksi bibit ikan hias maupun konsumsi, masih terus dihasilkan melalui Balai Benih Ikan.

Sejumlah kontes dan lomba juga rutin digelar untuk menggali potensi perikanan di Kota Magelang, seperti lomba ikan hias, lomba masakan berbahan baku ikan, dan lomba aquascape.

*) Among Wibowo, Penyuluh Pertanian Madya Dinas Pertanian dan Pangan Kota Magelang

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar