Observasi, penolakan, dan psikologis WNI asal Wuhan

id Mahasiswa Eks Wuhan, pascaobservasi,penanganan corona,virus corona,corona,covid 19,2019 ncov,novel coronavirus 2019

Observasi,  penolakan, dan psikologis WNI asal Wuhan

Hilyatu Millati Rusdiyah memberikan keterangan kepada wartawan setelah jalani masa observasi di Natuna, Kepri. ANTARA/Aris Wasita

Klaten (ANTARA) - Salah seorang warga negara Indonesia (WNI) Eks-Wuhan Hilyatu Millati Rusdiyah mengatakan secara psikologis sempat terganggu setelah merebaknya Covid-19 (virus corona) di tempat dia menimba ilmu di China, tepatnya di Kota Wuhan.

Wanita asal Desa Kemalang, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang biasa disapa Milla itu tidak menyangka perjalanannya untuk mencari ilmu di Negeri Tirai Bambu tersebut tidak mudah akibat merebaknya Covid-19. Apalagi sepulang dari Wuhan, dia dan 238 WNI lain harus diobservasi terlebih dahulu di Natuna.

Saat itu, yang membuatnya makin berat adalah sempat terjadi penolakan dari masyarakat setempat karena ketakutan mereka akan tertular virus tersebut.

Meski demikian, istri dari Ahmad Syaifuddin Zuhri bersyukur karena pada akhirnya masyarakat menerima mereka dengan lapang dada.

"Ini menghapus stigma bahwa yang datang dari Wuhan membawa virus corona," katanya.

Baca juga: WNI eks-Wuhan: Jangan takut berinteraksi dengan kami

Sementara itu, ia mengaku gelisah saat masih berada di Wuhan dan belum bisa dipulangkan ke Indonesia karena ternyata penyebaran virus tersebut terjadi cukup cepat, yaitu dari pasien yang berjumlah ribuan hingga menjadi puluhan ribu dalam waktu singkat.

"Virus ini juga bisa menyebar lewat udara. Kami tidak tahu kapan bisa terkena. Pemerintah Tiongkok mengimbau kepada semua warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sampai akhirnya Pemerintah (Republik Indonesia) memutuskan melakukan evakuasi," katanya.

Mengenai merebaknya virus tersebut, awalnya tidak terlalu dikhawatirkan oleh masyarakat, baik masyarakat lokal maupun pendatang seperti dirinya. Bahkan, pada awalnya atau tepatnya saat mereka masih berada di Wuhan, kondisi kota belum seramai saat ini.

"Karena saat itu belum dikonfirmasi bahwa virus itu bisa menular lewat udara dan antar manusia. Setelah tahu kalau mulai virus itu bisa menular antar manusia dan Pemerintah setempat memutuskan mengisolasi (lockdown) kota itu, kondisi mulai sepi. Apalagi saat itu juga kondisi Imlek dan musim dingin," katanya.

Ia mengatakan pada awal virus tersebut ditemukan, yaitu virus corona jenis baru, belum dikonfirmasi bahwa penularannya bisa terjadi antar manusia. Menurut dia, yang diketahui masyarakat adalah penularan hanya bisa terjadi dari hewan ke manusia.

"Kemudian tepatnya pada tanggal 20 Januari, ilmuwan mulai mengkonfirmasi bahwa penularan bisa terjadi antar manusia, kekhawatiran dari kami pasti ada," katanya.

Apalagi pada saat itu jumlah korban naik secara signifikan dan masing-masing orang tidak tahu siapa saja yang sudah terkena virus tersebut maupun yang belum.

"Andaikan tidak terkonfirmasi menyebar antar manusia mungkin tidak sekhawatir saat ini," katanya.

Pemerintah hadir

Setelah merebaknya virus tersebut, ia mengatakan Pemerintah RI bertindak cepat dengan memulangkan WNI yang pada saat itu masih terjebak di Wuhan. Bahkan, mahasiswa program PhD Administrasi Bisnis Chongqing University itu mengatakan sejak masih berada di Wuhan, pemerintah terus memantau kondisi WNI.

"Yang pasti cukup gembira karena kami merasakan betul pemerintah hadir memantau kami setiap hari," katanya.

Mulai dari Presiden yang akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi WNI di Wuhan dan sekitarnya, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, TNI, dan instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bergerak cepat dalam memulangkan para WNI.

"Kami juga mengapresiasi warga Natuna yang akhirnya menerima kami setelah sebelumnya menolak," katanya.

Sementara itu, bukan hal yang mudah baginya maupun WNI eks Wuhan yang lain menjalani masa observasi. Salah satu yang memberikan beban psikologis tersendiri adalah kerinduan terhadap keluarga.

"Yang dirindukan adalah keluarga. Otomatis, kan terpisah makin lama," katanya.

Meski demikian, selama di lokasi observasi pemerintah berupaya memberikan kenyamanan kepada para WNI.

"Kami olah raga setiap pagi, makan bersama tiga kali sehari. Selain itu, ada juga aktivitas individu seperti karaoke dan games. Kami juga menjalani pemeriksaan kesehatan sehari dua kali, termasuk pemeriksaan suhu tubuh," katanya.

Masyarakat jangan takut

Sepulangnya dari observasi, diakuinya, juga bukan hal yang mudah. Ia mengaku khawatir akan adanya penolakan masyarakat sekitar karena ketakutan akan terjangkit Covid-19.

"Yang pasti sampai saat ini kondisi kami sehat setelah diobservasi. Tidak ada yang kena (terjangkit Covid-19)," katanya.

Sebagai bukti bahwa kondisi WNI eks Wuhan tersebut dalam keadaan sehat. Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan sertifikat atau surat sehat untuk masing-masing peserta observasi sebelum pulang ke keluarga masing-masing.

"Jadi saya mohon masyarakat sekitar tidak perlu takut kepada kami dan juga mengkhawatirkan kedatangan kami karena kondisi kami sehat-sehat saja," katanya.

Bahkan, setelah observasi dan setelah dinyatakan sehat, para WNI ini tidak lagi butuh pemeriksaan lanjutan mengingat selama 14 hari masa observasi mereka di bawah pengawasan tim medis dari Kementerian Kesehatan.

Meski demikian, ia mengaku sudah menyiapkan mental jika memang ada penolakan dari masyarakat sekitar mengingat sebelumnya sudah sempat menghadapi penolakan dari masyarakat Natuna.

"Jadi saya sudah mempersiapkan diri," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Camat Tulung Suyamto memastikan akan memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak perlu khawatir akan terjangkit virus tersebut.

"Apalagi sepulang pemeriksaan kesehatan (Milla) dinyatakan sehat. Harapan saya untuk masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya mbak Milla pulang," katanya.

Ia mengaku belum mengetahui apakah ada masyarakat yang merasa takut atau tidak. Meski demikian, ia akan segera melakukan sosialisasi jika ketakutan tersebut terjadi di kalangan masyarakat.
 
Pewarta :
Editor: Antarajateng
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar