Cuaca ekstrem jadi momok budi daya ikan

id Budidaya ikan

Cuaca ekstrem jadi momok budi daya ikan

Sugiyatno sedang memilih benih ikan lele yang siap jual. (Foto: Aris Wasita)

Sejak tahun 2015 saya fokus menggunakan kotoran gajah karena ini yang paling stabil menetralkan air
Klaten (Antaranews Jateng) - Cuaca ekstrem menjadi momok budi daya ikan air tawar karena suhu air yang berubah-ubah berdampak terhadap penurunan produksi benih.

Seperti yang terjadi di Satuan Kerja Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar Janti, Kabupaten Klaten yang bertugas melakukan pembibitan ikan nila. Sebagai gambaran, dari total jumlah larva sebanyak 700.000 ekor jika biasanya tingkat keberhasilan produksi mencapai 60 persen, saat ini turun menjadi 30-40 persen.

Koordinator Satker Siwi Hastuti mengatakan selain meningkatnya kegagalan produksi benih dari larva, untuk produksi larva yang dihasilkan oleh ikan juga mengalami penurunan.

"Ketika cuaca dingin, ikan cenderung malas melakukan pembuahan. Dengan begitu produksi larva juga akhirnya minim," katanya.

Kondisi tersebut berdampak pada inden atau waktu tunggu pemesanan oleh para petani ikan menjadi lebih lama, apalagi selama ini penjualan benih ikan ke petani hanya dilakukan pada Rabu dan Jumat.

Menurut dia, agar proses pembenihan berjalan normal seharusnya suhu air dalam kolam ikan terjaga di angka 26 derajat Celcius. Namun selama kondisi ekstrem seperti saat ini, pada malam hari suhu air bisa jauh di bawah 26 derajat Celcius dan ketika siang naik signifikan di atas angka tersebut.

"Kondisi ini terjadi setiap tahun selama 3-4 bulan. Memang sudah wajar terjadi," katanya.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada pembibitan ikan nila tetapi juga di semua ikan air tawar, di antaranya benih lele yang dikembangbiakkan di Satker Ngrajek, Kabupaten Magelang, ikan hias di Satker Ambarawa, serta tawes dan gurami di Satker Perbenihan Muntilan, Kabupaten Magelang.

Sementara itu, meski volume produksi mengalami penurunan, kondisi tersebut tidak berdampak pada kenaikan harga jual benih ke petani.

Saat ini benih ikan berukuran 2-3 centimeter dijual dengan harga Rp45 per ekor, ukuran 3-5 centimeter Rp55 per ekor, dan ukuran 4-6 centimeter dengan harga Rp65 per ekor.

"Yang pasti kami berusaha maksimal untuk mencukupi kebutuhan petani ikan khususnya lokal karena selama ini petani enggan melakukan pembenihan sendiri mengingat prosesnya yang rumit dan dibutuhkan banyak tempat,"katanya.

Mereka umumnya lebih memilih hanya membesarkan ikan untuk kemudian menjual ke tempat usaha pemancingan atau ke pedagang pasar.

  Lebih Rumit
Kondisi yang sama juga terjadi pada budi daya ikan lele. Salah satu pelaku budi daya ikan lele di "Kampung Lele" Dukuh Mangkubumen, Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali Sugiyatno mengatakan proses pembenihan ikan lele lebih rumit dibandingkan dengan ikan air tawar jenis lain.

Oleh karena itu, secara autodidak ayah empat anak ini berusaha meminimalisasi tingkat kegagalan produksi dengan memastikan terjaganya kondisi air dalam kolam, mulai dari suhu, PH (tingkat keasaman), hingga tingkat pencemaran amoniak dari kotoran ikan.

"Sejak beberapa tahun lalu saya terus ujicoba, mulai dari menggunakan kotoran sapi, kambing, dan terakhir gajah. Sejak tahun 2015 saya fokus menggunakan kotoran gajah karena ini yang paling stabil menetralkan air tanpa harus menggunakan bahan lain," katanya.

Kotoran gajah bisa menetralkan kandungan PH di angka 7 dan suhu stabil di 27 derajat Celcius.

Selain itu, kotoran gajah bisa menguraikan amoniak di dalam air serta berfungsi sebagai pendingin dan penghangat alami.

Dengan terurainya kandungan amoniak di dalam air, ikan akan tercegah dari penyakit mengingat selama ini amoniak menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit kulit pada ikan.

"Selain itu air kotoran ini juga memberikan oksigen alami. Jadi tanpa peneduh dan sirkulasi air, ikan tetap bisa hidup. Saat siang air menyesuaikan bisa dingin dan sehabis Maghrib menjadi hangat," katanya.

Cara membuat ramuan dari kotoran gajah tersebut, yaitu kotoran direndam air dengan menggunakan gentong dari tanah liat selama empat bulan. Baru kemudian air rendaman tersebut dapat digunakan hingga kurun waktu tiga tahun.

Takaran penggunaannya adalah satu meter kubik atau 1.000 liter air banding satu gayung air rendaman kotoran gajah. Meski demikian, jika cuaca lebih dingin maka takaran air rendaman kotoran gajah diperbanyak menjadi dua gayung.

Sebelum akhirnya menggunakan kotoran gajah, Sugiyatno yang sudah sering menjadi pembicara pada seminar tentang budi daya ikan lele tersebut mencoba menggunakan kotoran kambing dan sapi.

Permasalahannya, air rendaman kotoran kambing dan sapi hanya berfungsi mengatur suhu air, sedangkan untuk menetralkan PH harus dibantu dengan garam. Takarannya satu kilogram kotoran kambing banding satu kilogram garam banding satu meter kubik air.

"Itupun gantinya harus satu minggu sekali. Jadi saya boros sekali, satu minggu bisa pakai satu kuintal garam," katanya.
 
  Sebanding
Sugiyatno mengatakan rumitnya budi daya ikan lele dengan cara tersebut sebanding dengan produksi yang dihasilkan pada proses pembenihan.

Satu ekor induk dengan berat satu kilogram bisa menghasilkan 50.000 telur, sedangkan induk dengan berat 1,5 kg bisa menghasilkan 75.000 butir telur. Dari total produksi tersebut tingkat keberhasilan sekitar 35.000-40.000 benih.

Selain tingginya tingkat keberhasilan produksi, kualitas benih juga lebih baik karena diimbangi dengan pemberian vitamin pada induk lele. Vitamin yang diberikan dalam proses pembenihan itu diramu oleh Sugiyatno sendiri.

Vitamin yang diberikan terdiri atas susu, madu, dan pelet. Untuk komposisi dan cara pembuatannya, yaitu dua sendok makan susu dan dua sendok teh madu dilarutkan dengan air hangat, setelah tercampur baru ditambahkan pelet.

Pemberian vitamin dilakuukannya sekitar dua minggu sebelum masa pemijahan supaya kualitas telur lebih bagus.

Sugiyatno juga rajin memberikan makanan tinggi protein, di antaranya bekicot, katak hijau, dan keong. Dengan begitu, telur yang dihasilkan akan lebih banyak dan kondisi induk juga lebih sehat.

Oleh karena itu, ia berani mematok harga tinggi untuk setiap benih yang dijualnya kepada para petani ikan. Untuk satu ekor benih berukuran 2-3 centimeter dijual dengan harga Rp150.

Ia mengakui harga tersebut sedikit lebih mahal dibandingkan dengan penjualan benih di tempat lain.

Meski demikian, ia juga menerapkan sistem garansi, yaitu dalam waktu maksimal dua minggu setelah pembelian jika ada benih ikan yang mati maka akan diganti 50 persen.

"Jadi misalnya dia ambil 1.000 ekor benih, yang mati ada 100 ekor maka saya akan ganti 50 ekor gratis, tetapi dengan syarat ramuan kotoran gajah yang saya ciptakan harus dipakai," katanya.

Hingga saat ini kapasitas produksinya sekitar 100.000-140.000 ekor per minggu.

Mereka yang mengambil bibit ikan darinya bukan hanya petani lokal, tetapi juga sebagian besar dari Soloraya.
 
Pewarta :
Editor: Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar