"Innovative urban farming", terobosan ketahanan pangan dunia

id urban farming,dian armanda

"Innovative urban farming",  terobosan ketahanan pangan dunia

Peneliti urban farming dan biologi lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Dian Armanda, M.Si, Ph.D. Cand. ANTARA/dokumentasi pribadi

'Innovative urban farming' cukup ramah lingkungan. Inovasinya membuat aspek perawatan dan sumber daya yang dipakai menjadi minimalis namun dapat menghasilkan panen yang maksimalis.
Semarang (ANTARA) - Meroketnya jumlah kebutuhan pangan masyarakat mulai menjadi masalah besar, bahkan pada tahun 2050 kebutuhan produksi pangan diperkirakan akan meningkat hingga 50 persen daripada tahun 2012.

Demikian data Badan Pangan Dunia FAO pada tahun 2018 yang disampaikan Dian Armanda, M.Si, Ph.D. Cand., peneliti urban farming dan biologi lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam rilisnya, Jumat.

Dian menyebut terdapat 9,7 miliar jiwa penduduk yang harus diberi makan. Sekitar 68 persen di antaranya tinggal di perkotaan. Dengan demikian, diperlukan jumlah pangan yang sangat besar, khususnya bagi masyarakat konsumen perkotaan.

Baca juga: Cegah krisis pangan, warga Kudus optimalkan pemanfaatan pekarangan

Di sisi lain, kata Dian, luasan lahan pertanian konvensional secara global terus tergerus. Ditambah lagi, ledakan jumlah penduduk membuat banyak lahan pertanian beralih fungsi menjadi permukiman.
 
Hal ini jelas makin menekan jumlah produksi pangan yang dihasilkan. Oleh karena itu, kandidat doktor dari Institute of Environmental Science, Leiden University, Belanda ini memandang perlu ada terobosan lain untuk pemenuhan pangan masa depan.

Jika pada tahun 1960—2000 terobosan itu dilakukan dengan intensifikasi masif pertanian melalui revolusi hijau, menurut Dian, saat ini innovative urban farming (pertanian perkotaan inovatif) adalah jawabannya.

Hasil riset Dian dalam jurnal internasional Global Food Security (September, 2019) menunjukkan bahwa urban farming kian menjanjikan.

Hal ini ditinjau dari segi aspek potensi produksi global, keragaman pangan yang dihasilkan, potensi luasan lahan, dan jumlah praktisi yang terlibat.

Riset yang mengambil sejumlah sampel lokasi urban farming komersial di Asia, Amerika, dan Eropa itu memperlihatkan bahwa sistem pertanian perkotaan ini bisa meningkatkan sumber pangan dengan efektif dan  efisien.
 
Ibu tiga anak ini lantas mencontohkan urban farming Aerofarm di kawasan kota New Jersey, Amerika Serikat yang mampu menghasilkan panen sayur hingga 140 kilogram per tahun per meter persegi lahan dengan teknik aeroponik indoor vertikal.

Kapasitas produksinya, kata Dian, bisa mencapai 100 kali lebih banyak daripada pertanian konvensional dengan konsumsi air cuma sepersepuluhnya.
 
Innovative urban farming, menurut dia, cukup ramah lingkungan. Inovasinya membuat aspek perawatan dan sumber daya yang dipakai menjadi minimalis namun dapat menghasilkan panen yang maksimalis.

Sejak 2010, kata Dian, terobosan teknologi innovative urban farming, seperti hidroponik, akuaponik, aeroponik, vertical farming, indoor farming, dan precision farming makin berkembang secara global.

Gaya hidup baru berkebun urban skala hobi maupun rumahan  untuk subsisten (pemenuhan kebutuhan sendiri) makin marak. Demikian pula, dengan kebun urban skala komersial. Banyak bermunculan perusahaan urban farming berupa pabrik sayuran di tengah kota di berbagai belahan dunia.
 
Apalagi pada masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, orang punya banyak waktu di rumah, urban farming terus berkembang menjadi salah satu kegiatan favorit masyarakat.

"Bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia. Ini langkah awal yang bagus untuk menciptakan ketahanan pangan masa depan," kata perempuan kelahiran Yogyakarta ini.


Berkebun Urban

Untuk memperkuat ketahanan pangan tersebut, Dian mengajak masyarakat Indonesia beramai-ramai menjadikan lahan pekarangannya dan ruang-ruang potensial di rumah sebagai kebun urban.

Menurut Dian, hasil panennya bisa dipetik untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Apalagi, mayoritas tanah di Indonesia subur, ditambah lagi sinar matahari dan air pun melimpah sepanjang tahun.

"Beragam tanaman bisa tumbuh di negeri ini. Anugerah Tuhan sebagai negara megabiodiversity," kata Dian.

Sementara itu, di negara subtropis, seperti Amerika dan Eropa, kegiatan bercocok tanam membutuhkan sumber daya yang lebih besar. Tanpa rekayasa teknik, berkebun hanya bisa dilakukan pada musim panas saja. Bahkan, tanaman juga memerlukan perawatan ekstra.
 
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana pengalaman berkebun urban di negara tropis dibandingkan dengan subtropis Amerika dan Eropa, masyarakat dapat mengikuti webinar yang diselenggarakan CitiGrower ini  akan dilaksanakan pada hari Sabtu (17/10) mulai pukul 19.30 via Zoom.

 
Webinar bertajuk "Berkebun Urban di 3 Benua; Sisi Praktis dan Teoretis". ANTARA/HO-CitiGrower
.

Co-founder CitiGrower Agung Bakti menjelaskan bahwa webinar  ini bertujuan untuk ikut mengedukasi masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai benua untuk aktif dalam kegiatan urban farming.
 
"Sebagai narasumber ahli, Dian Armanda akan menyampaikan aspek teoretis serta pengalaman berkebun urbannya di Indonesia dan Eropa," kata Agung.

Narasumber lain, owner Haiqal Garden Syarif Syaifulloh diaspora Indonesia di Philadelphia. Dia akan bercerita bagaimana cara di negara subtropis Amerika.

Webinar ini bersifat gratis dan peserta akan mendapatkan sertifikat. Masyarakat bisa mendaftarkan lewat link https://bit.ly/citigrowerwebinar.

Baca juga: Wujudkan ketahanan pangan, Disperpa Kota Magelang kampanyekan diversifikasi pangan
Baca juga: Waktunya petani harus punya inovasi agar tak merugi
Baca juga: Bernilai jual tinggi, petani didorong kembangkan hortikultura
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar