Semarang, Antara Jateng - Seorang siswa penghayat aliran kepercayaan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 7 Semarang gagal naik kelas karena kurikulum hanya memfasilitasi enam agama.
"Benar, ada satu siswa kami bernama ZN (inisial, red.) yang terpaksa tidak naik kelas. Seharusnya sekarang kelas XII kalau naik kelas," kata Kepala SMK Negeri 7 Semarang M. Sudarmanto di Semarang, Selasa.
Ia mengatakan,n pada saat awal pendaftaran ZN mencantumkan agama Islam, sebagaimana tercantum pula pada kartu keluarga (KK) dan menjalankan aktivitas pembelajaran seperti biasa sampai naik kelas XI.
Pada saat kenaikan ke kelas XII, kata dia, ada salah satu kompetensi pendidikan agama yang mengharuskan praktik, namun yang bersangkutan menolak dengan alasan merupakan penganut aliran kepercayaan.
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, kurikulum juga belum memfasilitasi pendidikan aliran kepercayaan. Adanya, pendidikan enam agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu," katanya.
Akhirnya, kata dia, sekolah memberikan pilihan kepada siswa yang bersangkutan untuk memilih di antara enam agama yang diakui pemerintah agar bisa memenuhi syarat kompetensi untuk bisa naik ke kelas XII.
"Orang tua siswa itu sudah kami undang ke sekolah. Kami sampaikan, kalau tetap bersikukuh tidak mengikuti pendidikan agama konsekuensinya tidak bisa naik kelas. Orang tuanya bilang tidak apa-apa," katanya.
Kalau untuk naik ke kelas XI, kata dia, pelajaran agama hanya diberikan secara teori sehingga yang bersangkutan mau mengikuti, tetapi untuk kenaikan kelas XII ada kompetensi praktik agama yang diwajibkan.
"Artinya, kalau ZN tidak mau ikut ujian praktik agama, tidak mendapatkan nilai. Padahal, pendidikan agama bersifat wajib dan harus mendapatkan nilai minimal baik. Berbeda dengan pelajaran lain," katanya.
Setidaknya ada dua alasan ZNr tidak naik kelas, yakni siswa tidak mengikuti program pembelajaran secara menyeluruh dan nilainya tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang dipersyaratkan.
Namun, Sudarmanto membantah jika sekolah memaksa ZN untuk masuk ke agama tertentu, sekaligus mengklarifikasi pemberitaan sebuah media "online" yang menyiratkan sekolah memaksa siswa tersebut.
Sementara itu, ZN belum bisa ditemui karena pada hari ini (26/7) tidak masuk sekolah, dan rumahnya yang berada di kawasan Pedurungan Semarang juga dalam kondisi tertutup rapat ketika disambangi.
Tetangga sekitarnya yang ditemui membenarkan bahwa penghuni rumah sedang bepergian, sementara ketua RT setempat membenarkan jika ayah dan ibu bersangkutan merupakan penganut aliran kepercayaan.
Berita Terkait
Dinkes Boyolali: BIAS MR siswa SD mencapai 97 persen
Jumat, 6 September 2024 16:25 Wib
Atap sekolah roboh, siswa SD di Sragen pindah
Rabu, 4 September 2024 23:11 Wib
Sebanyak 880 siswa madrasah ikut Kompetisi Sains Madrasah 2024 di Ternate
Senin, 2 September 2024 15:06 Wib
Jateng bantah siswa ikut demo bakal dikeluarkan
Sabtu, 31 Agustus 2024 22:48 Wib
Siswa MAN 1 Kota Semarang juara 2 lomba pidato di USM
Sabtu, 31 Agustus 2024 18:15 Wib
Program kewirausahaan Zurich Indonesia latih ribuan siswa SMA/ SMK
Sabtu, 31 Agustus 2024 10:00 Wib
Pemkab Batang masifkan edukasi pendidikan moral melalui pentas wayang
Jumat, 30 Agustus 2024 10:39 Wib
Antusiasme Perwira Pertamina mengajar siswa SD di PEN 7.0 Cilacap
Rabu, 28 Agustus 2024 19:30 Wib