Logo Header Antaranews Jateng

Undip gandeng Kemenlu gelar kuliah "public diplomacy"

Kamis, 9 April 2026 20:51 WIB
Image Print
Pimpinan Universitas Diponegoro Semarang beserta jajaran Kementerian Luar Negeri usai penyelenggaraan kuliah "public diplomacy" di kampus Undip, Semarang, Selasa (7/4/2026). (ANTARA/HO-Undip)

Semarang (ANTARA) - Universitas Diponegoro Semarang bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Diplomasi Publik menyelenggarakan kuliah "public diplomacy" dengan tema "Diplomasi Maritim Indonesia: Arus Utama Soft Power dalam Isu Kedaulatan dan Hukum Laut".

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung ICT lantai 5 Kampus Undip Tembalang, Semarang, Selasa (7/4), dihadiri oleh pimpinan universitas dan fakultas di Undip, pimpinan Direktorat Diplomasi Publik Kemenlu RI, serta mahasiswa.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip Prof. Dr.rer.nat. Ir. Heru Susanto, dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya kuliah "public diplomacy" yang bekerja sama dengan Kemenlu.

"Patut bersyukur dapat mengikuti acara Public Diplomacy ini. Mudah-mudahan kita bertambah wawasan tentang diplomasi maritim," katanya.

Ia mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mengelola wilayah maritimnya.

"Kebetulan kita tinggal di Indonesia yang kepulauan dan maritim. Hal tersebut merupakan anugerah dari Tuhan, sehingga kita harus menjaganya," katanya.

Namun, kata dia, tentunya perlu melakukan diplomasi dengan negara lain agar Indonesia berdaulat memanfaatkan kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat.

Direktur Diplomasi Publik Kemenlu Ani Nigeriawati menyampaikan bahwa Kemenlu telah menjalin kerja sama dengan Undip, termasuk dalam penyelenggaraan kuliah "public diplomacy".

"'Public Diplomacy Goes to Campus' merupakan bentuk kemitraan Kemenlu dengan Undip sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik," kata alumnus FISIP Undip tersebut.

Ia menekankan bahwa diplomasi publik, khususnya diplomasi maritim saat ini penting untuk dikaji, mengingat Semarang adalah kota pelabuhan yang menjadi pintu interaksi dan diplomasi dengan dunia.

"Tentunya sangat tepat jika berbicara mengenai diplomasi maritim di Semarang. Karena Semarang sejak menjadi Kota Pelabuhan dan menjadi pintu interaksi Indonesia dengan dunia," katanya.

Setelah sesi diskusi, dilanjutkan dengan pemutaran film dengan judul "12 Mile: Guiding The Archipelago" yang mempelajari keteladanan dari Mochtar Kusumaatmadja yang merupakan diplomat dan juga Menteri Luar Negeri.

Mochtar Kusumaatmadja terus memperjuangkan wilayah laut Indonesia dari 3 mil menjadi 12 mil supaya Indonesia menjadi negara yang berdaulat dalam memanfaatkan kekayaan alam laut.

Sementara itu, Dr. M. Agus Imanuddin yang merupakan produser film 12 Mile, mengungkapkan bahwa alasan pembuatan film tersebut adalah untuk mengenalkan sosok Mochtar Kusumaatmadja yang jasanya sangat besar bagi bangsa Indonesia mengenai kedaulatan maritim.

"Banyak orang yang tidak kenal sosok Mochtar Kusumaatmadja. Padahal jasanya besar bagi bangsa Indonesia. Itu yang melatarbelakangi supaya lebih dikenal oleh banyak orang, terutama di kalangan generasi sekarang," katanya.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026