
Ekspor Gerabah Bayat Riwayatmu Kini

"Sejak tahun 2005 sebanyak 200 pengrajin gerabah di dukuh ini sudah tidak lagi melakukan ekspor ke mancanegara," kata Koordinator Kampung Gerabah Pegerjurang di Klaten, Sumilih, Selasa.
Alasannya, kata dia, karena krisis ekonomi global.
Gerabah merupakan barang-barang peralatan rumah tangga yang dibuat dari tanah liat yang bahan bakunya berasal dari daerah itu. Beberapa tahun silam ekspor gerabah bayat banyak diminati oleh warga Jepang, Australia dan Belanda. Namun ekspor yang pernah dicapai warga itu sekarang berhenti.
Ia mengatakan penghasilan pengrajin di dukuh ini sewaktu masih bisa melakukan ekspor lumayan, untuk harga satu peti kemas kecil nilai bisa mencapai Rp50 juta dan permintaan itu hampir setiap bulan ada.
Dikatakan setelah ekspor gerabah itu berhenti perajin disini hanya mengandalkan pasar dalam negeri dan juga memasok di pusat perdagangan di Kasongan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. "Barang-barang yang di pasang di toko-toko Kasongan itu sebagian dari hasil perajin di Pagerjurang," katanya.
Sumilih mengatakan untuk memajukan gerabah di sini sekarang perajin juga melakukan kerja sama dengan Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS), baik dalam pemasaran maupun produk grabah itu sendiri.
Ia mengatakan untuk pengembangan produk gerabah dari LPPM UNS telah melatih para perajin disini dengan "teknik gloosy" selain itu juga mendapatkan pendidikan pemasaran dan diversifikasi produk.
Diversifikasi produk itu perajin gerabah tidak hanya membuat gerabah saja, tetapi di dukuh ini juga dikembangkan menjadi kampung wisata. Wisatawan yang datang kesini bisa melihat cara membuat gerabah dan bahkan kalau mau juga bisa langsung terjun membuat barang-barang tersebut.
Pewarta: Joko Widodo
Editor:
Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
