Logo Header Antaranews Jateng

Nuzululqur'an, tradisi ilmu, dan pesan pendidikan dalam Islam

Jumat, 6 Maret 2026 19:45 WIB
Image Print
Nika Dewi Indriati, Pemerhati Pendidikan, Guru SMKN 6 Semarang. ANTARA/HO-Dokumentasi pribadi

Semarang (ANTARA) - Sejarah Islam bermula dari sebuah peristiwa sunyi di sebuah gua kecil di Jabal Nur, di pinggiran Mekah. Pada usia empat puluh tahun, Nabi Muhammad sedang berkhalwat, merenungi keadaan masyarakatnya yang tenggelam dalam kekerasan, ketimpangan, dan kebodohan.

Di tempat itulah Malaikat Jibril datang membawa pesan pertama dari langit: sebuah kata sederhana yang kemudian mengubah arah sejarah manusia, Iqra’, bacalah.

Al-Qur’an merekam peristiwa ini dalam lima ayat pertama Surah Al-‘Alaq. Ayat ini sering disebut sebagai wahyu pertama yang menandai dimulainya risalah kenabian.

“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq. Khalaqal-insaana min ‘alaq. Iqra’ wa rabbukal akram. Alladzi ‘allama bil-qalam. ‘Allamal-insaana maa lam ya’lam.”
(QS. Al-‘Alaq [96]: 1–5)

Artinya:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ayat ini memiliki makna yang sangat dalam. Di tengah masyarakat Arab yang pada masa itu sebagian besar belum mengenal tradisi literasi, wahyu pertama justru dimulai dengan perintah membaca dan menyebut “pena” sebagai alat ilmu pengetahuan. Pesannya jelas: Islam sejak awal berdiri di atas fondasi ilmu.

Para ulama klasik menjelaskan peristiwa ini dalam banyak karya mereka. Dalam kitab *Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an*, ulama besar abad ke-15 Jalaluddin As-Suyuthi menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki dua tahap penurunan.

Pertama, ia diturunkan sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Kedua, ia diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad selama sekitar 23 tahun.

Metode penurunan bertahap ini bukan tanpa makna. Para ulama melihatnya sebagai metode pendidikan ilahi. Masyarakat tidak dibebani dengan aturan sekaligus, tetapi dibimbing sedikit demi sedikit hingga mampu memahami nilai-nilai Islam secara utuh.

Al-Qur’an sendiri menyinggung peristiwa turunnya wahyu itu dalam Surah Al-Qadr.

Innaa anzalnaahu fii lailatil-qadr.”
(QS. Al-Qadr [97]: 1)

Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

Dalam ayat lain juga disebutkan:

Innaa anzalnaahu fii lailatin mubaarakah.”
(QS. Ad-Dukhan [44]: 3)

Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.”

Para mufasir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa malam yang dimaksud adalah Lailatul Qadar, malam yang memiliki kedudukan sangat agung dalam Islam karena menjadi awal turunnya wahyu yang membimbing manusia.

Namun jika dilihat lebih jauh, pesan terbesar Nuzululqur’an bukan hanya tentang waktu turunnya wahyu, tetapi tentang semangat yang dibawanya: membangun peradaban ilmu.

Perintah membaca dalam Al-Qur’an tidak hanya berarti membaca teks. Ia juga berarti membaca alam semesta, memahami sejarah, dan merenungi kehidupan. Banyak ayat Al-Qur’an yang mengajak manusia berpikir tentang langit, bumi, pergantian siang dan malam, bahkan perjalanan bangsa-bangsa terdahulu.

Di sinilah para pemikir Islam modern menemukan makna pendidikan yang sangat kuat dalam Nuzululqur’an.

Filsuf Muslim Muhammad Iqbal, misalnya, menilai bahwa Al-Qur’an mendorong manusia untuk menggunakan akal dan melakukan eksplorasi ilmiah terhadap alam semesta.

Menurut Iqbal, Al-Qur’an bukan kitab yang menghambat rasionalitas, tetapi justru menjadi inspirasi lahirnya ilmu pengetahuan.

Pemikir Muslim lainnya, Fazlur Rahman, melihat Al-Qur’an sebagai kitab moral yang bertujuan mentransformasi masyarakat. Wahyu tidak sekadar berisi aturan ibadah, tetapi juga membangun kesadaran sosial, keadilan, dan tanggung jawab manusia terhadap sesama.

Di Indonesia, cendekiawan Muslim Nurcholish Madjid menafsirkan kata Iqra’ sebagai simbol pembebasan dari kebodohan. Ia menekankan bahwa peradaban Islam tumbuh karena umatnya menghargai ilmu pengetahuan.

Sejarah membuktikan hal itu. Beberapa abad setelah Nuzululqur’an, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Kota Baghdad, Kairo, hingga Cordoba menjadi pusat perpustakaan, universitas, dan penelitian ilmiah.

Para ilmuwan Muslim seperti Al-Khwarizmi dalam matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, dan Ibnu Khaldun dalam ilmu sosial lahir dari tradisi intelektual yang berakar pada perintah Iqra’

Namun pesan Nuzululqur’an tidak hanya intelektual. Ia juga memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Dalam tradisi tasawuf, membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas intelektual, tetapi juga perjalanan batin untuk mendekat kepada Tuhan.

Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa seseorang baru benar-benar memahami Al-Qur’an ketika ia membaca ayat-ayatnya dengan kesadaran bahwa wahyu itu seakan ditujukan langsung kepada dirinya.

Karena itu, peringatan Nuzululqur’an setiap bulan Ramadhan sebenarnya bukan sekadar seremoni keagamaan. Ia merupakan momentum untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi dalam kehidupan: membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilainya.

Di tengah dunia modern yang dipenuhi informasi, pesan ini terasa semakin relevan. Manusia hari ini membaca lebih banyak dari generasi mana pun dalam sejarah, tetapi tidak selalu memahami apa yang dibaca.

Nuzululqur’an mengingatkan bahwa membaca harus disertai kesadaran moral dan spiritual. Ilmu tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan.

Barangkali di situlah keindahan yang sering tersembunyi dari peristiwa turunnya Al-Qur’an. Ia bukan sekadar peristiwa sejarah yang terjadi empat belas abad lalu. Ia adalah panggilan abadi bagi manusia untuk terus belajar, berpikir, dan mencari kebenaran.

Semua itu dimulai dari satu kata sederhana yang turun di sebuah gua sunyi di Mekah: Iqra’. Sebuah kata yang kemudian menjadi fondasi lahirnya peradaban ilmu.

* Pemerhati Pendidikan, Guru SMKN 6 Semarang



Oleh

COPYRIGHT © ANTARA 2026