Bahagia korban gempa Banjarnegara dikunjungi Presiden

id presiden joko widodo,gempa banjarnegara

Bahagia korban gempa Banjarnegara dikunjungi Presiden

Presiden Joko Widodo (tengah), membagikan buku kepada anak-anak pengungsi korban gempa, saat mengunjungi posko pengungsian korban gempa di Desa Sidakangen, Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (23/4). Dalam kunjunganya, selain meninjau kondisi korban gempa, Joko Widodo juga memberikan paket bantuan serta meminta kepada Kementrian PUPR dan BNPB, untuk segera membangun kembali rumah warga yang rusak akibat gempa dalam waktu enam bulan. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria/tom/18)

Suasana tempat pengungsian di Desa Sidakangen, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Senin (23/4) sore tidak seperti beberapa hari sebelumnya atau sejak gempa yang terjadi pada 18 April 2018.

Sore itu, sebagian besar wajah pengungsi tidak menampakkan adanya kesedihan, bahkan mereka terlihat bahagia meskipun tinggal di tempat pengungsian.

Semua itu karena mereka kedatangan tamu istimewa, yakni Presiden Joko Widodo yang sedang melakukan kunjungan kerja untuk melihat secara langsung kondisi korban gempa di lokasi pengungsian.

Kedatangan Presiden Jokowi itu juga mendapat sambutan hangat dari warga sejumlah desa yang tidak terdampak gempa.

Bahkan, warga dari luar daerah terdampak gempa itu rela menunggu kedatangan Presiden Jokowi sejak pagi hari di tepi jalan provinsi yang menghubungkan Banjarnegara dan Pekalongan.

Semangat mereka untuk menyambut kedatangan Presiden Jokowi tidak lekang oleh hujan dengan intensitas sedang yang turun pada siang hari.

"Saya ingin melihat Pak Jokowi secara langsung, syukur bisa salaman dengan Beliau," kata seorang warga Desa Kalibening, Waryati, sambil memegang payung.

Dia mengaku kagum terhadap Presiden Jokowi karena sosoknya yang sederhana dan sangat memerhatikan rakyat kecil.

Beberapa saat menjelang kedatangan Presiden Jokowi, hujan reda dan warga pun kembali memadati pinggiran jalan.

Hingga akhirnya, Presiden Jokowi yang ditunggu-tunggu warga sejak Senin (23/4) pagi, tiba di Desa Sidakangen pada pukul 15.00 WIB.

Sambil berdesak-desakan, warga maupun pengungsi berusaha mengulurkan tangan agar bisa bersalaman dengan mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Presiden Jokowi yang mengenakan kemeja lengan panjang warna putih dan celana warna hitam itu, menyalami warga sambil memberikan senyuman.

Sementara warga yang berada di bagian belakang, berusaha menarik perhatian Presiden dengan melambaikan tangan sambil meneriakkan "Pak Jokowi, Pak Jokowi".

Oleh karena sudah ditunggu anak-anak pengungsi korban gempa di tempat pengungsian, Sekolah Dasar Negeri Sidakangen 2, Presiden tidak bisa menyalami seluruh warga yang telah lama menunggu kedatangannya.

Setibanya di SDN Sidakangen 2, Presiden langsung menuju salah satu ruang kelas yang dijadikan tempat pengungsian.

Di tempat itu, Presiden berdialog dengan sejumlah pengungsi yang mayoritas kaum perempuan dan selanjutnya menuju ruang kelas lainnya untuk memberi motivasi bagi anak-anak korban gempa yang sedang diajak bermain dan belajar oleh psikolog Seto Mulyadi sebagai bagian dari upaya pemulihan trauma.

"Anak-anakku semua sedang bermain apa dengan Kak Seto? Bermain sulap, membaca, mewarnai, menulis. Wah pintar-pintar semua ya," kata Presiden menyapa anak-anak itu.

Presiden pun menyempatkan duduk di antara anak-anak sembari menyalami dan menanyakan nama mereka. Sesekali Presiden mengusap kepala anak-anak itu.

Selanjutnya, Presiden dan Kak Seto (panggilan akrab Seto Mulyadi, red.) duduk di bangku yang berada di depan anak-anak pengungsi korban gempa itu. Dalam kesempatan itu, Presiden meminta anak-anak untuk tetap rajin belajar dan beribadah.

"Meski sekolahnya ada yang roboh kalian tetap belajar ya, dan jangan lupa ibadah," kata Presiden.

Selain memotivasi, Presiden juga memberi pertanyaan seputar penjumlahan dan pengurangan kepada anak-anak itu. Pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh anak-anak dengan antusias dan Presiden memberi hadiah berupa buku untuk anak-anak yang bisa menjawab dengan benar.

Sebelum Presiden meninggalkan ruangan itu, anak-anak secara serempak mengucapkan terima kasih atas hadiah yang diberikan. "Terima kasih Pak Presiden," kata mereka berbarengan.

Saat keluar dari ruangan, Presiden kembali "diserbu" oleh ibu-ibu yang ingin bersalaman dengan orang nomor satu di Indonesia itu.

Demikian pula saat hendak meninggalkan SDN SIdakangen 2 pada pukul 16.00 WIB, warga yang menunggu di luar langsung berebut uluran tangan Presiden yang mengajak mereka bersalaman.

Akan tetapi, begitu Presiden meninggalkan Desa Sidakangen, hujan lebat kembali mengguyur daerah itu dan warga yang bukan korban gempa harus rela kembali ke rumah masing-masing sambil berhujan-hujanan.

"Enggak apa-apa kehujanan, yang penting bisa bersalaman dengan Presiden," ujar Yadi yang hendak pulang ke rumahnya di Desa Kalibening.

Kebahagiaan Pengungsi

Kedatangan Presiden Jokowi di tempat pengungsian, SDN Sidakangen 2, membawa kebahagiaan tersendiri bagi para pengungsi sehingga kesedihan yang mereka rasakan akibat gempa bumi pada 18 April itu seolah langsung sirna.

Salah seorang pengungsi, Rohati, mengaku senang bisa bertemu dan berjabat tangan dengan Presiden.

Dia mengaku selama ini sedih karena rumahnya retak-retak akibat gempa sehingga kondisinya membahayakan.

"Saya senang sekali Pak Jokowi ke sini, saya sudah menunggu dari pagi. Rasa sedih saya langsung hilang dengan kedatangan Pak Jokowi," katanya yang terlihat berkaca-kaca.

Dia merasa tidak percaya bisa bertemu langsung dengan Presiden Jokowi karena selama ini, belum pernah ada presiden yang datang ke Kalibening.

Menurut dia, kedatangan Presiden di Kalibening menunjukkan perhatian yang sangat besar dari pemerintah terhadap rakyatnya yang menjadi korban bencana, khususnya gempa di Kecamatan Kalibening.

Dia mengharapkan pemerintah dapat membantu pembangunan kembali rumahnya maupun rumah warga lainnya yang rusak akibat gempa sehingga mereka tidak lagi tinggal di pengungsian dan bisa menjalani kehidupan seperti saat-saat sebelum terjadinya gempa.

Pengungsi lainnya, Rusmi, mengaku tidak menyangka rumahnya rusak akibat gempa hingga akhirnya tinggal di pengungsian.

"Saat gempa itu terjadi, saya baru selesai melaksanakan shalat dan langsung berusaha lari keluar rumah karena merasakan adanya getaran yang sangat kuat. Sampai saat ini, saya masih trauma kalau merasakan adanya getaran-getaran," katanya.

Kendati demikian, kata dia, trauma itu seolah hilang setelah bertemu dan bersalaman dengan Presiden Jokowi.

Menurut dia, Presiden Jokowi merupakan sosok yang berbeda dengan presiden-presiden sebelumnya karena mantan Wali Kota Solo itu sangat dekat dengan rakyat kecil, "blusukan" ke pasar-pasar, dan sangat perhatian terhadap rakyatnya yang mengalami bencana alam.

"Baru kali ini ada Presiden yang datang ke Desa Sidakangen meskipun kedatangannya karena ada bencana. Dulu sewaktu bencana longsor di Dusun Jemblung (Banjarnegara), Pak Jokowi langsung datang dan sekarang datang ke sini. Saya sangat bahagia punya presiden seperti Pak Jokowi," katanya.

Ia mengharapkan kedatangan Presiden Jokowi di tempat pengungsian korban gempa dapat memberikan secercah harapan bagi pengungsi sehingga mereka bisa segera kembali ke rumah masing-masing dan menjalani kehidupan secara normal.
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar