Logo Header Antaranews Jateng

Pemkab Kudus pastikan tingkat inflasi di Kudus masih tetap terkendali

Jumat, 3 April 2026 05:25 WIB
Image Print
Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto berikan sambutan pada rilis inflasi di kantor BPS Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Kamis (2/4/2026). Hadir Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kudus Djatmiko Muhardi didampingi Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Teguh Riyanto. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif.)

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memastikan tingkat inflasi pada Maret 2026 tetap terkendali, karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi di Kudus tercatat sebesar 0,47 persen.

"Hal terpenting yang harus dijaga adalah ketersediaan komoditas bahan pokok masyarakat. Untuk itu, pemkab rutin melakukan pemantauan harga maupun stok guna memastikan ada tidaknya lonjakan harga maupun kelangkaan stok," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kudus Djatmiko Muhardi saat menghadiri rilis inflasi di Kantor BPS Kabupaten Kudus, Kamis (2/4).

Menurut dia, ketersediaan dan distribusi komoditas pokok tetap lancar di pasaran menjadi salah satu kunci pengendalian inflasi.

Apalagi, kata dia, kelancaran distribusi sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga.

Jika distribusi terganggu atau barang terserap di satu wilayah saja, maka pasokan di daerah lain berkurang dan berpotensi memicu kenaikan harga.

Selain itu, daya beli masyarakat juga turut mempengaruhi kondisi inflasi.

Ia mengungkapkan Kudus bukan daerah penghasil utama komoditas bahan pokok sehingga inflasi tetap harus dikendalikan melalui pengawasan distribusi dan kecukupan pasokan.

Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto mengungkapkan tingkat inflasi Kudus pada Maret 2026 lebih rendah dibandingkan rata-rata Jawa Tengah yang mencapai 0,57 persen.

Ia menyebutkan sejumlah komoditas yang memberikan andil inflasi, di antaranya daging ayam ras, angkutan antarkota, bahan bakar minyak (BBM), ikan bandeng, dan udang basah. Sementara komoditas yang menyumbang deflasi meliputi cabai rawit, cabai merah, bawang putih, wortel, dan cumi-cumi.

"Harga cabai pada Februari 2026 sempat tinggi, namun saat memasuki Maret 2026 yang bertepatan dengan Ramadhan justru mengalami penurunan sehingga memberikan andil deflasi," jelasnya.

Eko menambahkan berdasarkan data historis lima tahun terakhir, inflasi cenderung terjadi pada setiap momen Ramadhan.

Namun, inflasi pada Ramadhan 1447 H tercatat lebih rendah dibandingkan Ramadan 1446 H maupun 1445 H.

Secara umum, harga komoditas yang berfluktuasi dari kelompok makanan, minuman dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi selama periode tersebut.


Baca juga: Bupati Kudus: ASN jalani WFH wajib membagikan lokasi



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026