Unicorn berpeluang tumbuh pesat di Tanah Air

id telkom

Unicorn berpeluang tumbuh pesat di Tanah Air

Rektor Institut Teknologi Telkom Purwokerto, Ali Rokhman (wuryanti puspitasari) (wuryanti puspitasari/)

Purwokerto (Antaranews Jateng) - perusahaan rintisan (startup) yang sudah memiliki valuasi nilai hingga satu miliar dolar AS atau dikenal dengan istilah unicorn berpeluang tumbuh pesat di tanah air, kata Rektor Institut Teknologi Telkom Purwokerto Ali Rokhman.

"Unicorn sangat mungkin tumbuh dengan pesat, agar jumlah unicorn terus bertambah maka perlu diciptakan iklim yang baik," katanya di Purwokerto, Kamis.

Dia mengatakan, tugas utama pemerintah adalah membuat kebijakan-kebijakan yang dapat mendukung anak muda membangun perusahaan rintisan.

Pada era disrupsi seperti sekarang ini, kata dia, perusahaan rintisan merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan zaman.

Dampak perusahaan rintisan yang digagas anak-anak muda, tambah dia, sangat positif.

"Saya sangat yakin akan berkembang pesat apalagi kreatifitas anak Indonesia sangat baik. Dari sisi teknologi kita tidak kalah dari negara lain. Tinggal bagaimana mereka diberi juga bekal visi bisnisnya," katanya.

Dia mengatakan, Institut Teknologi Telkom Purwokerto juga memiliki program studi software engineering.

"Salah satu output dari prodi adalah mahasiswa bisa menciptakan startup dan lain sebagainya, dan pada saat ini prodi ini telah mendapat akreditasi B," katanya.

Melalui prodi tersebut, kata dia, pihaknya ingin menciptakan lulusan yang berdaya saing khususnya di era teknologi seperti saat ini.

Sementara itu, dari tujuh "unicorn" yang berada di kawasan Asia Tenggara, empat berasal di Indonesia yaitu GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak.

"Unicorn" bukan satu-satunya istilah untuk menunjukkan golongan sebuah perusahaan rintisan, karena kini juga dikenal "decacorn" dan "hectocorn".

"Decacorn" digunakan untuk menyebut perusahaan rintisan yang memiliki nilai valuasi 10 miliar dolar AS, sementara "hectocorn" sebesar 100 miliar dolar AS.

Pewarta :
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar