Bersama Meminimalkan Risiko Dampak Bencana
Senin, 11 Desember 2017 17:47 WIB
Sejumlah warga membantu menyingkirkan longsoran tanah dari rumah dua korban meninggal di Dukuh Bangle Desa Dlepih Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri, Rabu. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Bambang Dwi Marwoto)
Semarang, ANTARA JATENG -Â Desember ini, bumi nusantara memasuki musim penghujan. Hujan sudah merata terjadi di wilayah Indonesia dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan akan terjadi hingga Februari 2018.
Musim penghujan yang disertai cuaca ekstrem menjadikan upaya meminimalkan risiko dampak bencana urgen dilakukan. Apalagi sejumlah daerah tertimpa bencana seperti banjir, longsor, dan terkena dampak angin puting beliung.
Beragam risiko dampak bencana yang mungkin terjadi di antaranya: kelangkaan pangan dan sandang, kekurangan air bersih, penyebaran penyakit, kerugian harta benda, juga kepanikan harus diminimalkan dan diantisipasi.
Upaya BPBD yang memasang rambu-rambu peringatan seperti jalan-jalan, tebing, dataran tinggi, wilayah pegunungan yang rawan longsor, tanah rawan bergerak hingga jalur evakuasi di sejumlah lokasi di daerah rawan longsor juga harus diperhatikan oleh masyarakat, sehingga dapat mengenali wilayahnya dengan baik.
Mitigasi atau pengurangan risiko bencana tentu tidak hanya menjadi tugas dari pemerintah yakni para jajaran Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang harus siap siaga, tetapi perlu peran serta dari masyarakat yang berada di daerah rawan bencana yang harus dipersiapkan dan selalu waspada.
Besarnya risiko dapat dikurangi oleh pengetahuan dan kemampuan masyarakat akan bencana. Dalam hal ini masyarakat harus tahu tempat-tempat menyelamatkan diri dan tahu bagaimana cara menyelamatkan diri, tidak panik saat bencana terjadi. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga ketersediaan pangan.
Musim penghujan yang disertai cuaca ekstrem menjadikan upaya meminimalkan risiko dampak bencana urgen dilakukan. Apalagi sejumlah daerah tertimpa bencana seperti banjir, longsor, dan terkena dampak angin puting beliung.
Beragam risiko dampak bencana yang mungkin terjadi di antaranya: kelangkaan pangan dan sandang, kekurangan air bersih, penyebaran penyakit, kerugian harta benda, juga kepanikan harus diminimalkan dan diantisipasi.
Upaya BPBD yang memasang rambu-rambu peringatan seperti jalan-jalan, tebing, dataran tinggi, wilayah pegunungan yang rawan longsor, tanah rawan bergerak hingga jalur evakuasi di sejumlah lokasi di daerah rawan longsor juga harus diperhatikan oleh masyarakat, sehingga dapat mengenali wilayahnya dengan baik.
Mitigasi atau pengurangan risiko bencana tentu tidak hanya menjadi tugas dari pemerintah yakni para jajaran Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang harus siap siaga, tetapi perlu peran serta dari masyarakat yang berada di daerah rawan bencana yang harus dipersiapkan dan selalu waspada.
Besarnya risiko dapat dikurangi oleh pengetahuan dan kemampuan masyarakat akan bencana. Dalam hal ini masyarakat harus tahu tempat-tempat menyelamatkan diri dan tahu bagaimana cara menyelamatkan diri, tidak panik saat bencana terjadi. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga ketersediaan pangan.
Pewarta : Nur Istibsaroh
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BAIC unjuk gigi di GIIAS Semarang 2026, tebar diskon hingga Rp91 juta dan gratis cicilan dua bulan
01 October 2026 17:18 WIB
Terpopuler - TAJUK
Lihat Juga
Kurikulum di tengah ledakan teknologi: mengubah isi, proses, dan cara menilai pembelajaran
01 October 2026 13:45 WIB
Gunung meletus, pesawat berhenti: jangan tunggu bencana baru menghitung biaya
10 September 2026 9:59 WIB
Paradoks Transformasi Ekonomi: agenda megah di tengah celah likuiditas dan fiskal
09 September 2026 12:35 WIB
Memahami Bayani sebagai pendekatan dan metode: aplikasinya dalam produk tarjih tentang riba
07 September 2026 16:18 WIB
PEKERTI-AA Generasi Baru: lima transformasi menuju pengembangan dosen yang berdampak
21 August 2026 13:51 WIB