Logo Header Antaranews Jateng

Produksi minyak sumur tua di Blora menghasilkan pendapatan hingga Rp24,3 miliar

Senin, 18 Mei 2026 15:56 WIB
Image Print
Direktur Utama PT Blora Patra Energi (BPE) Giri Nur Baskoro. (ANTARA/Gunawan.)

Blora (ANTARA) - PT Blora Patra Energi (BPE) yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mencatat pendapatan dari minyak yang dihasilkan dari sumur tua mencapai Rp24,3 miliar sepanjang tahun 2025.

"Pendapatan sebesar itu, berasal dari produksi minyak di Lapangan Ledok, Kecamatan Sambong, dan Lapangan Semanggi, Kecamatan Jepon, yang dikelola bersama para penambang minyak tua," kata Direktur Utama PT Blora Patra Energi Giri Nur Baskoro di Blora, Senin.

Ia mencatat pada tahun 2025 jumlah sumur aktif yang berproduksi mencapai 100 sumur, terdiri dari 96 sumur di Lapangan Ledok dan empat sumur di Semanggi," ujarnya.

Dari jumlah tersebut, total produksi minyak sepanjang 2025 mencapai sekitar 5.226.000 liter. Khusus di Lapangan Ledok, rata-rata produksi per sumur mencapai sekitar 250 liter per hari, meski kapasitas produksi masing-masing sumur berbeda.

Ia menjelaskan BPE mendapat mandat dari Pertamina untuk mengoperasikan sekitar 115 sumur tua di Lapangan Ledok dan empat sumur di Lapangan Semanggi.

Menurut dia, tren produksi minyak sumur tua di Blora masih menunjukkan perkembangan positif. Hingga April 2026, jumlah sumur aktif yang mengirimkan produksi meningkat menjadi 115 lokasi sumur.

Dalam pengelolaan minyak mentah tersebut, perhitungan harga mengacu pada Indonesian Crude Price (ICP). Pada Februari 2025, ICP tercatat sebesar 61,02 dolar Amerika Serikat per barel dengan kurs Bank Indonesia sebesar Rp16.828 per dolar AS.

Perhitungan harga minyak mentah dilakukan menggunakan formula 70 persen dikalikan ICP dan kurs BI, kemudian dibagi konversi 158,987 liter per barel. Dari formula tersebut diperoleh harga sekitar Rp4.521,10 per liter.

Harga tersebut menjadi dasar pembagian hasil antara mitra dan BUMD, dengan komposisi mitra memperoleh 80 persen dan BUMD sebesar 20 persen.

Selain itu, dalam skema pengelolaan juga diperhitungkan kualitas minyak mentah, termasuk kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) sebesar dua persen serta alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) desa sekitar 0,5 persen.

Giri menambahkan BPE turut memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Blora sebesar 6 persen per tahun dari total keuntungan perusahaan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan daerah.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), BPE juga membantu pembangunan rumah tidak layak huni (RTLH) di Kabupaten Blora.

Sebelumnya, pada tahun 2024 BPE membukukan pendapatan sekitar Rp62,19 miliar dari produksi harian gabungan mencapai 43.360 liter per hari di Lapangan Ledok dan Lapangan Semanggi.

Jumlah itu meliputi hasil produksi dari Lapangan Ledok sebesar 7.322 galon AS atau sekitar 27.710 liter per hari dan Lapangan Semanggi sebesar 4.134 galon AS atau sekitar 15.650 liter per hari.

Sementara pada periode 1-13 November 2023, produksi minyak BPE tercatat sebesar 410.651,31 liter atau setara 2.582,71 barel, yang berasal dari Lapangan Ledok sebesar 231.898,70 liter dan Lapangan Semanggi sebesar 178.752,61 liter.

Baca juga: DPRD: Terbitnya izin operasi sumur minyak rakyat gerakkan ekonomi desa



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026