Logo Header Antaranews Jateng

Pemkab Kudus upayakan bantuan RSLH keluarga yang tinggal di tritis belakang rumah

Selasa, 5 Mei 2026 15:51 WIB
Image Print
Sutinah (49) warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menunjukkan isi tempat tinggalnya di bawah tritis belakang rumah warga berukuran 1,5x6 meter karena belum mampu membangun rumah sendiri, Selasa (5/5/2026). ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif

Kudus (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah segera mengupayakan bantuan rumah sederhana layak huni (RSLH) terhadap keluarga yang sejak enam tahun terpaksa menempati tritis belakang rumah warga Desa Jepangpakis, karena belum mampu membangun rumah sendiri.

"Kami sudah melakukan asesmen terhadap keluarga Sutinah (49) yang merupakan warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kudus. Sebelumnya memang sudah ada penawaran dari pihak desa untuk menempati ruko milik desa dengan tempat yang lebih layak dan tersedia MCK," kata Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kudus Putut Winarno di Kudus, Selasa.

Dengan harapan, kata dia, ketika bersedia menempati kios milik pemerintah desa, keluarga tersebut bisa sambil menunggu pengurusan sertifikat tanahnya jadi untuk diusulkan bantuan RSLH, baik melalui pemerintah daerah maupun lewat program tanggung jawab sosial perusahaan swasta atau program Coorporate Social Responsibility (CSR).

Rencananya, imbuh dia, dalam waktu dekat, keluarga tersebut akan menempati kios milik desa, sembari menunggu usulan bantuan RSLH.

"Keluarga tersebut juga akan mendapatkan jaminan pengobatan ketika sakit melalui Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JKN)," ujarnya.

Pemkab Kudus melalui BPBD dan Dinsos juga akan mendistribusikan bantuan, mulai dari family kit hingga paket sembako.

Kondisi tempat yang dijadikan tempat tinggal keluarga Sutinah (49) bersama suaminya Sulatin (48) dan putrinya yang masih duduk di bangku kelas VII SMP memang memprihatinkan. Hanya menempati tritis belakang rumah warga yang kebetulan diapit dengan bangunan tembok tempat usaha dengan ditutup anyaman bambu dan kain seadanya.

Di dalam ruangan berukuran 1x6 meter tersebut, selain terdapat satu dipan yang dipakai tidur bertiga juga dipakai untuk mencuci pakaian dan memasak.

Sutinah mengakui terpaksa menempati tritis rumah warga sejak tidak mampu membayar sewa kontrakan, meskipun setiap tahunnya hanya Rp1 juta. Kemudian, warga sekitar mempersilakan tritis rumah bagian belakangnya dipakai untuk tempat tinggal sementara yang dulunya tempat menyimpan kayu bakar.

"Tak terasa sudah enam tahun kami sekeluarga menempati tempat sempit. Mudah-mudahan ada bantuan, sehingga kami bisa tinggal di tempat yang lebih layak," ujarnya.

Ia mengakui belum lama membeli sebidang tanah berukuran 5x12 meter persegi setelah menerima uang pesangon dari perusahaan rokok terkenal di Kudus.

Hanya saja, kata dia, dirinya bersama suami tidak mampu membangun rumah, karena suaminya sakit pada bagian kaki kirinya, sehingga tidak bisa bekerja. Sedangkan dirinya hanya menjadi buruh katering rumahan, sehingga pendapatannya juga sesuai ada tidaknya pesanan.

Baca juga: Menteri Maruarar Sirait serahkan RSLH bantuan perusahaan swasta di Kudus



Pewarta:
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026