Purwokerto (ANTARA) - Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Maulana Rizki Aditama menekankan perlunya penguatan desa tangguh bencana (destana) di sekitar Gunung Slamet Provinsi Jateng untuk menghadapi berbagai ancaman bencana, tidak hanya erupsi, tetapi juga banjir dan longsor.
"Destana dapat menjadi garda terdepan mitigasi bencana karena warga juga perlu disosialisasikan untuk selalu siap, menjaga aliran sungai, dan mengikuti instruksi evakuasi. Selain fokus pada potensi erupsi, destana juga harus memperhatikan risiko banjir dan longsor, yang kerap terjadi saat curah hujan tinggi," katanya dosen Teknik Geologi Unsoed itu di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Rabu.
Ia mengatakan langkah preventif yang melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah desa, warga, hingga lembaga terkait penting dilakukan untuk meminimalisasi risiko bencana.
Menurut dia, edukasi bencana dan kesiapsiagaan lokal menjadi kunci agar setiap warga mengetahui jalur evakuasi, potensi bahaya, dan cara menghadapi curah hujan ekstrem yang dapat memicu banjir maupun longsor.
"Dengan penguatan destana, warga di lereng Gunung Slamet diharapkan tidak hanya siap menghadapi erupsi, tetapi juga bencana hidrometeorologi yang berulang, termasuk banjir dan longsor. Ini akan menjamin keselamatan masyarakat dan mencegah kerugian yang lebih besar," katanya.
Dia mengatakan banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah Kabupaten Pemalang dan Purbalingga serta banjir lumpur di sejumlah sungai yang masuk wilayah Banyumas pada Jumat (23/1) malam hingga Sabtu (24/1) dini hari tidak semata akibat faktor hidrometeorologi.
Dalam hal ini, hujan lebat di sekitaran lereng Gunung Slamet memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang permukiman maupun area pertanian di sejumlah wilayah Purbalingga dan Pemalang, serta kekeruhan air sejumlah aliran sungai di Banyumas.
"Saat ini, kami belum memiliki studi detail mengenai mengapa wilayah Purbalingga dan Pemalang terdampak lebih parah dibanding bagian barat dan selatan Gunung Slamet. Penelitian eksperimental yang menjelaskan perbedaan dampak di arah-arah tersebut belum dilakukan," katanya.
Namun, katanya, secara asumsi perbedaan tersebut kemungkinan berkaitan dengan topografi dan karakteristik material di sekitar Gunung Slamet.
Menurut dia, elevasi dan sudut kemiringan lereng yang berbeda serta variasi material pembawa aliran air juga bisa memengaruhi hujan dan banjir terjadi di tiap arah, sehingga faktor alamiah seperti zona longsor dan karakter material tampak lebih dominan.
"Peristiwa banjir (di lereng Gunung Slamet) seperti ini sebenarnya pernah terjadi beberapa waktu lalu di Guci, Kabupaten Tegal. Perbedaannya, banjir kali ini terjadi dengan skala lebih besar, kemungkinan karena intensitas hujan dan jumlah material yang terbawa lebih banyak," katanya.
Terkait dengan hal itu, dia mengatakan ke depan penting dilakukan penelitian mendalam untuk memahami fenomena tersebut, khususnya untuk menjawab pertanyaan tentang Purbalingga dan Pemalang cenderung mengalami banjir lebih parah dibandingkan dengan wilayah lain.
Menurut dia, kajian tersebut bisa membantu upaya mitigasi bencana yang lebih tepat sasaran.
"Yang penting saat ini adalah mitigasi dan pengawasan terhadap seluruh aktivitas di Gunung Slamet. Pemerintah dan pihak terkait harus memantau perizinan, memberi edukasi kepada warga, serta memastikan aktivitas industri atau pertanian tidak memperparah risiko bencana," kata Maulana.
Baca juga: Pemprov Jateng: Bencana longsor area Gunung Slamet bukan karena penambangan