Menebar kebersamaan dari Dusun Wonokerso untuk Indonesia

id menebar kebersamaan,dusun wonokerso

Menebar kebersamaan dari Dusun Wonokerso untuk Indonesia

Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Allisa Wahid memotong tumpeng kebersamaan dalam Festival Think di Dusun Wonokerso, Desa Tirtosari, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang. (Heru Suyitno)

Magelang (Antaranews Jateng) - Suara musik keroncong menggema dari halaman Gereja Santo Yusup di Dusun Wonokerso, Desa Tirtasari, Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, usai kaum muslim di derah tersebut melaksanakan shalat tarawih pada Sabtu (19/5) malam.

Bukan hanya musik keroncong yang dipentaskan dalam "Festival Think" dengan tema "Ada Hadir dan Berbagi" tersebut, tetapi juga musik terbang atau rebana dan juga kesenian lainnya ikut memeriahkan kegiatan tahunan Orang Muda Katolik (OMK) di gereja tersebut.

Festival yang berlangsung sejak sore hari tersebut, saat waktu Maghrib dan juga waktu Isyak dilanjutkan shalat tarawih kegiatan hiburan dihentikan untuk menghormati umat Islam menjalankan shalat dan bagi umat Katolik diarahkan mengikuti misa di dalam gereja. 

Lampu-lampu hias di dalam keranjang kecil yang terbuat dari bambu berjajar di di kanan-kiri jalan menyambut para tamu yang hadir untuk menyaksikan festival tersebut.

Puluhan anggota Banser dan aparat kepolisian berjaga di titik-titik persimpangan menuju lokasi festival. Ratusan warga memenuhi halaman gereja menikmati hiburan sambil menikmati minuman dan juga jajanan gratis yang disedikan panitia.

Festival yang dihadiri Uskup Agung Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Allisa Wahid ini terasa bertambah hidup dengan hiasan lentera yang berjajar di bagian depan panggung dan juga lampu-lampu renteng dari beberapa titik di depan panggung menuju suatu puncak dengan hiasan burung Garuda.    
Rubiyatmoko menuturkan sungguh terasa sejuk dan damai memasuki Dusun Wonokerso yang masyarakatnya hidup berdampingan dan saling membantu meskipun dengan latar belakang agama yang berbeda.

Ia mengatakan pengalaman dari festival ini diharapkan bisa terjadi di masyarakat lainnya, ketika berkumpul orang dari mana saja dengan latar belakang yang beragam disatukan visi dan misinya untuk membawa damai bagi masyarakat Indonesia.

Kegembiraan, suka cita, bahagia dengan sekian banyak teman yang berbeda-beda ini mudah-mudahan menjadi kekuatan untuk kemudian dibagikan kepada orang lain bahwa kebersamaan ini sesuatu yang sangat berharga, hidup bersama dalam damai itu sungguh menggembirakan bagi semua.

"Saya senang sekali bahwa masyarakat di Wonokerso ini mempunyai tradisi kebersamaan yang sangat bagus, gereja dengan masjid berdampingan, umat juga hidup bersama dengan baik dalam damai, saling membantu, dan saling menolong," katanya.        Hal ini merupakan salah satu teladan yang sangat hebat yang bisa dipetik, ditularkan, dan dikembangkan dalam kehidupan bersama.

Ia berharap kebersamaan ini bisa dibagikan kepada siapa pun yang dijumpai. Uskup Agung Semarang ini mengajak para hedirin untuk melihat di puncak hiasan lampu di depan panggung ada burung Garuda dengan Pancasilanya menjadi indah dan  menarik karena warna-warni lampu yang ada di sana.

"Saya menangkap sebuah simbol yang sangat bagus, dari Garuda Pancasila yang menjadi nilai-nilai kebangsaan kita yang selama ini memang kita kembangkan, harapannya bisa kita tularkan, sebarkan melalui cahaya-cahaya kehidupan kita sampai ke ujung dunia atau paling tidak ke ujung bangsa kita Indoneisa," katanya. 

Festival Think ini menjadi peristiwa yang mungkin kecil dibandingkan dengan seluruh wilayah Indonesiai, namun dari yang kecil ini dia berharap ada gema yang menyejukkan, menyegarkan, dan gema yang mengajak semua masyarakat untuk hidup dalam kebersamaan dan mewartakan damai sehingga semua orang mengalami suka cita hidup bersama.

Menurut pengalaman, katanya hidup bersama dalam damai ini hanya akan terwujud ketika praduga, prasangka, iri hati, dengki, kecemburuan itu tidak ada.

"Kita bisa hidup damai tenteram bukan semata-mata dijaga oleh kepolisian maupun Banser, bukan ini yang utama. Kedamaian, ketenangan hati, suka cita, terutama muncul dari dalam diri kita sendiri, maka inilah yang dikembangkan bagaimana sikap hati yang 'adem', 'ayem' dalam pergaulan dengan orang lain," katanya.

Teladan Wonokerso ini kiranya bisa dipakai untuk selalu berpikir mengenai kebersamaan. Masyarakat wonokerso hidup berdampingan sekian lama dan dari waktu ke waktu bergulat untuk membangun kesejahteraan dan membangun kebersamaan.

"Mudah-mudahan kita yang berkumpul ini dikuatkan untuk membangun visi dan misi yang sama, yakni membangun kebersamaan meskipun kita berbeda. Mudah-mudahan dari Wonokerso ini terpancar damai, suka cita, dan kehidupan bersama bagi masyarakat luas," katanya.

Agar sampai ke tujuan tersebut, nilai-nilai Pancasila seperti kebhinnekatunggalikaan, persatuan bangsa mesti dikembangkan terus menerus. Nilai-nilai Pancasila yang menjadi warisan para pendiri bangsa ini sungguh menjadi kekuatan untuk keutuhan dan kelangsungan bangsa Indonesia.

"Kami berharap pengalaman kebersamaan ini, pengalaman kedamaian ini menjadi kekuatan bagi kita untuk membagikan kepada masyarakat di sekitar kita, dengan cara itulah akan bisa menangkis berbagai hal yang menimbulkan keresahan, perpecahan, dan konflik di antara kita. Mari kita memohon agar semakin dikuatkan untuk membawa damai dari tempat ini ke tempat kita masing-masing sampai ke ujung dunia," katanya.   

Mengobati Luka Hati
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Allisa Wahid mengatakan Festival Think sebenarnya sudah dipersiapkan cukup lama, jauh hari sebelum peristiwa bom Surabaya.

"Melalui kegiatan ini luka hati saya sedikit terobati oleh saudara-saudara di sini, karena sejak hari Minggu lalu saya yakin bukan hanya hati saya sendiri yang terluka, pasti banyak di antara bapak ibu atau bahkan semua ikut terluka dengan apa yang terjadi di Surabaya dan beberapa kota yang lain," katanya.

Ia mengatakan malam hari ini warga Wonokerso menjadi pengobat luka hati bangsa.

"Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Wonokerso atas pelajaran yang berharga ini. Ini sejatinya Indonesia, Indonesia itu bukan kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, saling membenci," katanya.

Ia menuturkan Indonesia itu bersama-sama, bekerja sama, saling menjaga satu sama lain, berjuang bersama, untuk kemajuan bersama.

"Saya tahu, kerja yang dilakukan oleh teman-teman dari Gereja Katolik ini tidak sendirian, ada teman-teman lain yang membantu. Saya ingin mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi warga muslim di Wonokerso. Kegiatan tahunan ini kebetulan jatuhnya di bulan Ramadhan dan ternyata warga Wonokerso yang lain mendukung dan terlibat dalam acara ini," katanya.

Ia mengatakan warga muslim di Wonokerso ini menunjukkan pada warga muslim di Indonesia yang lain bahwa ini caranya hidup bersama sebagai saudara sebangsa.

Indonesia adalah hasil kesepakatan dari berbagai suku yang berbeda, kelompok yang berbeda, agama yang berbeda, pulau yang berbeda pada saat memutuskan untuk merdeka menjadi satu bangsa.
 
"Alasan adanya Indonesia adalah keberagaman. Pada tahun 1945 para pendiri bangsa ini menyadari bahwa kita berbeda-beda tetapi ingin bersatu maka dipilihlah Indonesia sebagai suatu gagasan yang menyatukan. Kalau diambil keberagamannya sama saja membubarkan Indonesia," katanya.

Ia menuturkan harus diakui Indonesia banyak tantangan, tidak hidup secara romantis saja. Saat ini tantangan utama adalah tumbuhnya sikap mendahulukan kelompok sendiri, enggan bergaul dengan kelompok yang berbeda, karena ingin eksklusif.

Mungkin karena belum sepenuhnya makmur sentosa, maka ada kelompok-kelompok yang merasa harus memperjuangkannya.
 
"Tantangan kita adalah dorongan dari beberapa kelompok untuk hidup terpisah-pisah, untuk memikirkan kepentingannya sendiri," katanya.

Para pendiri bangsa ini ketika membicarakan tentang kemerdekaan mereka tidak tiba-tiba membuat pernyataan merdeka, mereka juga berusaha memikirkan bangsa merdeka seperti apa yang ingin diwujudkan, karakter bangsa seperti apa, yang kemudian terumuskan dengan nilai-nilai Pancasila.
 
"Kita ingin bangsa ini hidup dengan nilai-nilai ketuhanan, menjadi manusia yang beradab, manusia yang adil, kita ingin manusia Idonesia itu hidup dengan semangat gotong-royong dan musyawarah, tidak ingin menang sendiri tetapi memikirkan nasib bersama, kita ingin bisa hidup makmur bersama, kita masih banyak PR untuk semua itu dan semua dilakukan dengan semangat persatuan Indonesia.
 
Ia mengatakan bagaimana memikirkan masa depan dengan langkah menguatkan kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial dan hal itu tidak bisa diselesaikan dalam acara seperti ini. Acara ini adalah ruang untuk berkumpul untuk menyatukan semangat, tetapi kerjanya setelah ini dalam kehidupan sehari-hari.

"Tugas saya hanya mengingatkan kembali bahwa kita punya cita-cita bersama, bahwa kita punya ruang kerja masing-masing. Luar biasa bagi warga Wonokerso, anda adalah kabar baik bagi Indonesia dan anda adalah kabar baik bagi dunia bahwa dunia damai dan adil masih sangat bisa kita hidupkan," katanya. 
 
Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar