Telaah - SOGA, solusi listrik gratis

id SOGA,kota magelang

Telaah - SOGA, solusi listrik gratis

Ilustrasi - Perangkat SOGA, pengubah cahaya Matahari jadi energi listrik melalui solar panel dipasang di salah satu instansi Pemkot Magelang. (ANTARA/Humas Pemkot Magelang)

Magelang (ANTARA) - Target Indonesia terhadap penggunaan bauran energi melalui Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 22,5 persen pada 2025.

Langkah yang dilakukan yaitu mengoptimalkan pemanfaatan energi setempat untuk pembangkitan tenaga listrik dan pemilihan teknologi yang lebih efisien sehingga dapat menurunkan biaya pokok penyediaan tenaga listrik.

Salah satu rintisan yang dilakukan di Kota Magelang adalah inovasi sistem Smart On Grid Actuator (SOGA) yang mengubah cahaya Matahari menjadi energi listrik melalui solar panel.

Pada 2017, SOGA masih dalam bentuk Konsep Otonom Surya. Saat itu juga ada Kompetisi Ide Gila diselenggarakan Pertamina, dan SOGA masuk nomine TOP 100 dalam hal terobosan produk dan teknologi,

Berlanjut pada 2018, SOGA diikutsertakan dalam ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat di Kota Magelang dengan pengajuan judul Sistem Pembangkit Listrik di Jalan Raya.

Sistem itu menargetkan pemanfaatan tiang penerangan jalan umum yang diintegrasikan dengan sistem ongrid, hasilnya berupa apresiasi terhadap Wali Kota Magelang sebagai inovator di bidang energi.

Pada 2018, Konsep Otonom Surya dan Sistem Pembangkit Listrik di Jalan Raya diintegrasikan dan didesiminasikan dalam bentuk prototipe dengan produk SOGA.

Dalam proses pengembangannya, prototipe SOGA difasilitasi oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Magelang, berupa satu unit SOGA terpasang dengan spesifikasi yang telah terdaftar sebagai paten, dengan nomor S00201709095 memiliki spesifikasi utama:  

1. Panel 1.000 WP Max. Daya (Pmax) 250W, Maks. Tegangan Daya (Vmp) 31,4V, Maks. Arus Daya (Imp) 7.96A, Tegangan Sirkuit Terbuka (Voc) 37.6V, Arus Sirkuit Pendek (Isc) 8.53A, Maks. Tegangan Sistem 1.000 Vdc, Maks. Seri Fuse 15A, Dimensi (mm) 1645x995x50, sebanyak empat panel.
 
2. Ongrid Inverter Model 1K-SM, Tegangan rangkaian terbuka array PV maksimum 500 Vdc, Total arus pendek array array PV maksimum 11A, Tegangan input nominal 360 Vdc, Tegangan input operasi voltgae kisaran 80-450 Vdc, Tegangan output nominal 230 Vac , Frekuensi output nominal 50 Hz, Arus keluaran kontinu maksimum 5A, Nominal active power Pn 1.000W, Faktor daya (Cosphi)> 0,99, Ingress protection IP65, Protect class I.
 
3. Kabel 4 mm yang digunakan untuk menyambungkan hasil perolehan listrik dari solar panel menuju Ongrid Inverter Model 1K-SM, dan instalasi listrik terpasang di Balitbang Kota Magelang.
 
4. Panel Braket Kustom memiliki fungsi untuk penopang solar panel dengan bahan dari besi yang pemasangannya disesuaikan dengan ketersediaan lokasi terhadap asupan sinar matahari paling maksimal.

5. Actuator Kontrol Kustom berbentuk boks yang berisi rangkaian elektronik yang telah diprogram untuk menggerakkan solar panel melalui actuator yang telah terpasang.

6. Actuator/Gearbox memiliki fungsi untuk menggerakkan solar panel sesuai dengan kebutuhan, actuator ini dapat digerakkan secara manual dan otomatis.

7. Sekring terletak di sebelah Ongrid Inverter Model 1K-SM, sebagai pengatur ulang SOGA apabila dibutuhkan perawatan atau hal lain yang perlu dilakukan terhadap SOGA.  

8. Box Panel/Penghitung Daya yang memberikan informasi hasil yang diperoleh setiap waktu pada saat SOGA beroperasi, dengan informasi meliputi cosphi, jam beroperasi, jumlah Kwh yang diperoleh, jumlah watt yang diperoleh, jumlah ampere pada saat beroperasi dan voltage pada saat SOGA berproduksi.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Magelang dalam mendesiminasikan SOGA menggandeng AKPRIND Yogyakarta untuk pendampingan dari sisi substansi terhadap perangkat yang diintegrasikan dalam SOGA.

Setelah dilakukan proses pengembangan inilah akhirnya SOGA menjadi produk yang telah dapat digunakan. Produk yang terpasang di halaman Balitbang Kota Magelang ini memiliki fungsi menyerap energi panas dari sinar Matahari.

Penyerap panas Matahari menggunakan solar cell yang memiliki keunggulan mengikuti arah sinar Matahari dari pagi sampai dengan sore hari secara otomatis, dan pada sore hari posisi solar cell kembali lagi ke posisi menghadap Matahari terbit.

Keunggulan berikutnya adalah energi yang dihasilkan langsung terkoneksi dengan meter listrik terpasang (PLN) di Balitbang.

Dari data pemantauan produk dalam satu bulan rata-rata dapat menghemat listrik sekitar 17-30 persen, tergantung sinar Matahari.

Keunikan dari produk ini terlihat pada saat libur kantor, meter listrik bergerak mundur, meskipun listrik digunakan untuk kebutuhan selain pada jam kerja.

Keunikan/keunggulan produk (unique selling proposition), memiliki desain yang ergonomis, dimensi alat yang kecil (mini) dan dimodel bongkar pasang agar mudah dalam pengemasan, perakitan, dan pengiriman.

Mudahnya pemasangan braket otonom dan bahan baku dipakai supaya tahan akan kondisi cuaca di Indonesia pada khususnya.

Tracker otonom petunjuk pemasangan produk pada kemasan untuk meminimalisasi tingkat kesalahan pemasangan dan kerusakan. Braket otonom terpasang panel lebih bisa dipakai lebih optimal menghasilkan energi listrik dalam pemakaian bergerak maupun statis diam.
Ilustrasi - Perangkat SOGA, pengubah cahaya Matahari jadi energi listrik melalui solar panel dipasang di salah satu instansi Pemkot Magelang. (ANTARA/Humas Pemkot Magelang)

Produk inovasi itu cocok untuk setiap daerah kerja. Inovasi "seed matering device" yang sederhana, dapat dipakai dengan jenis bentuk panel surya yang ada di pasaran.

Penghematan dan kestabilan energi listrik yang diproduksi, standar ketahanan produk yang teruji dan bergaransi. Pelayanan purnajual dari perawatan dan suku cadang.

Dengan hasil yang diperoleh selama proses pemantauan yang dilakukan oleh peneliti di Balitbang, masih memiliki potensi untuk memperoleh serapan energi lebih besar karena produk yang terpasang masih belum 100 persen mampu menyerap sinar Matahari.

Hal ini terjadi karena posisi produk terpasang di areal yang ada di antara pohon dan bangunan, sehingga terkadang sinar Matahari terhalang oleh pohon dan bangunan tersebut yang berakibat serapan belum maksimal.

Produk ini dapat bertahan selama 20 tahun, sehingga sangat cocok dipasang pada penerangan jalan umum, atau di areal lingkup pemerintah sehingga dapat menghemat anggaran belanja untuk penggunaan listrik, baik di fasilitas umum maupun di pemerintahan.

*) Andjar Prasetyo, Peneliti Balitbang Kota Magelang
 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar