Logo Header Antaranews Jateng

Hikmah puasa: sehatkan tubuh dan kuatkan spiritual sepanjang tahun

Sabtu, 28 Maret 2026 19:33 WIB
Image Print
Suasana Halal Bihalal UMS yang digelar di Gedung Ahmad Syafii Maarif Lantai 8 FEB UMS. ANTARA/HO-UMS

Solo (ANTARA) - Puasa Ramadan tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana memperkuat spiritual, kesehatan, dan karakter manusia.

Hal itu disampaikan oleh Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., dalam tausiyahnya pada Halal Bihalal yang digelar di Gedung Ahmad Syafii Maarif Lantai 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu.

Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan keberhasilan ibadah tidak diukur dari kuantitas semata, seperti banyaknya bacaan Al-Qur’an atau sedekah, melainkan dari penerimaan amal oleh Allah SWT.

“Yang perlu kita renungkan adalah, apakah ibadah yang kita lakukan itu benar-benar diterima oleh Allah,” ujarnya.

Ia menekankan dimensi kesehatan dari berpuasa. Secara ilmiah, puasa memberi kesempatan bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan memicu metabolic switch, yakni peralihan sumber energi dari karbohidrat ke lemak.

Proses ini membantu mengontrol kadar gula darah, kolesterol, serta menjaga keseimbangan energi dalam tubuh. Namun, manfaat puasa bisa berkurang bila berbuka tidak tepat, misalnya dengan mengonsumsi makanan berlemak berlebihan.

Selain fisik, puasa juga mendidik jiwa dan membentuk karakter. Nilai-nilai seperti disiplin, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial harus diterapkan tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga sepanjang tahun.

“Puasa mengajarkan kita untuk berbagi, peduli, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.

Dalam tausiyahnya, ia juga menyinggung janji Allah bagi orang yang bertakwa, antara lain kemudahan dalam urusan, rezeki yang tidak disangka, kemampuan membedakan hak dan batil (furqan), serta perlindungan dari berbagai kesulitan.

“Orang yang bertakwa akan mendapatkan lima kebaikan di dunia, dan tiga kebaikan di akhirat, termasuk ampunan dosa dan surga,” jelasnya.

Ia menekankan pendidikan tinggi seharusnya tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter mulia dan empati sosial. Hal ini menjadi fondasi penting dalam mencetak pemimpin yang bertanggung jawab dan berintegritas.

“Ini mengingatkan kita bahwa puasa adalah hadiah Allah untuk tubuh, jiwa, dan akhlak. Mari kita lanjutkan nilai-nilainya di luar Ramadan, dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.



Pewarta:
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026