Telaah - Magelang kota budaya dan catatan tahun baru

id muhammad nafi,catatan budaya, kota magelang

Telaah - Magelang kota budaya dan catatan tahun baru

Pemusik puisi Magelang, Munier Syalala (tiga dari kanan), saat menyuguhkan salah satu karya musik puisi pada pentas musik Refleksi Akhir Tahun 2019; Merajut Bunyi, di Hotel Atria Kota Magelang, Minggu (29/12/2019). (ANTARA/HO/Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang)

Magelang (ANTARA) - Menuju awal 2020, Magelang sebagai kota kecil di perlintasan utama dari semua penjuru di tengah Pulau Jawa itu menjadi penting secara geografis.

Warga sebagai penghuni kota menjadi faktor terbesar dalam keberhasilan pembangunan, termasuk menyangkut pembangunan seni dan budaya.

Kebudayaan dalam segala bentuknya menjadi kunci yang membuat suatu kota menjadi menarik untuk dikunjungi, nyaman untuk dihuni, dan menginspirasi warga untuk beraktivitas secara kreatif serta memperkuat spiritualitas berbudaya.

Sebetulnya, apa yang membuat suatu kota menjadi kota yang lebih berbudaya?

Menurut World Cities Culture Report yang dirilis oleh lembaga World Cities Culture Forum, suatu kota layak dalam budaya bilamana fasilitas penunjang kebudayaannya sama pentingnya atau sejajar dibandingkan dengan fasilitas di bidang lainnya, seperti perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan olahraga.

Berbagai fasilitas publik yang berkaitan dengan budaya, antara lain toko-toko buku, perpustakaan, galeri, museum, dan yang paling utama adalah pusat-pusat seni atau gedung kesenian.

Gedung kesenian berfungsi sebagai  tempat pertunjukan, baik untuk skala kecil maupun skala besar. Dari pertunjukan-pertunjukan tersebut dimungkinkan adanya letupan-letupan kreativitas yang bisa mendorong bidang-bidang lain.

Untuk di Kota Magelang bisa dibilang masih kekurangan segala hal yang penting bagi kegiatan seni budaya sebagaimana fungsi dari pusat-pusat pertunjukan atau gedung kesenian tersebut.

Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina dalam satu kesempatan menghadiri acara pentas musik Refleksi Akhir Tahun 2019; Merajut Bunyi Bersama Munier Syalala pada Minggu (29/12) di Hotel Atria Magelang menyampaikan harapan pemerintah daerah pada masa mendatang dapat menyediakan ruang dan tempat yang memadai bagi para seniman untuk berkegiatan secara positif.

“Saya berkeinginan ke depan pemda dapat menyediakan ruang dan tempat yang memadai para seniman untuk berkegiatan yang layak dengan sarana dan prasarana yang layak di Kota Magelang, sehingga para seniman ini dapat berkreasi dengan optimal dan memberikan sumbangsih dalam melestarikan seni budaya yang ada di Kota Magelang,” jelas dia.
 
Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina (dua dari kanan) menghadiri pentas musik Refleksi Akhir Tahun 2019; Merajut Bunyi, di Hotel Atria Kota Magelang, Minggu (29/12/2019). (ANTARA/HO/Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang)


Di samping fasilitas kebudayaan, program pelestarian dan pengembangan kebudayaan pada dasarnya dilaksanakan untuk mengetengahkan berbagai nilai kebudayaan guna memperkokoh ketahanan budaya bangsa.

Kebijakan yang dikembangkan seyogyanya adalah mengembangkan semua pranata kebudayaan sebagai alat pemersatu serta penggerak dalam meningkatkan budaya, adab, serta perilaku sebagai masyarakat berbudaya.

Dalam buku diktat Concept Resort and Leisure, Strategi Pengembangan dan Pengelolaan Resort and Leisure, karya Sastrayuda, G.S. cetakan pada 2010 disampaikan bahwa masih banyak tantangan dalam pembangunan kebudayaan.

Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan kebudayaan pada dasarnya masih tingginya sifat materialisme di masyarakat yang mulai meninggalkan nilai-nilai luhur budaya bangsa serta menurunnya akhlak moralitas pada sebagian masyarakat.

Baca juga: Telaah - Getuk, bukan sekadar kuliner tetapi juga doa dan pengharapan

Di samping itu, permasalahan yang mendesak dalam pembangunan kebudayaan adalah adanya kecenderungan semakin menurunnya tingkat pengelolaan aset-aset budaya, baik yang bersifat intangible (tak benda) ataupun tangible (benda).

Soal pengelolaan dan masih lemahnya perhatian terhadap aset dan pemahaman keragamaan budaya terlihat belum adanya kriteria yang jelas dalam pengamanan aset kebudayaan, terutama aset kebudayaan dalam skalanya masing-masing.

Ketidakjelasan tersebut tercermin dari kurangnya kepeduliaan terhadap keberadaan aset-aset budaya.

Dalam contoh untuk di Magelang, selama hampir satu dekade ini kita kehilangan gedung untuk aktivitas kesenian sebagaimana Gedung Kyai Sepanjang di Jalan Kartini pada masa lalu.

Bisa jadi, kemampuan kita dalam menyikapi dan mengelola perkembangan seni budaya dalam laju perubahan dan orientasi pembangunan akan menentukan kemajuan dari pembangunan di Kota Magelang ini.

Pembangunan dalam segala bidang yang berkelanjutan, untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. (hms).

*) Muhammad Nafi, Koordinator Komunitas Pinggir Kali Kota Magelang

Baca juga: "Magelang Moncer Serius" butuh dukungan berbagai komunitas
Baca juga: Telaah - Simpul kebudayaan Kota Magelang dengan dinamikanya

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar