Logo Header Antaranews Jateng

Prosesi Jalan Salib di Ungaran Gunakan Bambu Lambangkan Kerukunan

Sabtu, 26 Maret 2016 07:39 WIB
Image Print
Sejumlah umat Kristiani memeragakan visualisasi penyaliban Yesus dalam ibadah Jumat Agung jelang Hari Paskah di kompleks Gereja Kristus Raja Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (25/3). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww/16.

Salib dari bambu adalah yang dipanggul Yesus dalam visualisasi "jalan salib" yang diikuti ratusan umat Katolik itu, namun salib yang digunakan untuk menyalib Yesus tetap terbuat dari kayu.

Menurut Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, mewakili Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Raja, Ungaran, bambu merupakan sejenis tanaman yang berumpun dengan segala keunikan, namun tetap hidup.

Filosofi bambu itulah, kata dia, yang melambangkan semangat kerukunan dan kekeluargaan yang sejati, serta melambangkan semangat keberagaman yang saling menopang satu sama lain dan memberikan ruang.

Ia mencontohkan bambu ada yang bengkok, ada yang lurus, ada yang bentuknya panjang, dan ada pula bambu pendek, namun semuanya mendapatkan fungsi dan arti masing-masing tanpa saling mendiskriminasi.

"Begitulah hidup multikultural. Itu merupakan anugerah dan penebusan Kristus yang berlaku untuk semua orang dan siapa saja tanpa diskriminasi," kata Romo Budi yang juga menyutradarai visualisasi itu.

Para pemain dalam visualisasi "jalan salib" itu, kata dia, merupakan OMK Paroki Ungaran, kecuali yang berperan sebagai Yesus, yakni mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

Romo Budi menjelaskan pada visualisasi "jalan salib" itu ditampilkan sejumlah orang bersama orang buta sejak lahir yang disembuhkan Yesus dan mereka kelak yang membela Yesus di hadapan Pilatus.

Ada pula tuduhan bahwa Yesus menggunakan ilmu sihir dalam visualisasi itu, kata dia, namun saksi yang dihadirkan dan diharapkan memberatkan tuntutan justru gagah berani membela Yesus.

"Saksi itu ternyata seorang yang buta sejak lahir dan disembuhkan Yesus sehingga bisa melihat. Baginya, itu bukan ilmu sihir, melainkan kuasa Allah yang hebat," kata Romo yang piawai bermain saksofon itu.

Pada visualisasi "jalan salib" itu, ditampilkan pula kepiawaian Romo Budi bermain saksofon mengiringi lagu "Ndherek Dewi Maria" yang dilantunkan para wanita yang membela dan menangisi Yesus.



Pewarta:
Editor: M Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026