Logo Header Antaranews Jateng

Jateng Media Summit 2026 rumuskan peta jalan di era disrupsi digital

Jumat, 22 Mei 2026 02:13 WIB
Image Print
Pembukaan Jateng Media Summit 2026 yang dihadiri para pengelola media lokal di Jawa Tengah. (ANTARA/HO-Pribadi)

Semarang (ANTARA) - Ratusan pengelola media lokal dari berbagai penjuru Jawa Tengah berkumpul pada perhelatan "Jateng Media Summit (JMS) 2026" untuk merumuskan peta jalan baru media di era disrupsi digital.

Ketua Panitia JMS 2026, sekaligus CEO Beritajateng.tv Nur Kholis, di Semarang, Kamis, menyebutkan bahwa peserta yang hadir mencapai lebih dari 100 orang, berasal dari Semarang, Kudus, Solo, Banyumas, hingga wilayah Pantura Jawa.

Menariknya, sekitar 30 persen peserta merupakan pengelola "homeless media", entitas media baru yang beroperasi secara lincah di ranah digital.

Mengusung tema besar "Peta Jalan Baru Media Lokal Jawa Tengah", kata dia, forum itu menjadi ajang konsolidasi krusial bagi industri pers di tingkat daerah untuk merespons cepatnya perubahan lansekap media digital dan tantangan disrupsi teknologi.

Ia menjelaskan JMS 2026 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan setelah sebelumnya dibuka dengan bimbingan teknis pengelolaan website pemerintah daerah.

Inisiator acara, sekaligus CEO PT Arkadia Digital Media Tbk dan Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono menekankan bahwa model bisnis media konvensional telah berubah total dan memerlukan antisipasi segera.

"Kalau tidak kita antisipasi sekarang, kita perlu ngobrol Peta Jalan Baru Media Lokal Jawa Tengah. Kita kalau tidak segera melakukan cara-cara baru atau model-model baru, bisa tenggelam," katanya.

Ia menggambarkan masa depan media ketika konten akan disajikan secara otomatis kepada audiens sejak bangun hingga tidur yang menuntut media lokal untuk membuka diri dan beradaptasi dengan cepat.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menyampaikan apresiasi tinggi atas kontribusi media dalam pembangunan daerah.

Ia secara khusus menyoroti peran media dalam pencapaian Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jateng yang baru saja meraih penghargaan sebagai peringkat ketiga nasional.

Namun, ia juga memberikan catatan kritis bagi media lokal, dengan meminta agar fungsi kontrol sosial media lebih dipertajam, terutama dalam menyoroti dampak nyata pertumbuhan ekonomi terhadap kesejahteraan masyarakat di akar rumput.

"Ekonomi yang tumbuh di Jateng dampaknya seberapa besar untuk masyarakat? Ini perlu disorot lagi oleh media-media. Sehingga apa kebutuhan masyarakat, kami dapat kritikan, dan dapat memberikan kebijakan yang menyejahterakan masyarakat," katanya.

Terkait tantangan disrupsi digital, sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu menyoroti fenomena menurunnya minat terhadap media mainstream yang kalah bersaing dengan konten video dan "homeless media" (media berbasis platform digital).

"Media-media mainstream sekarang kurang diminati ya, karena minat baca juga berkurang dan bergeser ke video. Kita lihat fenomena sekarang, informasi yang dinaikkan di media mainstream yang dilihat tidak setinggi di homeless media atau media sosial," katanya.

Untuk itu, ia mendorong media mainstream untuk segera berinovasi dan melakukan terobosan dengan melibatkan generasi muda dalam proses produksi konten.



Pewarta:
Editor: Teguh Imam Wibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2026