Logo Header Antaranews Jateng

Pedagang Pasar Piji Kudus Keluhkan Penurunan Omzet

Kamis, 20 Juli 2017 15:21 WIB
Image Print
Bangunan Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tampak megah, namun belum bisa ditempati pedagang. (Foto: ANTARAJATENG.COM/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Kudus, ANTARA JATENG - Sejumlah pedagang pasar tradisional di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengeluhkan penurunan omzet penjualannya menyusul lokasi jualannya diserbu pedagang dadakan.

"Pedagang dadakan tersebut memadati tepi jalan raya, sehingga menghalangi pandangan pengunjung terhadap lokasi penampungan sementara pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus," kata salah satu pedagang Pasar Piji yang berada di penampungan sementara Alam Taufiq di Kudus, Kamis.

Akibatnya, lanjut dia, membuat pengunjung enggan masuk ke lokasi penampungan pedagang karena mereka lebih memilih transaksi di tepi jalan.

Ia memastikan, pedagang yang berjualan di tepi jalan raya tersebut bukanlah pedagang yang memiliki kios atau los jualan di Pasar Piji.

Jumlah pedagang di Pasr Piji totalnya sebanyak 1.187 pedagang, meliputi pedagang yang masih mengantongi izin pendasaran sebanyak 315 pedagang, selebihnya belum diketahui apakah masih menyimpan surat tersebut atau kiosnya dilimpahkan sanak keluarganya.

"Jika ditambahkan dengan pedagang dadakan, maka ada penambahan 430 pedagang, sehingga menjadi 1.617 pedagang," ujarnya.

Pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Piji dan mengantongi izin pendasaran, katanya, berjualan sesuai lokasi yang disediakan Pemkab Kudus sebagai lokasi sementara di Lapangan Desa Piji, Kecamatan Dawe.

Beberapa pedagang, lanjut Alam yang berjualan sandal, ada yang menyewa kios di lokasi terdekat, mengingat lokasi yang digunakan berjualan sementara saat hujan becek dan barang dagangannya juga rawan rusak.

Meskipun sudah ada upaya dari pedagang yang sebelumnya berjualan di Pasar Piji melaporkan permasalahan tersebut ke Satuan Polisi Pamong Praja setempat, namun tidak ada tindakan.

Omzet penjualan sebelum pindah ke lokasi penampungan, kata dia, mencapai Rp1 juta lebih per harinya, kini menurun hanya Rp200-an ribu per harinya.




Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026