HUT RI, wali kota sematkan tanda kehormatan kepada 98 ASN

id hut ri, kota magelang,asn

HUT RI, wali kota sematkan tanda kehormatan kepada 98 ASN

Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito (kiri) menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada perwakilan ASN pada upacara HUT Ke-74 RI di Lapangan Rindam IV/Diponegoro di Magelang, Sabtu (17/8). (ANTARA/Humas Pemkot Magelang)

Magelang (ANTARA) - Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menyematkan tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada 98 aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Magelang pada upacara HUT Ke-74 RI di daerah itu, Sabtu.

Pada penerima penghargaan itu adalah ASN yang telah mengabdi selama 10, 20, dan 30 tahun lebih secara terus menerus.

Upacara HUT Ke-74 RI di Kota Magelang berlangsung di Lapangan Rindam IV/Diponegoro, antara lain dihadiri berbagai elemen masyarakat, TNI, Polri, ASN, pegawai instansi pemerintah dan swasta lainnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam sambutan tertulis peringatan HUT Ke-74 RI yang dibacakan Wali Kota Sigit mengajak masyarakat untuk tidak mempermasalahkan suku, ras, dan agama para pahlawan pendahulu.

Seperti ungkapan Gus Dur, kata dia, bahwa orang tak akan bertanya apa agama dan suku ketika berbuat baik. 

"Setelah kemerdekaan ini, sudah semestinya kita tidak membedakan suku, agama, ataupun ras. 'Founding fathers' bangsa ini telah memberi contoh lewat laku,” ujarnya.

Dia menuturkan sebenarnya masyarakat Indonesia mewarisi semangat tersebut, namun terkadang masih memupuk borok dalam dada, membuat terlena hingga dengan rasa tanpa dosa saling menghina dan mencerca. 

Bahkan, katanya, ada yang nekat hendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

“Siapa yang mempermasalahkan Agustinus Adisucipto sebagai pahlawan. Apakah karena beliau seorang Katolik, lantas dari Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Konghucu menggerutu? Siapa pula yang mempermasalahkan kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai, Untung Suropati, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Hasyim Asy’ari karena agamanya? Bibit jiwa kita adalah bibit 'teposeliro' (tenggang rasa), bibit handarbeni (memiliki), bibit peseduluran (persaudaraan),” katanya.

Ia menyebut Pancasila sebagai dasar Republik adalah harga mati, tidak bisa ditawar dan harus ditanamkan sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi. 
(hms)

 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar