Atasi kekerdilan, kades di Jateng bisa gunakan dana desa

id stunting,dana desa,Ganjar Pranowo

Atasi kekerdilan, kades di Jateng bisa gunakan dana desa

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. ANTARA/Dok. Humas Pemprov Jateng/am.

Semarang (ANTARA) - Kepala desa di seluruh Provinsi Jawa Tengah didorong menggunakan anggaran dana desa untuk menurunkan angka kegagalan tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi atau stunting.

"Dana desa yang totalnya Rp400 triliun itu dapat digunakan untuk mencegah stunting, maka saya minta seluruh kades di Jateng untuk melaksanakan program itu. Anggarkan saja, apa untuk keperluan vitamin, periksa ibu hamil di rumah sakit, membeli ambulans dan sebagainya," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di Semarang, Rabu.

Selain menggunakan dana desa untuk sarana kesehatan, anggaran itu bisa digunakan untuk perbaikan gizi, kontrol kesehatan dan seterusnya.


Baca juga: Kabupaten Pekalongan optimistis bebas stunting

"Intervensi apapun harus dilakukan, tentunya dengan akurasi data agar terukur, pekerjaan itu sangat bisa dilakukan kades," ujarnya.

Jika satu desa rata-rata ada 40 kasus stunting, lanjut Ganjar, dengan cara itu dapat mempercepat pengurangan angka stunting di seluruh Jateng.

Sebagai tindak lanjut, orang nomor satu di Jateng itu, meminta
para kades menganggarkan dana desanya untuk program penurunan angka "stunting" dan jika memang kurang, maka harus meminta bantuan ke pemerintah tingkat atasnya.

"Apakah kabupaten, provinsi atau ke pusat. Rangkul pula seluruh lembaga yang ada, apa itu perguruan tinggi, PKK dan lembaga lainnya," katanya.

Baca juga: Iriana mengajak pengajar PAUD waspadai stunting

Menurut Ganjar, sudah saatnya isu stunting menjadi perhatian serius. Sebab untuk mewujudkan Indonesia Emas, masalah sumber daya manusia merupakan ujung tombaknya.

"Bicara Indonesia Emas itu harus dilakukan saat ini, di antaranya dengan menyiapkan sumber daya manusia yang cerdas, sehat dan terbebas dari 'stunting'," ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Yulianto Prabowo menambahkan, sampai saat ini angka stunting di Jateng masih cukup tinggi dengan rata-rata provinsi masih 30 persen.

"Memang harus diturunkan sampai seminimal mungkin. Kalau target yang disepakati SDGs harus di bawah 20 persen," kata dia.

Dirinya juga menyambut baik adanya penggunaan dana desa untuk menyelesaikan soal stunting sebab persoalan ini memang bukan hanya tanggung jawab bidang kesehatan.


"Semoga para kades dapat mengefektifkan dana desa dalam menangani masalah kesehatan khususnya stunting," ujarnya.

Baca juga: Kekerdilan sebabkan perkembangan otak tidak maksimal
Baca juga: Kudus dorong pemerintah desa anggarkan pencegahan kekerdilan
Baca juga: Daun kelor bisa atasi kekerdilan? Ini penjelasannya
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar