Keberadaan tenda pasar malam dikeluhkan pedagang Pasar Triwindu

id Pasar triwindu

Keberadaan tenda pasar malam dikeluhkan pedagang Pasar Triwindu

Salah satu pedagang di Pasar Triwindu tengah membersihkan dagangannya (Foto: Aris Wasita)

Solo (ANTARA) - Pedagang Pasar Triwindu Solo, Jawa Tengah, mengeluhkan keberadaan tenda pasar malam di kawasan Ngarsopuro yang digelar setiap akhir pekan karena berdampak pada penurunan omzet mereka.

"Tenda yang digunakan untuk 'night market' (pasar malam, red) dipasang sejak siang hari sehingga pengunjung enggan untuk mampir di Triwindu," kata Ketua Paguyuban Pasar Triwindu Dody Sudarsono di Solo, Kamis.

Meski tidak menyebutkan angka pasti, ia mengakui kerugian yang diderita para pedagang akibat keberadaan pasar malam tersebut cukup besar.

"Dari sisi jumlah pengunjung, kalau dibandingkan hari biasa penurunan pada akhir pekan sampai 50 persen, kan lumayan besar. Kalau Senin-Jumat rata-rata jumlah pengunjung 100 orang/hari, kalau pas Sabtu-Minggu hanya sekitar 50 orang/hari," katanya.

Terkait hal itu, pihaknya pernah mengeluhkan kondisi ini sejak lama kepada instansi terkait. Meski demikian, diakuinya, hingga saat ini tidak ada tindak lanjut dari pemerintah.

Baca juga: Hidupkan Pasar Kliwon, kuliner malam hari dihadirkan

Oleh karena itu, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melayangkan surat protes kepada Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, termasuk memberikan surat tembusan kepada pihak terkait.

"Harapannya agar segera dicarikan solusi dari permasalahan yang dihadapi pedagang selama ini," katanya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait hal itu Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Surakarta Nur Haryani justru menyayangkan sikap protes yang dilakukan oleh Paguyuban Pedagang Pasar Triwindu.

"Keluhannya kok ditujukan kepada pedagang yang sama-sama ingin mencari nafkah," katanya.

Ia mengatakan selama ini tidak pernah ada masalah terkait hal itu.

"Kenapa kok baru sekarang dipersoalkan, lagi pula pedagang 'night market' kan bukanya malam hari," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Sumarwoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar