Tingkatkan minat baca, Jateng dorong replikasi perpustakaan inklusi ke daerah lain

id perpustakaan

Tingkatkan minat baca, Jateng dorong replikasi perpustakaan inklusi ke daerah lain

Ilustrasi - Beberapa anak membaca buku di Perpustakaan Umum Daerah (Perpusda) Kabupaten Semarang, Jateng, Senin (29/6). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Put)

Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong pereplikasian Perpustakaan Aku Cinta Membaca (Kucica) yang berbasis inklusi ke beberapa daerah lain guna meningkatkan minat baca masyarakat.

"Saya berharap perpustakaan lainnya bisa meniru dan mengembangkan seperti Perpustakaan Kucica, mudah-mudahan menjadi contoh yang baik dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, memberikan edukasi, inovasi, dan kreasi kepada masyarakat," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono di Semarang, Senin.

Perpustakaan Kucica didirikan dan dikelola masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, dengan menggunakan alokasi dana desa sehingga saat ini sudah bisa berkembang serta maju.

Perpustakaan Kucica kini memiliki koleksi setidaknya 10 ribu judul buku dan eksemplar, bahkan menjadi nomor satu untuk lomba tingkat provinsi.

"Perpustakaan Kucica ini tidak hanya mendongkrak minat baca, namun juga mendorong geliat ekonomi kreatif masyarakat setempat," ujarnya.

Baca juga: ASN Batang diajak sumbang buku ke perpustakaan

Oleh karena itu, atas nama Pemprov Jateng pihaknya mengapresiasi masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, yang telah mengelola Perpustakaan Kucica menjadi perpustakaan yang lebih maju dan kreatif.

"Perpustakaan ini bukan hanya tempat membaca, namun juga tempat berinovasi dan berkreasi,"
katanya.

Kepala Bidang Pengembangan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng Nugroho menambahkan Perpustakaan Kucica sudah berbasis inklusi yang melibatkan berbagai komunitas masyarakat setempat sehingga turut mengembangkan ekonomi kreatifnya.

"Perpustakaan Kucica sudah berbasis inklusi, tidak hanya untuk pinjam dan baca buku saja, namun juga untuk pusat kegiatan kreatif masyarakat sekitarnya, Jadi di sana sudah melibatkan berbagai komunitas masyarakat, termasuk juga komunitas dalam pengembangan ekonomi kreatif," ujarnya.

Artinya, komunitas itu menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat yang mengakses pengetahuan dalam hal ekonomi dengan berbagai varian bentuk hasilnya.

Baca juga: Kudus wacanakan pembangunan perpustakaan terbuka
Baca juga: Sejarawan: Banyak yang salah sebut "Jas Merah"
Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar