Minimalisasi risiko bencana, akademisi ingatkan pentingnya pemetaan jalur sesar aktif

id mitigasi

Minimalisasi risiko bencana, akademisi ingatkan pentingnya pemetaan jalur sesar aktif

Petugas mendata aktivitas Gunung Slamet menggunakan alat seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api Slamet, Desa Gambuhan, Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (9/8/2019). Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) pada pukul 09.00 WIB aktivitas Gunung Slamet meningkat dari level 1 (normal) menjadi level II (waspada). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/pras.

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman Indra Permanajati mengingatkan pentingnya pemetaan jalur sesar aktif sebagai upaya mitigasi bencana gempa di darat.

"Pemerintah daerah perlu memetakan jalur-jalur sesar aktif yang ada di derahnya masing- masing. Kegiatan ini sangat diperlukan dalam rangka mitigasi gempa," katanya di Purwokerto, Senin.

Indra yang merupakan koordinator bidang geologi Pusat Mitigasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menjelaskan, kegiatan tersebut meliputi pemetaan zona-zona sesar aktif, prediksi kemungkinan aktivasi sesar, kemungkinan kekuatan gempa yang bisa terjadi, hingga rekomendasi penanganan untuk wilayah yang berisiko.

"Kajian ini sangat penting untuk dilaksanakan dalam rangka antisipasi terjadinya bencana gempa. Kajian ini sangat diperlukan dalam rangka strategi perlindungan masyarakat terhadap bencana gempa," katanya.

Indra yang merupakan Dosen Mitigasi Bencana Geologi, Jurusan Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman tersebut menambahkan, hampir semua daerah di Indonesia terdapat sesar-sesar aktif dan semuanya berpotensi untuk terjadinya pergerakan.

Baca juga: Profesor Dorodjatun: Infrastruktur harus tahan bencana

"Seperti yang baru-baru ini terjadi gempa di Majenang dan Yogjakarta merupakan sesar-sesar aktif yang menjadi penyebabnya," katanya.

Menurut dia, pemetaan yang sudah dilakukan PVMBG masih dalam skala yang kecil, sehingga belum sampai pada pemetaan detil dan prediksi pergerakannya, serta kemungkinan kekuatan gempa yang bisa terjadi.

"Dengan demikian, perlu pengkajian yang lebih detil untuk mendapatkan cara mitigasi yang paling baik. Pemetaan ini juga dapat memprediksi kemungkinan terjadinya likuifaksi pada daerah-daerah tertentu yang dinilai rentan dengan mempertimbangkan kondisi geologi yang ada," katanya.

Sementara itu, dia menambahkan, mitigasi yang paling utama adalah standarisasi bangunan tahan gempa dan teknik penyelamatan diri dari gempa.

"Dua hal ini yang harus terus difokuskan oleh pemerintah untuk antisipasi bencana gempa. Kegiatan diawali dari identifikasi potensi bencana gempa, kemudian prediksi kekuatan gempa yang bisa terjadi, selanjutnya standarisasi bangunan tahan gempa," katanya.

Standarisasi bangunan tahan gempa, tambah dia, harus segera dilaksanakan dengan merancang bangunan tahan gempa kemudian diterapkan ke masyarakat.

Baca juga: BMKG akan lakukan sosialisasi mitigasi tsunami di Cilacap
Baca juga: Minimalisasi risiko bencana, akademisi ingatkan pentingnya mitigasi tsunami

Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar