Logo Header Antaranews Jateng

Seberapa literat pendidik kita?

Jumat, 8 September 2023 10:38 WIB
Image Print
Para guru menyimak penjelasan instruktur mengenai literasi dalam pembelajaran peserta didik. Dok. Tanoto
Pendidik masih menganggap bahwa literasi hanya sekadar membaca buku.

Semarang (ANTARA) - “Anak-anak, pagi ini kita akan melakukan kegiatan literasi pagi dengan membaca buku selama 15 menit ya”. Kalimat yang rutin disampaikan pendidik saat memulai kegiatan 15 menit membaca buku setiap pagi tersebut menjadi hal yang dianggap sekadar rutinitas bagi peserta didik. Tidak jarang juga pendidik hanya berinstruksi tanpa dibarengi dengan aksi.

Kegiatan literasi yang seharusnya dilakukan oleh seluruh warga sekolah masih banyak dinodai dengan tidak konsistennya pendidik dalam membersamai peserta didik.

Kegiatan literasi pagi yang dilakukan di sekolah pun kurang bervariasi. Pendidik masih menganggap bahwa literasi hanya sekadar membaca buku. Padahal sejatinya, literasi bukan sebatas itu. Padmadewi & Artini (2018:1) mengartikan literasi secara luas sebagai kemampuan berbahasa yang mencakup kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis serta kemampuan berpikir yang menjadi elemen di dalamnya.

Untuk itu, diperlukan variasi kegiatan literasi bagi peserta didik. Selain untuk mengurangi kebosanan, variasi kegiatan literasi dapat mendorong kemampuan berpikir peserta didik.

Pendidik yang getol menyuarakan literasi hendaknya dibarengi dengan aksi untuk meningkatkan literasi diri. Hal ini dapat dilakukan dengan meng-upgrade diri dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. Bukan alasan bagi seorang pendidik tidak ada waktu karena sejatinya pendidik juga merupakan pembelajar.

Tidak sedikit pendidik yang terjerumus ke dalam pemberitaan hoaks karena minim kemampuan literasi yang dimiliki. Tidak sedikit juga pendidik yang belum dapat menerapkan keenam literasi dasar yang seharusnya menjadi pondasi dalam membersamai peserta didik. Bahkan, hanya segelintir pendidik yang tahu jika sebenarnya terdapat regulasi dari pemerintah yang memuat tingkatan kompetensi literasi pendidik.

Lantas, apakah kemampuan literasi peserta didik dapat meningkat jika pendidiknya belum bisa memahami dan meningkatkan literasinya sendiri?

Sebagai refleksi bersama pada Hari Literasi Internasional 2023 ini, berapa banyak pendidik yang mau membaca dan menelaah regulasi yang berkaitan dengan tupoksinya. Seberapa banyak pendidik yang mau belajar mandiri tanpa surat penugasan atasan dan berapa banyak pendidik yang benar-benar mau meningkatkan kompetensi literasi peserta didik dengan memberikan teladan dan variasi kegiatan?

Hal ini hendaknya juga menjadi perhatian serius pihak-pihak terkait mengenai bagaimana upaya peningkatan kompetensi literasi pendidik yang bukan hanya dilakukan melalui sosialisasi dan membagikan materi, namun juga bagaimana mendampingi pendidik dalam pelaksanaannya karena sejatinya peningkatan kompetensi literasi peserta didik sangat tergantung dengan kompetensi literasi pendidiknya.


*Diannita Ayu Kurniasih, M.Pd. adalah Kepala SDN 1 Kebumen, Kendal
Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation



Pewarta :
Editor: Achmad Zaenal M
COPYRIGHT © ANTARA 2026